Published On: Wed, Aug 16th, 2017

Ospek Mahasiswa, dari, oleh, dan untuk Siapa?

Ilustrasi: okezone.com

Oleh: Moh. Thorvy Qalbi*

Media Publica – Agustus merupakan bulan bagi para benih berlian ilmuwan muda yang telah berhasil melewati masa indah siswa menjadi mahasiswa. Siswa menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar pergantian identitas yang dapat ditempuh dalam semalam, “katanya”. Namun siswa polos harus berhadapan terlebih dahulu dengan masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). Ajang pengenalan yang cukup menakutkan karena senioritas, merendahkan mahasiswa baru dan berbagai aktivitas perpeloncoan, “katanya”.

Kegiatan Ospek pertama kali dilakukan oleh Universitas Cambridge, Inggris. Mayoritas mahasiswa universitas tersebut merupakan anak dari keluarga terhormat, sehingga sulit untuk diatur dan cenderung bertindak seenaknya. Merasa memiliki kekuatan, para senior membuat aturan setiap mahasiswa baru harus diplonco. Tujuannya agar para junior hormat.

Sedangkan di Indonesia, Ospek sudah ada sejak Zaman Kolonial, tepatnya di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Pada masa itu, mereka yang baru masuk harus menjadi “anak buah” si kakak kelas itu seperti membersihkan ruangan senior. Hal tersebut berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942).1

Pada masa GHS, kegiatan itu menjadi lebih formal. Istilah yang digunakan pada saat itu adalah ontgroening atau “membuat tidak hijau lagi”, suatu proses untuk mendewasakan anak baru. Pemandangan tersebut nampaknya masih juga berlaku hingga saat ini.

Fenomena Ospek selalu penuh pro dan kontra, baru-baru ini terdapat tulisan mengenai penolakan terhadap manifesto Ospek yang ditulis oleh salah satu mahasiswa FISIP UI. Ia menyatakan untuk menolak seratus persen akan Ospek yang dianggapnya sebagai ladang penindasan dan kekerasan fisik maupun non fisik oleh senior kepada juniornya.

Sedangkan disatu sisi, kembali terbit tulisan serangan balik oleh salah satu mahasiswa yang sama jurusan dan kampus namun berbeda angkatan. Tulisan yang berjudul Pertentangan diantara Budak ‘Idealisme’ Fana Dibalik Dalih Arah Pendewasaan menganggap senioritas dalam Ospek merupakan pembelajaran yang baik sebelum masuk dunia kerja.

“Dalam realita hidup di Indonesia faktanya ketika kita masuk di ruang baru atau lingkungan yang baru kita tidak bisa langsung dianggap setara dengan yang lebih dulu, pastinya kita pun akan melalui fase menjadi junior di tempat kerja,” begitulah salah satu kutipannya.

Dibalik pro dan kontra atau bahkan keinginan menghilangkan kegiatan Ospek, banyak hal yang harus diperhatikan agar kita dapat mengerti esensi dari, oleh dan untuk siapa Ospek diadakan.

Pertama, pada hakikatnya mahasiswa merupakan segelintir benih manusia terbaik yang akan membawa perubahan di lingkungannya bahkan negara. Perubahan ditingkat moral, ekonomi, kreativitas, dan sebagainya serta menjadi panutan bagi anak-anak yang kelak akan meneruskan perjuangan. Sebagai benih-benih yang yang akan membawa perubahan dalam lingkungan sosial bahkan negara, Ospek akan menjadi pintu awal yang sangat menentukan karakter mahasiswa baru itu.

Kedua, perlu diingat bahwa Ospek sebagai salah satu pendidikan pertama yang diberikan kampus terhadap mahasiswa baru. Ospek bukan hanya pengenalan fisik kampus, struktur kepengurusan, dan nama-nama dosen semata, melainkan tempat mahasiswa baru belajar untuk lebih dewasa dalam pola pikir, mendisiplinkan diri, dan tingkah laku di masyarakat kelak.

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” Tan Malaka.

Jika budaya perpeloncoan, intimidasi, dan kekerasan baik fisik maupun non fisik dalam Ospek terus diterapkan hingga kini. Hal ini berdampak kepada lulusan perguruan tinggi yang memungkinan akan menurunkan budaya tersebut terhadap strata terbawah dalam lingkungan sosialnya kelak.

Agar budaya buruk Ospek dapat berhenti dan tidak diturunkan kepada generasi muda selanjutnya, maka harus ada sinergi antara pihak penyelenggara (Universitas) dan mahasiswa baik dalam lingkungan kelembagaan maupun mahasiswa umum. Kenapa harus seperti itu? Jika hanya satu pihak saja yang menjalankan kegiatan Ospek ini, maka mahasiswa baru hanya akan menjadi korban dari budaya kampus yang salah.

Ketika Ospek dikendalikan penuh oleh pihak penyelenggara dengan tidak mengikut-sertakan anggota dari lembaga kemahasiswaan kampusnya, hanya akan menyebabkan minat mahasiswa terhadap lembaga mahasiswa akan rendah.

Lembaga mahasiswa merupakan tempat mahasiswa untuk dapat menuangkan kreativitas, belajar menjalin relasi, cara memecahkan masalah, berdisiplin, bertanggung jawab, dan berbagai pengalaman yang dapat menunjang kehidupan di masyarakat kelak. Cukup disayangkan jika mahasiswa baru tidak mau terjun kedalam lembaga mahasiswa.

Sedangkan ketika Ospek dikendalikan penuh oleh mahasiswa, maka budaya buruk akan Ospek yang di dalamnya terdapat kekerasan, intimidasi, dan sebagainya itu akan terus diturunkan. Mahasiswa baru akan mengaggap dirinya rendah ketika berhadapan dengan seniornya, tidak percaya diri, dan hanya bermental budak dan memperbudak yang lemah.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Tan Malaka.

Mahasiswa tidak perlu berunjuk rasa di depan kampus untuk mengambil alih kegiatan Ospek. Semuanya sudah jelas dan tercantum dalam Surat Edaran Ristekdikti Nomor: 253/B/SE/VIII/2016 yang menyatakan bahwa kegiatan masa orientasi adalah program institusi, bukan milik mahasiswa.4 Namun perlu diingat bahwa di dalam Surat Keputusan Ristekdikti Nomor: 116/B1/SK/2016 Bab VI tentang Organisasi Kepanitiaan poin C, kegiatan Ospek harus mengikut-sertakan mahasiswa.5 Oleh karena itu, kedua pihak harus saling menurunkan ego dan saling mempercayai dalam sebuah kolaborasi.

Ospek bukanlah kegiatan sebagai syarat merubah siswa menjadi mahasiswa. Ospek lebih rumit dari itu semua. Ospek adalah kegiatan dari kampus, oleh kampus serta mahasiswa, dan untuk kemajuan negeri.

*Penulis merupakan Pemimpin Umum Media Publica periode 2016-2017.