Jakarta, Media Publica – Berbagai kisah mahasiswa dan mahasiswi yang gagal mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)). Bak nasi sudah menjadi bubur, mereka yang gagal mendapatkan kuota beasiswa tidak ada pilihan selain tetap melanjutkan perkuliahan. Banyak peserta KIP yang gagal dan merasa cukup terbebani dengan jumlah Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dilunasi. 

Pada awalnya, mereka memilih untuk berkuliah di kampus UPDM (B) karena skema beasiswa yang dijanjikan oleh pihak kampus, skema ini mencakup bantuan berupa biaya kuliah dan uang saku. Beasiswa ini menjadi angin segar bagi mereka karena tidak perlu khawatir mengeluarkan sejumlah biaya untuk berkuliah. Tentu, skema beasiswa dapat sangat membantu bagi mereka yang tak mampu membayar biaya perkuliahan.

T salah satu mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UPDM (B) yang tidak ingin disebutkan namanya. Saat ini T menduduki semester empat, ia gagal mendapatkan beasiswa KIP kuliah. T bercerita kepada Media Publica bahwa pihak UPDM (B) telah menawarkan bantuan bagi mereka yang tidak mendapat kuota KIP melalui beasiswa potongan UKT.

Sehingga nantinya, dari total tagihan Rp10.100.000 pihak universitas memberikan potongan biaya sebesar Rp4.100.000 serta beasiswa dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LDDIKTI) sebesar Rp2.400.000 namun beasiswa LDDIKTI tersebut digunakan untuk melunasi tunggakan UKT di tiga semester sebelumnya, sedangkan jumlah tunggakan mencapai Rp11.700.000.

Berdasarkan cerita T, tunggakan tersebut baru akan selesai saat T menduduki semester tujuh. Dengan skema tersebut, T masih harus membayar UKT sebesar Rp6.000.000 per semesternya dengan dicicil Rp1.000.000 per bulan selama tiga semester ke depan. Namun, dengan jumlah itu, T tetap merasa berat sebab orang tua T yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga pemasukan yang tak menentu.

“Walaupun bisa dicicil tiap bulan, tetapi duitnya enggak ada, jadi harus di ada-adain buat bisa bayar UKT,” ungkap T dengan suara lirih sembari menahan air mata, saat ditemui oleh Media Publica, Selasa (5/3).

Pilih Bekerja, Walaupun Gaji Tidak Seberapa

Walaupun sudah mendapatkan keringanan dari pihak UPDM (B), T mengaku masih keberatan dengan biaya UKT Rp6.000.000 per semester, jumlah itu masih besar baginya, sebab T bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Ayah T menderita penyakit diabetes dan komplikasi sehingga diberhentikan dari tempat kerja karena tak dapat bekerja secara normal. Dengan kondisi itu ayah T menjalani pengobatan cuci darah di rumah sakit sebanyak dua kali per minggu.

Selain itu, Ibu T sebagai pengganti tulang punggung keluarga bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah pondok pesantren di dekat rumahnya. T tak lantas berdiam diri dirumah, ia turut membantu menambah penghasilan dengan bekerja dari rumah sebagai pembungkus sendok untuk usaha rumah makan milik tetangganya dengan upah Rp10 perak per bungkusnya, setidaknya untuk mendapat Rp100.000 ia harus membungkus 10.000 sendok.

Potret T saat sedang membungkus sendok di rumah tetangganya (Foto: Redaksi Media Publica)

Bilamana jam perkuliahan telah usai, T biasanya langsung pulang untuk lanjut bekerja. Pekerjaan yang digeluti T tidak menentu, ia sangat bergantung dari permintaan yang ada. Dalam sehari, biasanya T hanya berhasil membungkus 1.000 sendok, setidaknya T harus membungkus 9.000 sendok lagi dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu, kemudian baru uang tersebut bisa ia terima.

Uang tersebut ia gunakan untuk menambah pembayaran UKT supaya tidak terlalu memberatkan Ibunya. Rumah T berlokasi di Bekasi, untuk menuju kampus setiap harinya T menempuh perjalanan menggunakan transportasi umum, mulai dari angkutan kota hingga transjakarta. Bagi T, pengeluaran paling besar berasal dari biaya transportasi. Untuk menghemat pengeluaran saat berkuliah T membawa bekal setiap hari agar tak perlu jajan.

T bercerita bahwa ia sangat takut tidak bisa melunasi UKT di semester empat, karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Maka ia hanya dapat berharap agar dosen-dosen yang jarang mengajar dan kerap membatalkan jadwal perkuliahan secara mendadak dapat menghargai usaha mahasiswa yang memang serius untuk belajar, walaupun harus berjumpalitan bayar kuliah. 

Hal serupa dialami mahasiswi Fikom UPDM (B) berinisial N, UKT jadi bayang-bayang N setiap harinya karena beban yang ia tanggung. N merupakan anak pertama dari dua bersaudara, Ayahnya tak punya pekerjaan tetap, sehari-hari Ayah N menjadi ojek langganan tetangganya dengan upah Rp500.000 per bulannya, dengan bermodalkan keikhlasan Ayah N bekerja sampingan sebagai marbut masjid dengan gaji yang tidak menentu. 

“Kadang dikasih (bayaran), kadang enggak dikasih, paling sembako, ya, lumayan kebantu di situ,” ungkap N berusaha menjelaskan dengan suara gemetar, saat ditemui oleh Media Publica, Selasa (5/3).

Potret N pada saat berjualan cimol dan kentang di pinggir jalan (Foto: Redaksi Media Publica)

Keadaan ekonomi yang kurang baik, mengharuskan N menyambung hidup dengan bekerja sebagai penjual cimol dan kentang milik tetangganya. N bekerja setelah pulang kuliah pada pukul 3 sore hingga pukul 10 malam. Sepulang berjualan, N masih harus berbelanja bahan baku cimol dan kentang, kemudian dilanjut dengan membuat adonan cimol untuk berjualan keesokan hari.

Karena pekerjaan tersebut jam tidur N menjadi lebih singkat, N sering menahan kantuk dan acap tertidur di transportasi umum saat berangkat kuliah. Dengan pekerjaan tersebut N diberi upah sebesar Rp200.000 per minggunya atau paling lambat sepuluh hari tergantung dari omzet penjualan setiap harinya. Apabila sepi pembeli, N terancam mendapatkan upah di bawah Rp.200.000.

Untuk meringankan beban orang tua, N kerap kali ditawarkan organisasi setempat untuk membuat desain sebuah poster ketika terdapat acara tertentu di lingkungan rumahnya. Walaupun tak seberapa, namun N merasa bersyukur bisa menambah penghasilan sampingan dari usahanya sendiri. 

“Kadang dapat uang enggak menentu, waktu itu lima puluh ribu, terus terkadang dibeliin kuotanya aja,” tutur N.

Dengan kondisi ini, N bercerita bahwa ponsel genggam yang ia pakai masih berstatus kredit. Ponsel sebelumnya telah ia berikan kepada Adiknya yang masih di bangku Sekolah Menengah Pertama karena ponsel milik Adiknya sudah tidak layak pakai. Dengan total pinjaman kurang lebih Rp1.000.000, setidaknya N harus menyetorkan uang Rp300.000 per bulannya untuk melunasi kredit tersebut, dengan jangka waktu selama satu tahun.

N juga berharap di kemudian hari, janji manis yang berbuah pahit tidak akan terulang lagi, sebab N khawatir jika saat ini saja bisa terjadi maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal serupa di kemudian hari. Terutama saat semester delapan, apabila hal serupa terjadi tentu akan menjadi beban baru bagi N dan mahasiswa lainnya yang mengalami kondisi serupa.

Cerita T dan N hanya segelintir representasi nyata bahwa biaya kuliah masih tergolong berat bagi mahasiswa. Banyak dari mereka yang berjuang lebih keras demi mendapat pendidikan yang layak dan gelar sarjana. Walaupun demikian, mereka bertekad untuk menyelesaikan studi dengan harapan kerja keras mereka akan membuahkan hasil manis. 

Reporter: Saniyyah

Editor: Zulfa Saniyyah Anwar

 406 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.