Perayaan WWD 2014 oleh United Nations. (Sumber : UNwater.org)
Perayaan WWD 2014 oleh United Nations.
(Sumber : UNwater.org)
Jakarta, Media Publica – Hari Perayaan Air Sedunia, banyak diramaikan oleh berbagai Negara, seperti Indonesia dimana masyarakatnya masih mengalami kesulitan air. Data dari Indonesia Urban Water, Sanitation, dan Hygiene (IUWASH), menyebutkan pada tahun 2009, baru 49,82 persen proporsi rumah tangga yang memiliki akses ke air bersih.

Padahal dalam buku Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) Indonesia 2010 – 2015 yang diterbitkan Bappenas, memiliki sasaran sebanyak 75,29 persen. Rendahnya akses ke penyediaan air minum yang lebih baik menunjukkan rendahnya perkembangan infrastruktur air minum, khususnya di wilayah perkotaan. Sekitar dari 4,2 persen air di Pulau Jawa, menghidupi sekitar 57,5 persen penduduk Indonesia. Sedangkan 1,3 persen air di Bali dan Nusa Tenggara untuk 5,5 persen penduduk Nusantara.

Pendidikan formal mengajarkan pada kita bahwa air adalah benda tangible yang bisa dinikmati manusia secara bebas. Seperti layaknya manusia menerima pancaran sinar mentari atau bulan. Namun, dalam hari perayaan Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret, melihat kembali kondisi sungai yang telah tercemar berbagai sampah dan mengakibatkan banjir melanda tiap tahunnya bukan lagi musibah lima tahunan.

Seperti halnya dengan Sungai Citarum. Dulunya sungai ini memiliki air jernih yang mengalir perlahan dan dijadikan tempat para nelayan menebar jala untuk mencari ikan mengais penghasilan. Citarum juga memiliki pemandangan elok dimana banyak burung-burung yang mencari makan dari sungai ini selain itu, air citarum juga digunakan oleh warga untuk irigasi.

Kini keelokan sungai Citarum sudah tidak terlihat, melainkan hanya ada tumpukan limbah rumah tangga dan juga hasil pembuangan pabrik yang mengaliri area sungai tersebut. Walaupun demikian warga setempat tetap melakukan aktivitas di sekitaran sungai dan memanfaatkan air sungai untuk pengairan sawah, mencuci baju, hingga kebutuhan memasak.

22 Maret mengajak kita untuk seraya melestarikan air yang semakin tercemar ini, dampak yang dialami akan merugikan masyarakat luas, disiplin dalam menjaga lingkungan adalah cerminan dari bangsa yang kooperatif untuk menahan Ibu kota yang rentan terhadap banjir tahunan ini.

Editor : Rati Prasasti
Sumber: www.vovworld.vn

1,035 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.