Published On: Tue, May 9th, 2017

World Press Freedom Day 2017: “Pikiran Kritis untuk Waktu Kritis”

Salah satu kegiatan konferensi yang diselenggarakan dalam acara World Press Freedom Day 2017. Dihadiri oleh para pegiat media, yakni Yuli Ismartono sebagai moderator, Rohan Jayaserka (kiri), Cathy Wilcox (tengah), dan Agung Yudha (kanan). Acara ini bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta (3/5). (Foto: Media Publica/Rangga Dipa Yakti).

Salah satu kegiatan konferensi yang diselenggarakan dalam acara World Press Freedom Day 2017. Dihadiri oleh para pegiat media, yakni Yuli Ismartono sebagai moderator, Rohan Jayaserka (kiri), Cathy Wilcox (tengah), dan Agung Yudha (kanan). Acara ini bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta (3/5). (Foto: Media Publica/Rangga Dipa Yakti).

Jakarta, Media Publica — Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara hari kebebasan pers sedunia tahun 2017 yang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Acara ini merupakan sebuah kegiatan tahunan untuk memperingati hari kebebasan pers sedunia. Pada tahun ini, Dewan Pers dan pemerintahan Indonesia bekerjasama dengan salah satu organ Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang memerhatikan kebudayaan dan pendidikan, yakni UNESCO dalam menyelenggarakan kegiatan ini sebagai bentuk edukasi kepada wartawan dan masyarakat umum.

Penyelenggaraan acara World Press Freedom Day di Indonesia tak lepas dari tahapan yang serius dan signifikan. Hal ini diakui oleh Ahmad Djauhar, selaku Wakil Ketua Dewan Pers serta panitia pelaksana dari acara yang mengambil topik Critical Minds for Critical Times tersebut.

“Pemilihan negara itu ditentukan oleh panel UNESCO di Paris. Jadi, Indonesia dipilih kurang lebih karena Indonesia sudah dianggap berhasil melaksanakan kebebasan pers atau kemerdekaan pers.  Demokrasinya sudah berkembang. Dilihat dari yang tadinya negara kita represif sekarang dapat menerapkan keterbukaan seperti saat ini,” ungkapnya saat ditemui oleh Media Publica (3/5).

Selain melewati tahapan yang serius, kegiatan ini memiliki suatu tujuan yang mulia sebagai bentuk edukasi kepada para praktisi media dan masyarakat pada umumnya. Ahmad juga menerangkan bahwa hal tersebut sangat berkesinambungan dari makna topik yang diusung, yakni Critical Minds for Critical Times.

Suasana kegiatan konferensi di Parallel Session 2, JCC, Senayan, Jakarta. Membahas mengenai Media and Information Literacy as a bulwark against hate speech. Diramaikan oleh para pegiat media urut dari sebelah kiri, yakni Pa Nguon Teang, Abdallah Alkafaween, Claire Deevy, Dennis Reineck (moderator), Adama Lee Bah, dan Rosarita Niken Widiastuti. (Foto: Media Publica/Thorvy).

Suasana kegiatan konferensi di Parallel Session 2, JCC, Senayan, Jakarta. Membahas mengenai Media and Information Literacy as a bulwark against hate speech. Diramaikan oleh para pegiat media urut dari sebelah kiri, yakni Pa Nguon Teang, Abdallah Alkafaween, Claire Deevy, Dennis Reineck (moderator), Adama Lee Bah, dan Rosarita Niken Widiastuti. (Foto: Media Publica/Thorvy).

“Mengapa sekarang dikatakan masa-masa kritis? Karena sekarang sedang berkembang isu yang cukup dominan, yakni berkembangnya secara luar biasa berita bohong atau isu hoax. Karena ini bisa mengancam kemajuan peradaban manusia,” jelasnya terkait topik acara tersebut.

Selain bentuk edukasi, acara World Press Freedom Day 2017 ini juga menyorot isu lain yang sedang masif berkembang di Indonesia, yakni berita bohong dan ujaran kebencian. Menurut Ahmad hal ini ditengarai karena masyarakat sudah sering diberikan berita hoax sehingga pikiran mereka tersesat. “Nah, itu yang coba dicari formulasinya, bagaimana media arus utama, yakni media mainstream harus bersikap,” lanjutnya.

Selain tema yang diusung juga menyorot mengenai isu hoax. Ahmad menambahkan bahwa acara World Press Freedom Day 2017 yang diselenggarakan di Indonesia ini menorehkan sebuah catatan baik. Di mana, peserta yang mengikuti kegiatan ini mencapai angka 1.700 orang, lebih banyak daripada tahun lalu ketika acara berlangsung di Finlandia, yakni sebanyak 900-1.000 peserta.

“Nah, acara ini dihadiri oleh 450 peserta internasional dari 95 negara. Itu termasuk salah satu catatan yang bagus. Lalu, Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, tadi ketika pidato memberikan apresiasi bahwa Indonesia telah melakukan upaya yang keras dan kuat untuk menyukseskan acara ini,” imbuhnya.

Acara ini berlangsung dari tanggal 1-4 Mei 2017. Menyajikan berbagai acara seminar serta workshop yang mengambil beragam tema. Selain itu, terdapat pameran foto terkait perjalanan jurnalisme di Indonesia serta agenda lain yang dapat memberikan sebuah edukasi menarik bagi praktisi media maupun masyarakat umum.

Berbagai tanggapan dan harapan diutarakan terkait jalannya acara ini. Salah satunya disampaikan oleh Pa Nguon Teang, selaku Direktur Pelaksana Cambodian Center for Independent Media yang juga merupakan salah satu peserta asal negara Kamboja yang menghadiri acara World Press Freedom Day 2017 di Indonesia. Ia memberikan tanggapan bahwa kegiatan ini sangat baik karena bersama orang-orang dari negara lain, mereka dapat merayakan hari kemerdekaan pers sedunia ini.

“Saya bertemu dengan pembicara yang bagus dan mereka hadir dari berbagai negara termasuk Indonesia. Artinya, kami dapat belajar bersama-sama dan membangun sebuah jaringan untuk suatu kebaikan,” ungkap Pa Nguon Teang.

Pa Nguon Teang juga berharap bahwa acara Wolrd Press Freedom Day harus kembali diselenggarakan untuk tahun selanjutnya sebagai bentuk apresiasi terhadap kemerdekaan berekspresi. Senada dengan Pa Nguon Teang, Ahmad juga berharap bahwa acara ini dapat membuka wawasan wartawan serta masyarakat umum terkait nilai-nilai jurnalistik yang sangat penting.

“Tapi yang jelas harapannya masyarakat makin sadar bahwa mereka tidak hanya langsung mencerna informasi. Informasi yang dicerna dari lembaga pemberitaan resmi yang disitu ada unsur jurnalisme, yaitu bagaimana informasi dijaga kebenarannya, di cek kembali kesahihannya, dan di verifikasi ulang. Informasi tidak boleh langsung dicerna,” tutupnya diakhir wawancara.

Reporter : Rangga Dipayakti & Zulfiana Rachmawani

Editor : Elvina Tri Audya