Jakarta, Media Publica – Pergolakan aksi massa merupakan dinamika yang kerap terjadi di negara yang menganut sistem demokrasi. Kegiatan tersebut dilakukan masyarakat untuk menyuarakan keresahan yang terpendam atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro kepada rakyat.

Di Indonesia sendiri, dari tahun ke tahun sudah banyak aksi massa yang terjadi. Memperjuangkan beragam tuntutan, dengan ragam massa yang berbeda pula. Kadang berakhir dengan damai, kadang berakhir dengan kericuhan. Sehingga aksi massa bagi sebagian orang acapkali dianggap merugikan karena memiliki potensi kerusuhan dan menimbulkan kemacetan.

Aksi massa paling anyar terjadi pada 28 Februari 2023 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Ribuan massa yang terdiri dari serikat buruh, petani, mahasiswa, dan pekerja informal lainnya secara serempak menolak adanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Cipta Kerja yang diterbitkan pada Desember tahun lalu.

Mereka menganggap penerbitan Perppu merupakan refleksi secara eksplisit dari kesewenangan rezim Presiden Joko Widodo terhadap hak-hak rakyat. Sepuluh tuntutan pun mereka gelorakan untuk menegaskan sikap penolakan akan adanya Perppu tersebut.

Namun, di samping pergulatan antara massa aksi dengan aparat pemerintah dalam arena demonstrasi, ada hal lain yang selalu meramaikan kegiatan demonstrasi yakni para pedagang asongan yang berjualan di sekitar lokasi aksi. Tentu ini menjadi sorotan lantaran para pedagang tersebut memilih untuk menomorduakan keselamatan mereka demi bisa mendapat keuntungan lebih dari berdagang di lokasi tersebut.

Berdasarkan pantauan Media Publica, terdapat beberapa pedagang asongan yang berjualan di tengah kerumunan massa aksi tolak Perppu Cipta Kerja. Ada yang membuat lapak di pinggir jalan hingga berani berdiri di depan mobil komando untuk mengecerkan dagangannya. Ada juga pedagang asongan yang berkeliling sembari membawa anak mereka.

Begitu pula pada saat hujan mulai mengguyur lokasi, bermunculan para pedagang yang menawarkan jas hujan dan rela berkeliling walau diri mereka sendiri terkena hujan. Meskipun kerap mendapat penolakan, para pedagang ini tidak menyerah dan tetap bertahan di sekitar lokasi massa berkumpul.

Epoy (37), salah seorang pedagang asongan di tengah aksi, memilih untuk tidak ambil pusing perihal berjualan di tengah demonstrasi. Sebab menurutnya, ramainya massa aksi yang ada sangat berpengaruh terhadap omzet atau pendapatan hariannya.

Ngaruh karena kalau hari biasa hanya mobil dan motor yang lewat. Jadi ketika ramai alhamdulillah, udah diatur sama yang di atas, Mbak,” ujar Epoy sembari tersenyum saat ditemui Media Publica.

Potret salah seorang pedagang siomai, Epoy (37), yang berjualan di sekitar depan gedung DPR RI, Jakarta Pusat pada Selasa (28/2). (Foto: Media Publica/Aisyah)

Selain itu, Epoy pun tidak merasa takut akan munculnya kerusuhan karena ia sudah merasa biasa berdagang saat momen demonstrasi. Baginya, tidak jadi masalah berjualan di tengah aksi selama aksi yang berlangsung adalah aksi damai dan tidak ada keributan apa pun.

“Rasa takut sih ada, Mbak, cuman kalau di sini mulai banyak orang dan membludak (tidak kondusif), bisa geser lokasi ke tempat yang lebih kondusif,” ucap Epoy santai.

Epoy mengaku ketika berlangsung aksi seperti ini omzet yang bisa didapat relatif naik secara signifikan. Hal itulah yang menjadi pertimbangan terbesar dan utama bagi para pedagang sehingga tidak heran apabila ia tak mengindahkan rasa takut yang ia miliki demi tetap mengejar asanya dalam mendapatkan rupiah.

“Beda jauh. Omzet naik, walaupun nggak tentu juga. Tergantung massanya kalau banyak yang datang dan beli ya bisa setengah atau bahkan bisa semua habis terjual. Habisnya cenderung dalam waktu yang lebih cepat,” tutur Epoy.

“Biasanya sih dapat 800 ribu. Kalau di tempat ramai seperti ini tergantung bawa siomainya juga, kalau bawa banyak ya semakin banyak juga omzet. Kadang bisa dapat sekitar 1 juta,” sambungnya.

Aksi turun ke jalan atau demonstrasi menjadi salah satu bentuk protes yang tidak jarang berkonotasi negatif. Namun apabila dilihat lebih luas, banyak pula dampak positif yang muncul dan bahkan dapat dirasakan secara langsung seperti yang dirasakan para pedagang asongan sekitar aksi. Mereka rela mengesampingkan kekhawatiran dan rasa takut demi bisa berjualan di tengah kerumunan massa karena bagi mereka momen tersebut merupakan peluang dalam mencari rezeki yang lebih besar.

Reporter: Aisyah Dwina Septariani

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 809 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.