Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Musik memang tidak dapat kita lepaskan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam mengisi waktu senggang atau bosan, musik menjadi pilihan bagi setiap orang dalam melengkapi kekosongan. Mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa masih memiih musik sebagai ‘penyegar hidup’.

Perkembangan musik sendiri juga dapat dirasakan dari hari ke hari, bulan ke bulan bahkan zaman ke zaman. Berbagai macam aliran musik sudah dapat kita nikmati sekarang mulai dari rock, blues, pop hingga dangdut. Bahkan saat ini, salah satu aliran musik yang dikenal lembut, yakni jazz juga marak dinikmati. Jazz yang sebelumnya dikenal hanya dapat dinikmati oleh orang tua saja, kini malah mendapatkan hati di kalangan anak muda. Tidak hanya didengar, jazz juga menjadi hobi bahkan ‘hobi yang dibayar’ bagi anak muda yang senang dan tertarik begitu dalam dengan musik jazz.

Melalui diskusi ‘Jazz dan Anak Muda’ yang diselenggarakan di Komunitas Salihara pada Rabu (11/2), dibahas mengenai pengembangan musik jazz di kalangan anak muda. Melalui Aldo Sianturi (konsultan bisnis musik dan manajer Believe Digital) dan Adib Hidayat (editor majalah Rolling Stone Indonesia), sebagai pembicara dalam diskusi dibahas pula bagaimana jazz dapat diterima dengan baik oleh anak muda.

Sebagai pembuka, Adib mengatakan, sangat disayangkan dengan terbuka dan dapat dikembangkannya musik jazz masih belum bisa dipahami dengan baik. Masih terdapat ketakutan mengenai karya yang akan dihasilkan, misalnya album. Sebagai rekam jejak seorang musisi, sudah seharusnya setiap musisi memiliki album. Namun dengan ketakutan akan tidak diterimanya musik mereka dan album tidak akan laris, menjadi penghalang dalam terciptanya sebuah karya. Aliran musik yang dikenal ‘kaku’ juga menjadi bayang-bayang apakah nantinya musik beserta karya mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Yang jelas, album jazz harus ada. Penting bagi rekam jejak mereka,” tegas pria berkacamata tersebut.

Selain itu anggapan bahwa rumitnya aliran musik ini untuk dipelajari juga masih dimiliki anak muda dalam memulai debutnya menjadi musisi jazz. Padahal, melalui beberapa festival jazz yang ada dapat dipelajari bagaimana musik jazz yang sesungguhnya. Bahkan jazz yang dianggap kaku dan rumit sebenarnya dapat dipadukan dengan aliran musik lainnya, seperti pop yang saat ini diusung oleh penyanyi seperti Andien dan grup band Maliq & D’Essentials.

Perlunya konsistensi dalam bermusik juga disampaikan oleh Aldo. Menurutnya, penting bagi musisi menjaga konsistensi dari awal bermusik sehingga kontribusi mereka dalam berkarya juga akan dirasakan seterusnya oleh masyarakat sebagai rekam jejak yang tidak akan pernah terlupakan.

“Ketika footprint musisi tersebut hilang, maka hilang juga segala karyanya. Kita kehilangan pula mata rantai kita dan penjaga gugusan,” jelas Aldo.

Namun, hal lain yang sebenarnya tidak boleh terlepas dalam perkembangan musik jazz bagi kalangan muda ialah media. Penting pula sebuah media mengetahui dan menyebarkan informasi mengenai seperti apa dan siapa saja musisi jazz yang sebenarnya agar dapat diketahui dengan baik oleh anak muda. Dikarenakan, agar mereka yang belum tahu dan ingin mempelajari musik jazz dapat mengetahui acuan bagaimana dan kemana untuk mendapatkan ide dan inspirasi dalam memulai untuk bermusik. Dimana disamping itu faktor keberanian dan kemauan yang tinggi juga dibutuhkan dalam memulai debut sebagai musisi.

Reporter: Dianty Utari Syam
Editor: Dwi Retnaningtyas

1,136 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *