Published On: Sat, Jun 11th, 2016

Our Breakfast Already Cold

*Oleh: Rangga Dipa Yakti

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

Para ilmuwan berlomba-lomba untuk membuat obat penawar. Bukannya berhasil, malahan memperburuk keseimbangan alam. Virus demi virus diteliti, waktu mereka semakin sempit dan kesempatan mulai menipis. Setiap 18 jam jutaan manusia di muka bumi meninggal karena virus ini. Gejala awal wajah korban memucat, hidung mengeluarkan darah dan tubuh menggigil saat terkena paparan sinar matahari. Mereka mencurigai virus menginfeksi lewat udara dan sentuhan kulit. Status virusnya masih belum jelas.

Di belahan bumi lain seorang ilmuwan bernama Scott Atwell memakai seragam putih laboratorium-nya. Ia melihat lewat jendela kamar serpihan cahaya mentari mulai menyinari anak sungai yang mengalir di dekat halaman belakangnya, dedaunan layu berjatuhan menyelimuti pelataran rumahnya. Hari sempurna untuk bekerja sebelum berhadapan dengan racikan senyawa kimia di ruangan yang sangat steril.

“Bacon and Pancake coming right away, Honey!” sapaan hangat itu menjadi alasan Scott bangun lebih awal.

Scott menarik bangkunya sembari menyesap secangkir kopi Americano hangat yang baru saja di press. Tidak ada yang lebih hebat dari secangkir kopi pada pagi hari. Duduk menyantap sarapan bersama istri dan anaknya, mendengar kicauan burung gereja yang bertengger di ranting pohon dan merasakan hangatnya udara musim gugur.

“Ayah, apa aku harus pergi ke sekolah hari ini?” tanya Leia lesu, berulang kali ia memutar sendoknya di atas mangkuk sarapannya.

“Tentu Leia, banyak yang harus kau lakukan hari ini,” Scott menaikkan salah satu alisnya, menyemangati anaknya agar mau berangkat untuk menuntut ilmu.

Rachel mengelus lembut bahu Scott sementara tangan satunya membawa sepiring penuh sarapan untuk suaminya. Scott menghidu makanan yang berasap itu, membuat perutnya tidak bisa menolak karbohidrat yang ditawarkan di atas piring bermotif bunga.

“Jadi, apa yang aku lewatkan?” Rachel kembali membuka percakapan.

Leia langsung berbicara dengan mulut yang penuh sereal. Scott baru menyadari hal ini, selain rambut hitam dan mata birunya yang mirip dengan Leia, ternyata gaya bicara mereka persis. Rachel sesekali membuang tatapannya ke tempat Scott duduk, wajah halusnya dengan bintik-bintik yang menghiasi bagian hidung seakan berkata ‘betapa aktifnya Leia Atwell’. Scott hanya tersenyum dingin. Semua orang sepakat jika menghabiskan waktu bersama keluarga adalah yang terbaik, ya Scott setuju dengan hal itu.

***

“Scott, berjanjilah kau akan menemukan obat penawarnya,” ucap Rachel lirih, dia tidak ingin anaknya mendengar masalah ini.

Scott melihat anak perempuannya telah menunggu di dalam mobil. Sementara ia masih sibuk berdiskusi dengan Rachel, mengenai virus ini yang telah banyak memakan korban. Bumi dalam situasi krisis, bahkan persatuan ilmuwan kewalahan menghadapinya.

“Kau sudah baca surat kabar hari ini? Mereka membahas total kematian yang meningkat hanya dalam kurun waktu seminggu,” Scott berusaha tenang membaca surat kabar yang Rachel maksud, kekacauan dan kekacauan.

“Maaf aku harus menyembunyikannya, hanya saja Leia,” mereka melihat anak semata wayangnya yang sedang asyik membaca buku di jok depan mobil sedan hitam milik Scott.

Kekhawatiran muncul ketika bencana menghantui, Leia adalah harta mereka paling berharga. Scott rela melakukan apa saja demi anaknya, untuk saat ini ia dan istrinya hanya bisa menyembunyikan fakta kekacauan yang meneror muka bumi. Tidak seperti biasanya jalan raya sepi, sapaan hangat tetangga seketika hilang hanya meninggalkan segelintir kehidupan yang tersisa.

Rachel membiarkan rasa takut dan depresinya tergerus dalam pelukan Scott. Ilmuwan itu tidak banyak bicara belakangan ini, sepatunya yang tidak terikat rapih, wajahnya yang mulai berantakan dengan berewok tipis dan kantong mata mengisyaratkan rasa lelah menjadi identitas baru Scott.

Mobilnya melaju perlahan di jalan raya. Leia menjulurkan tangannya lewat kaca mobil yang terbuka seraya tersenyum kepada ibunya, ada jarak yang harus mereka tempuh hingga sampai tempat tujuan. Deru mesin selembut dengkuran kucing menjadi musik mereka tidak ada radio atau konser klasik Ludwig van Beethoven kesukaan Leia. Scott benar-benar fokus.

***

“Scott, kita tidak memiliki banyak pilihan, maafkan aku,” suara penyesalan itu berasal dari pria berkulit hitam bernama Duncan, rekan ilmuwan Scott yang paling setia.

Duncan berdiri di bibir atap perusahaan mereka, tidak ada yang bisa Scott lakukan kecuali berjalan perlahan untuk menarik rekannya kembali ke area yang lebih aman. Rasa takut dan depresi telah mengendalikan Duncan menjadi orang yang putus asa, satu-satunya jawaban adalah mengakhiri hidupnya. Obat penawar bukan apa-apa kecuali omong kosong.

“Scott, enyahlah! Kau bekerja seumur hidup hingga orang terakhir tersisa tetap saja obat penawar tidak akan kau temukan!”

“Shut the fuck up, Duncan!” Scott mempercepat langkahnya, merasakan terpaan angin meniup peluh yang membasahi wajahnya.

“Then find the cure, Bastard ….”

Duncan melompat dan menghancurkan badannya di atas trotoar berwarna dasar merah hingga darahnya tidak nampak jelas. Scott terduduk lemas di atap menyaksikan langit biru itu seakan menertawainya. Satu per satu ilmuwan ditemukan tewas dengan banyak kasus bunuh diri salah satunya Duncan. Scott harus segera menemukan obat penawar itu.

Dia berjalan menuruni tangga suara hentakkan kakinya menggema ke setiap sudut ruangan. Beberapa ilmuwan telah menunggunya, mereka berkumpul seperti kelompok diskusi yang haus akan pertanyaan.

“Duncan?” tanya seorang pria tua berkepala botak.

Scott hanya menggelengkan kepalanya kemudian pergi berjalan melewati kerumunan ilmuwan itu. Ia mulai frustrasi menghadapi kenyataan, musim gugur tahun ini adalah yang terburuk sepanjang masa. Tidak ada lagi apel manis dengan olesan madu, melihat Leia bermain di atas daun berjari tiga, membersihkan dedaunan kering dengan garpu panjang bersama Rachel kemudian menikmati matahari terbenam, sementara kaki mereka tenggelam dalam tenangnya aliran anak sungai.

“Scott, kau mau ke mana?” pria botak itu mengejarnya tepat sebelum Scott keluar dari perusahaan.

“Pulang, maafkan aku Mr. Wawrzyniak tetapi keluargaku membutuhkanku.”

Berat rasanya untuk mengangkat kaki dari perusahaan yang telah melambungkan namanya. Sebagai seorang bos, Rudolf Wawrzyniak terus berusaha mengajak Scott agar tetap bertahan, tidak ada ilmuwan sehebat Scott dan Duncan, mereka adalah Dynamic Duo. Tentu Wawrzyniak memiliki banyak rencana untuk menahannya bahkan dilema pun harus dihadapi Scott.

“Scott, aku mengerti perasaanmu tapi semua ini bukan hanya menyangkut nama perusahaan saja, ingatlah kita berjuang demi hajat hidup orang banyak,” lanjutnya seraya memegang bahu Scott, “jika kau mementingkan keluargamu, percuma saja karena tidak ada obat penawarnya, nyawamu dan mereka akan mati sia-sia … aku ingin kau mempertimbangkannya lagi.”

Kerumunan demonstran mulai mengisolasi gedung pemerintah, mereka berteriak nyaring meminta kepastian. Setiap 18 jam jutaan manusia di seluruh dunia tewas akibat virus ini. Scott harus memilih keputusan; membawa pergi keluarganya atau fokus dengan obat penawar. Semua tergantung Scott.

You’re not just a man, but you are the cure, Scott,” suara parau bosnya membuyarkan lamunan Scott.

Tanpa basa-basi Scott kembali mengenakan jas ilmuwannya, berjalan dengan langkah mantap menuju laboratorium. Beberapa ilmuwan kebanyakan junior melihatnya sebagai pahlawan atau The Savior. Scott mengenakan masker gasnya, masuk ke dalam lab dan tak sadar air mata telah membasahi pipinya; Scott baru saja mengorbankan Rachel dan Leia.

***

Malam semakin larut dan Scott melihat lorong ruang tamu di rumahnya telah gelap. Sinar bulan menerangi sudut ruangan yang meninggalkan bayangan menjulang sebuah pohon ek yang ditanam olehnya bersama Rachel, refleksinya pun nampak jelas dari permukaan sungai. Scott memeriksa kamar Leia terlihat ia telah tertidur pulas dengan boneka beruangnya. Gambar crayon milik Leia menunjukkan satu keluarga bahagia mengundang senyum tipis di raut wajah Scott.

“Ayah?” panggil Leia sembari menyipitkan matanya.

“Hei sweety, tidurlah besok akan menjadi hari besar untuk—“

Leia memeluk erat ayahnya, seperti diteror mimpi buruk namun yang satu ini berbeda. Leia membiarkan dirinya menangis dalam pelukan Scott, tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan Scott kecuali mengelus lembut rambut Leia.

“Ayah, aku melihat banyak yang mati hari ini,” kata Leia tersedu.

Bukan hanya rasa khawatir Scott saja setelah mendengar anaknya ketakutan setengah mati melihat mayat tergeletak di hampir setiap ruas jalan. Tubuhnya panas, matanya memerah bahkan hidung Leia juga terlihat luka. Scott tidak ingin anaknya menjadi korban selanjutnya, dia masih terlalu muda untuk pergi.

“Leia kau tetap di sini, Ayah ingin mencari Ibumu,” Leia hanya mengangguk.

Lorong itu sangat sunyi bahkan angin sepakat untuk membisu. Rachel tidak berada di ranjang mereka, seluruh ruangan di kamar nampak rapih tak tersentuh bahkan dapur sekali pun. Scott semakin risau hingga akhirnya, ia melihat Rachel terbujur kaku dalam bath tub bersimbah darah di kamar mandi dan tepat dinding di atasnya meninggalkan tulisan berdarah ‘I’m Sorry …’

Scott bergeming lalu duduk bersimpuh tidak percaya dengan semua ini. Melihat istrinya bunuh diri karena depresi meninggalkannya bersama Leia. Tidak ada lagi sapaan hangat pagi hari dan tidak ada lagi tempat berbagi keluh kesah. Semuanya berakhir tragis, Scott mulai menyesali keputusannya sekarang giliran nyawa Leia dalam bahaya.

“Ayah, Ibu di mana?”

“Dia baik-baik saja, ayo ikut Ayah ke laboratorium,” Scott menggendong Leia di punggungnya.

“Tapi ini masih malam, Ayah!” Scott tidak menggubris, fokusnya hanyalah mencari obat penawar.

Leia terlihat sangat pucat, sabuk pengaman telah terikat erat di badannya. Scott melaju cepat meninggalkan rumahnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan seakan mobil mereka berjalan di kota mati. Leia menatap boneka beruangnya, mencoba untuk bersikap biasa walaupun ia tahu Ayahnya sedang dikejar waktu.

“Ayah, berjanjilah untuk membawaku, Teddy dan Ibu pergi ke danau setelah kau selesai bekerja,” Scott tidak merespon apa-apa, ia hanya fokus menyeimbangkan kecepatan mobilnya di dalam markah jalan, “Ayah!”

“Cukup Leia! Kau harus ikut Ayah, kau tidak boleh cengeng … ikuti saja perintah Ayah!”

Suasana kembali hening, untuk sesaat Scott menyesal telah memarahi Leia. Mengingat waktu mereka tidak banyak, ia hanya menginginkan obat penawar itu. Mereka sampai di perusahaan tempat Scott biasa bekerja, kegelapan menelan perusahaan tersebut. Scott menggendong Leia dan mengajaknya masuk ke lorong gelap itu.

Dedaunan musim gugur berserakkan membungkus tanah, Leia menangis dalam heningnya malam. Ia masih terlalu muda untuk mengetahui semua ini, yang Leia inginkan hanyalah keluarganya. Scott menyuruh Leia untuk menunggu di ruangan utama sementara ia bekerja kembali meracik senyawa di lab. Leia mengangguk pasrah di dalam benaknya rasa takut dan khawatir berkecamuk, belum lagi pengalamannya saat melihat orang-orang itu mati. Scott tidak habis pikir meninggalkan anaknya sendirian di lorong utama, fokusnya hanya kepada obat penawar.

Scott bekerja mati-matian, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya semakin pusing. Semua terbayar sukses setelah virus yang membunuh jutaan manusia dalam waktu 18 jam itu mati karena salah satu obat penawar yang ia teliti. Scott menuangkan cairan itu pada sebuah botol steril dan membawanya pergi dari lab.

“Leia, Ayah berhasil menemukannya … Leia?”

Tidak ada jawaban dari Leia, matanya tertutup rapat dan lengannya masih memeluk boneka beruang cokelatnya. Scott menggendong tubuh anaknya, tidak terdeteksi detak jantung ataupun hangatnya hembusan napas Leia. Semuanya hening, lenyap di makan kegelapan yang perkasa.

Scott berjalan menuju suatu tempat, menggendong anaknya sembari membawa obat penawar virus yang baru saja ia temukan. Sudah resmi tidak terlihat lagi kehidupan, seolah Scott adalah orang terakhir yang hidup di bumi.

Sebuah bangku kayu di dekat danau meninggalkan keindahan terakhir yang diberikan oleh alam. Scott duduk sambil memeluk Leia, membiarkan jiwanya menyatu dengan alam di tengah tiupan udara musim gugur dan sorotan bulan. Aroma daun layu menghantarkannya pada sebuah kedamaian. Scott tidak tahu bagaimana cara mempublikasi keberhasilannya menemukan obat penawar virus ini. Scott hanya dapat menghabiskan sisa waktunya memeluk Leia di tempat keluarga mereka biasa menghabiskan waktu liburan musim panas, sebagai manusia terakhir yang hidup di muka bumi.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2015 dan terdaftar sebagai anggota LPM Media Publica