
Kepala Riset Trust Securites, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa rupiah melemah setelah pelaku pasar lebih memilih mata uang safe haven seperti yen Jepang dan dolar AS merespon perlambatan kegiatan manufaktur di China.
“Laju kenaikan mata uang safe haven terus terapresiasi dibandingkan mata uang lainnya,” kata Reza.
Lemahnya rupiah ini berdampak pada kenaikan subsidi yang diberikan pemerintah untuk Liquid Petroleum Gas (LPG) atau elpiji dengan tabung 3 kg 2013 diperkirakan akan bengkak dari yang sudah dianggarkan. Pada 2013 sebesar Rp 31,523 triliun untuk 4,394 juta kg elpiji. Diperkirakan, tagihan subsidi energi bisa mencapai Rp40 triliun jika rupiah terus melemah.
“Ada dua hal yang membuat subsidi elpiji membengkak, yaitu depresiasi nilai tukar rupiah dan naiknya harga crude price (CP) Aramco yang menjadi basis perhitungan subsidi elpiji,” ungkap Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani.
Analis Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir di Jakarta, Selasa menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan pengurangan stimulus keuangan (tapering) oleh bank sentral AS (the Fed).
“Menjelang publikasi rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), investor terus mencermati seberapa agresif kebijakan the Fed itu diterapkan,” kata dia.
Di sisi lain, investor juga terlihat waspada menantikan hasil pertemuan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pada Kamis (9/1) mendatang di tengah inflasi yang dinilai masih tinggi, defisit neraca transakasi berjalan, dan perlambatan ekonomi Indonesia.
Ia mengharapkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia yang cukup stabil dapat menahan koreksi mata uang rupiah tertekan lebih dalam.Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Selasa ini (7/1), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp 12.262 dibanding sebelumnya (6/12) di posisi Rp 12.230 per dolar AS.
Sumber : AntaraNews & Tempo.co
Editor : Putri Yanuarti
2,804 total views, 3 views today
