Oleh Cheppy Setiawan*

anak indonesia

Tepat hari ini, anak-anak Indonesia mendapatkan sorotan yang lebih. Hari anak Indonesia diwarnai dengan  begitu banyak perilaku negatif yang dilakukan anak Indonesia sampai saat ini. Anak-anak adalah pioneer dari suatu bangsa. Asupan pengetahuan sangatlah diperlukan demi menjadikan anak tersebut berkembang ke arah positif. Namun, kondisinya justru berlawanan. Perilaku anak-anak Indonesia semakin mengarah ke jalur negatif.

Hal tersebut diperkuat dengan maraknya tayangan di televisi yang memunculkan adegan-adegan yang tidak sesuai norma khususnya untuk anak-anak. Data dari  Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menunjukan bahwa rata-rata anak-anak menonton televisi sekitar enam jam bahkan bisa lebih untuk perharinya. Artinya secara kuantitas anak-anak cukup banyak menghabiskan waktunya dalam 24 jam untuk menonton televisi. Hal tersebut jelas membuat anak-anak cenderung mengikuti apa yang paling sering mereka lihat.

Apalagi banyak tayangan dewasa yang disiarkan pada prime time, artinya waktu dimana anak-anak masih dapat menyaksikan dengan jelas tayangan tersebut.   Hal tersebut membuat perilaku negatif seperti kekerasan seksual, merokok, premanisme menjadi perilaku yang sering dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Miris memang, namun itulah kondisi anak Indonesia saat ini.

Kondisi tersebut diperparah dengan hilangnya penanaman norma-norma berperilaku dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD). Dulu kita mengenal mata pelajaran Pendidikan dan Pengetahuan Kewarganegaraan Indonesia (PPKN), dimana mata pelajaran tersebut membuat ajaran-ajaran mengenai tata cara berperilaku dan berkehidupan di dalam masyarakat khususnya Indonesia. Penanaman nilai-nilai sangat kental terasa. Namun, mata pelajaran tersebut saat ini sudah diubah menjadi Pendidikan dan Kewaraganegaraan Indonesia (PKN) dimana tidak ada lagi nilai-nilai berperilaku dan berkehidupan sebagaimana masyarakat Indonesia sesungguhnya. Yang ada hanyalah pendidikan politik dan semacamnya yang bukan merupakan dasar dari kehidupan bermasyarakat yang dibutuhkan anak SD.

Kemudian cerita rakyat, sebagai media penyampai nilai-nilai moral pun kian luput dari kurikulum SD. Banyak dari anak SD saat ini tidak begitu mengenal apa itu cerita rakyat serta apa makna yang terkandung di dalamnya. Padahal menurut pengamat pendidikan, Arif Rahman, cerita rakyat mengandung banyak pesan moral yang baik untuk pendidikan karakter anak-anak Indonesia, sehingga menjadikan anak Indonesia bermoral dan berkarakter kebangsaan.

Untuk itu sudah seharusnya kita mengembalikan esensi anak-anak Indonesia sebagai pioneer dari sebuah bangsa dengan mengawasi setiap tayangan di televisi serta memberikan bimbingan dan penanaman moral sejak dini melalui berbagai media.

 

 

*Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Media Publica Periode 2012-2013

 3,829 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.