Jakarta (14/06), Harlan Boer Vokalis C’mon Lennon (Kiri), serta Satria Ramadhan Manager Band Indie (kanan) dalam seminar Simbiosis Musikalisme, UPDM(B) Jakarta.
Jakarta (14/06), Harlan Boer Vokalis C’mon Lennon (Kiri), serta Satria Ramadhan Manager Band Indie (kanan) dalam seminar Simbiosis Musikalisme, UPDM(B) Jakarta.

Jakarta, Media Publica – Jumat (14/6), bertempat di ruang kelas 5D-5E Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama) seminar bertema ‘Simbiosis Musikalisme” digelar. Acara yang dimulai pada pukul 09.00 – 11.00 WIB mendatangkan dua pembicara yaitu Satria Ramadhan (Manager Band Indie), serta Harlan Boer (Vokalis C’mon Lennon).

Tepat pukul 09.00 acara dimulai, kedua pembicara tersebut membahas tentang perkembangan hingga perubahan musik dari band indie. “Musik menurut gue adalah pesan yang ingin disampaikan melalui nada dan irama, selain itu musik juga bahasa yang universal yang bisa dimengerti seluruh lapisan masyarakat,” ungkap Harlan Boer dalam seminar tersebut. Harlan menambahkan bahwa membuat musik bukan hanya dibutuhkan skill dan disiplin saja, melainkan butuh ekspresi dalam memainkannya. “Karena hanya orang yang cinta musik saja yang bisa menjual musik kepada penikmatnya, karena akan terlihat ‘power’ dari musik tersebut,” tambahnya.

Perkembangan distribusi musik mulai berkembang dan beragam. Maka dari itu, dibutuhkan distribusi yang kreatif dan inovatif. “Butuh inovasi, supaya penikmat musik lebih aware terhadap musik-musik indie dan hal itu juga bagus bagi gimmick band tersebut,” ungkap Satria Ramadhan. Pria yang berkuliah di jurusan arsitektur tersebut menambahkan bahwa penikmat musik harus lebih menghargai dan mencintai hasil karya musik, “Jangan hanya bisa men-download yang ilegal saja, karena band juga membutuhkan effort untuk menciptakan album,” tambah pria yang juga memiliki toko musik ini.

Sementara itu, perkembangan musik indie di Indonesia mulai bergerak secara gerilya. “Kadang band-band indie kurang terdengar di Indonesia, tapi sudah bisa tampil di berbagai penjuru dunia, harusnya pemerintah mulai mendukung dan lebih aware sama musik-musik dari band indie,”harap Satria.

Seminar yang diadakan kali ini, merupakan projek mata kuliah Komunikasi Sosial dan Pembangunan (KSP) untuk Kelas B angkatan 2011. “Tujuan dari seminar kali ini, kita pengen musik tidak terlalu dianggap kecil, karena sebenarnya musik itu punya pengaruh besar untuk setiap penikmatnya, juga melalui musik dapat mengekspresikan diri,” ungkap Renaldi Tamaputra sebagai ketua pelaksana seminar kali ini.

“Sebenarnya Simbiosis Musikalisme itu adalah plesetan dari simbiosis mutualisme, kayak gini contohnya kita ngundang pembicara seminar Satria Ramadhan yang awalnya nggak ada background musiknya, tapi bisa berkecimpung di dunia musik,” tambah mahasiswa angkatan 2011 ini. Tugas pembuatan seminar ini sudah sejak sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung, “Tugasnya sebelum UTS, tapi kita baru mempersiapkannya selama satu bulan,” ungkap Renaldi.

Tanggapan pun datang dari peserta seminar yang hadir, seperti yang diungkapkan oleh Randy A. Louhenapessy, “Acara nya menarik soalnya gue suka musik dan emang gue tau Satria Ramadhan, jadi gue makin banyak pengetahuan soal musik, khususnya musik indie dari acara seminar hari ini.” Hal senada diungkapkan oleh Prianti Dyan, “Acara seminar simbiosis musikalisme ini udah berjalan dengan  baik, beberapa informasi nya juga ada yang penting,” ungkap mahasiswi angkatan 2011 ini.

 

Reporter : Kris Aji Irawan

Editor : Mianda Aurani

1,400 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.