Oleh Dwiyasista Widiatma Sekartaji*

work.4690599.1.flat,550x550,075,f.a-mans-silhouette

Kalau cinta hadir untuk melengkapi kekurangan, patutlah aku berbangga memilikimu.

Kalau cinta hadir untuk menghangatkan, tak perlulah matahari bekerja hingga petang.

Kalau cinta hadir untuk menemani, akan ku pindahkan semua boneka ke dalam lemari.

Aku telah sanggup melihat hati yg penuh dari wajah yang memiliki senyum paling indah. Meski kaki tak sanggup melangkah, biar cinta membantuku mengenal jalan menuju hati yang direstui Tuhan. Meski kata tak sanggup ku ucap dengan sempurna, cukuplah Ia yg mendekatkan kita.

Aku hanyalah orang biasa yang diberi hari-hari luar biasa. Hanya karena sepotong hati yang ku lengkapi sisanya, aku sanggup bercerita kepada siapa pun di luar sana bahwa akulah wanita yang paling bahagia yang pernah ada!

Apalagi yang membuat mereka iri padaku dari semua cerita yang ku dongengkan tentang kamu? Aku tak pernah membuat cerita tentang pangeran berkuda putih yang memberikan aku setangkai mawar di bawah bintang yang melirik di balik bulan. Tidak. Aku juga tak pernah bermetafora tentang malaikat yang menjelma menjadi manusia dan itu adalah kau.

Bagiku, kamu adalah tempatku datang dan tak ingin pergi lagi. Sudah, itu saja.

 

*Penulis adalah alumnus Fikom UPDM(B) angkatan 2007 dan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica periode 2009-2010.

1,567 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.