
Washington, Media Publica – Kubu Republik berusaha untuk menjatuhkan posisi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dengan mengeksploitasi beberapa rangkaian skandal. Tidak tanggung-tanggung, Obama diserang 3 skandal yang membuat posisinya terancam dan terus menghadapi serangan kubu Republik karena menuduhnya telah menyalahgunakan kekuasaan. Skandal tersebut antara lain :
Pertama, Obama didesak untuk menjelaskan tuduhan kepada Internal Revenue Service (IRS), lembaga pengumpul pajak milik pemerintah yang menjadi target kritik kubu konservatif. Dalam satu pernyataan yang disiarkan Gedung Putih di tengah gelombang kemarahan kubu oposisi, Obama mengatakan beliau telah memerintahkan Menteri Keuangan Jack Lew untuk menindak siapapun yang bertanggungjawab atas kesalahan akuntabilitas itu. “Saya kini memiliki kesempatan untuk mengkaji laporan tim pengawas Departemen Keuangan mengenai investigasi mereka terhadap personel IRS yang dengan tak pantas menyasar kelompok-kelompok konservatif yang mengajukan status pembebasan pajak. Ini tak bisa ditoleransi dan tak termaafkan,” ungkap Obama yang dilansir dari AFP.
Kedua, kelompok oposisi terus menyurut cara Obama menangani serangan ke misi diplomatik AS di Benghazi, Libya, yang memunculkan tuduhan lawan bahwa kasus ini telah ditutup-tutupi sekaligus membuat Presiden berbalik berang dengan menuduh masalah ini sebagai sirkus partisan.
Ketiga, penemuan mengejutkan bahwa Departemen Kehakiman telah menyita rekaman pembicaraan telepon wartawan Associated Press, yang membuat Washington makin terjerembab dalam pusaran skandal. Namun, hal tersebut dibantah oleh juru bicara Gedung Putih, Jay Carney menurutnya Gedung Putih tak ada kaitannya dengan skandal penyitaan rekaman telepon wartawan Associated Press yang dihubung-hubungkan dengan soal keamanan nasional tersebut. “Masalah itu secara independen ditangani oleh Departemen Kehakiman,” tandas Carney.
Karena skandal tersebut, Kubu Republik menganggap bahwa kekuasaan Barak Obama sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya ini mirip dengan era pemerintahan Presiden Richard Nixon. Nixon terdepak dari Pemerintahan pada 1974, setelah menutupi skandal penyadapan markas Partai Demokrat dan karena memanfaatkan audit pajak untuk menyerang musuh-musuh politiknya.
Senator Republik, John McCain menyamakan rangkaian skandal ini seperti terjadi pada era pemerintahan Presiden Richard Nixon, “Kami kira era itu telah lewat. Ternyata tidak,” ungkap McCain. Senada dengan McCain, Senator Republik lainnya, Orrin Hatch, juga menganggap sama. “Saya tak pernah menyaksikan hal seperti ini kecuali di masa lalu di era Nixon,” ungkap Orrin.
Tentu saja Gedung Putih menolak penyamaan Obama dengan Nixon ini. “Orang yang melakukan perbandingan seperti itu perlu mempelajari lagi sejarah,” ungkap juru bicara Gedung Putih Jay Carney.
Sumber : AFP & Antara
Editor : Kris Aji Irawan
2,643 total views, 6 views today
