Jakarta, Media Publica – Re dan peRempuan adalah salah satu karya monumental dari Maman Suherman atau akrab dipanggil kang Maman, dikenal sebagai seorang jurnalis dan penulis dengan kepedulian mendalam terhadap isu-isu sosial. Novel ini dipublikasikan pada tahun 2021, dengan jumlah halaman sebanyak 340. Secara garis besar novel ini mengangkat kisah perempuan-perempuan marginal khususnya pekerja seks komersial, yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dengan narasi yang berani dan penuh empati, Maman Suherman berhasil memberikan suara kepada kelompok yang sering kali terpinggirkan.

Novel ini berangkat dari pengalaman pribadi sang penulis, yaitu Herman saat melakukan penelitian untuk skripsi Jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia. Demi mendalami kehidupan pekerja seks di Jakarta, Herman rela terjun langsung ke dunia yang kerap dianggap “gelap” ini. Walaupun pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai penelitian akademis, namun akhirnya berkembang menjadi perjalanan yang mengubah hidup Herman.

Mengisahkan perjalanan hidup Re, seorang perempuan yang sejak lahir telah menghadapi stigma sebagai anak haram karena terlahir tanpa ayah. Kematian ibunya, yang meninggal dalam pelukannya, semakin memperburuk hubungannya dengan sang nenek yang terus menerus membencinya. Masa remajanya diwarnai dengan pemberontakan, bolos sekolah dan mencari perhatian yang berujung pada pengulangan tragedi yang sama seperti ibunya, hamil di luar nikah.

Ketakutan akan kemarahan neneknya membuat Re kabur dari rumah. Dalam kondisi kalut, ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang awalnya tampak seperti malaikat penolongnya. Namun malaikat ini ternyata adalah mucikari yang menjebaknya ke dalam dunia prostitusi dengan bualan akan membantunya melahirkan, dengan konsekuensi Re harus mengabdi sebagai pekerja seks yang melayani khusus pelanggan perempuan atau disebut lesbian.

Selama dua tahun menjadi sopir Re, Herman menyaksikan langsung realitas kelam dunia prostitusi, dari pesta seks hingga serentetan kematian teman-teman Re yang kerap diabaikan oleh negara. Bagi Herman, Re tidak hanya memiliki kecantikan paras, tetapi juga kecerdasan dan kebaikan yang luar biasa. Re bahkan kerap membantu Herman membeli buku-buku dan memberi bantuan finansial untuk kuliahnya, meski ia sendiri hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Salah satu aspek paling menyentuh dari novel ini adalah hubungan Re dengan putrinya, Melur. Menyadari kekotorannya, Re memilih untuk menitipkan Melur kepada sepasang suami istri, sambil tetap diam-diam membiayai seluruh kebutuhan anaknya. Dengan kebesaran hati yang luar biasa, Re rela hanya dikenal sebagai tante oleh darah dagingnya sendiri, Re merasa bahagia melihat putrinya bisa merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh walaupun tanpanya.

Dengan ending tragis, Re ditemukan tewas tersalib dengan tubuh tersayat-sayat. Hal itu menjadi momok yang menghantui Herman selama puluhan tahun. Trauma ini kembali mencuat ketika Melur, yang telah tumbuh menjadi wanita berpendidikan dan cerdas, mulai menyelidiki identitas ibu kandungnya. Herman dihadapkan pada dilema moral, haruskah ia mengungkapkan kebenaran tentang Re kepada Melur, tapi bagaimana jika kebenaran ini justru memicu dendam bagi Melur sendiri.

Novel ini dengan berani membuka tabir dunia prostitusi di Jakarta, mengungkap bahwa para pelanggan tidak hanya dari kalangan biasa, tetapi juga termasuk pejabat dan artis papan atas. Para pekerja seks tidak hanya menghadapi risiko kesehatan, tetapi juga ancaman nyata terhadap nyawa mereka jika berani melawan sistem yang sudah terkungkung dalam hidup mereka.

Maman Suherman dengan cermat mengkritisi peran media massa dalam membentuk stigma terhadap wanita tuna susila. Media digambarkan lebih mengutamakan sensasi, mengabaikan suara dan latar belakang para perempuan ini, serta turut melanggengkan label “perusak moral” tanpa memberikan ruang pembelaan. Novel ini juga mengangkat isu-isu sosial yang lebih luas seperti kemiskinan, kekerasan seksual, dan ketidakadilan gender.

Tidak hanya berkutat pada kisah personal, novel ini juga menyajikan diskusi mendalam tentang hukum negara, teori pemidanaan, dan dimensi spiritual. Herman menemukan bahwa di dunia yang dianggap “hitam” ini justru tersimpan pembelajaran mendalam tentang kehidupan, cinta, dan ketuhanan. Seperti yang diungkapkan Re dalam novel: “Cinta tak terdefinisi, tak berujung, seperti minuman yang semakin diminum semakin tak membuat hilang haus. Jangan berhenti, terus saja mencintai.”

Maman Suherman menggunakan sudut pandang orang pertama dalam penceritaan, memberikan keintiman dan kredibilitas pada narasi. Novel ini tidak hanya berisi cerita, tetapi juga diperkaya dengan puisi-puisi dan pembahasan teori hukum serta kriminologi yang relevan. Meski membahas tema berat, kosa kata yang apik dan mudah dipahami membuat novel ini tetap mudah dicerna oleh pembaca umum.

Kekuatan utama novel ini terletak pada keberaniannya mengangkat suara-suara yang selama ini dibungkam, dengan narasi yang penuh empati namun tidak melodramatis. Maman Suherman berhasil menggambarkan para pekerja seks sebagai manusia utuh dengan segala kompleksitasnya, bukan sekadar objek moral atau sensasi.

Secara keseluruhan, novel Re dan peRempuan adalah sebuah karya yang tidak hanya mengajak kita untuk merenung tentang nasib perempuan-perempuan marginal, tetapi juga memberikan kritik tajam terhadap masyarakat dan media yang selama ini selalu menghardik golongan mereka. Tentunya, novel ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin memahami sisi lain kehidupan yang selama ini selalu ditutup-tutupi. Selain itu pertanyaan yang diajukan novel ini terkait keadilan, cinta, dan martabat manusia akan terus bergema lama sampai pembaca menutup halaman terakhirnya.

Presensi: Saniyyah

Editor: Muhammad Ridho

 2,355 total views,  12 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.