Jakarta, Media Publica – Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) telah sukses menyelenggarakan kuliah umum untuk tahun akademik 2021/2022 pada Sabtu (15/1). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting ini mengangkat tema “Kreatif di Sosial Media dengan Konten Positif” di mana banyak membahas seputar dunia digital content dan media sosial serta masalah di dalamnya.

Kuliah umum dibuka dengan sambutan Dr. Prasetya Yoga Santoso, MM. Selaku Dekan Fikom UPDM (B). Beliau menjelaskan bahwa acara ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang dilaksanakan pada September 2021 silam. Selain itu, dalam pidatonya, ia juga menjelaskan pentingnya literasi digital bagi masyarakat Indonesia agar tidak mudah termakan berita-berita palsu dan hoaks.

“Pentingnya penerapan literasi digital yang menekankan aspek edukasi di masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses, memilih program yang bermanfaat sesuai dengan kebutuhan yang ada,” terang Yoga.

Menurut Yoga, kemudahan akses informasi yang mampu menembus ruang dan waktu juga membuat adanya interaktivitas yang tinggi antar pengguna ruang digital. Hal ini tentu menyebabkan khalayak tidak lagi hanya berperan pasif, namun juga dapat berpartisipasi dalam menyebarkan informasi.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari narasumber pertama yakni Dr. Lintang Ratri Rahmiaji, M.Si selaku Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Diponegoro. Ia membawakan tema “Bicara Baik di Ruang Digital”.

Dalam pemaparannya, ia mengutip kalimat yang pernah dilontarkan oleh Mark Zuckerberg, Founder dari Meta atau yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook Inc, bahwa internet dan ruang digital mampu menjadikan penggunanya memiliki kekuatan untuk membagikan ide kepada pengguna lainnya.

Namun sayangnya, dengan segala kemudahan dan fasilitas ruang digital yang dimiliki, ternyata masih banyak pengguna internet yang masih belum memahami cara memanfaatkan ruang digital dengan benar termasuk etika berkomunikasi dalam medium baru tersebut.

“Seringkali pengguna berpikir bahwa di ruang digital boleh ngapain aja, ngomong apa aja. Padahal, di ruang digital sama saja seperti ketika kita berbicara, berkomunikasi, dan berinteraksi di ruang nyata,” ungkap Lintang.

Masalah Etika Komunikasi dalam Ruang Digital

Lebih lanjut, Lintang memberikan data dan contoh fenomena bermasalah saat masyarakat Indonesia berada dalam ruang digital. Banyaknya masalah yang terjadi dalam ruang digital sudah mampu membuat kesimpulan adanya pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat.

Ia mengambil contoh survei yang pernah dilakukan oleh Microsoft Corporation dalam laporan Digital Civility Index (DCI) tahun 2020 yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet masyarakat di Asia tenggara.

Hasilnya, masyarakat Indonesia menempati posisi pertama sebagai pengguna internet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Hal ini diukur dari cara masyarakat dalam berselancar di dunia maya dan media sosial, termasuk ancaman penyebaran berita bohong, hoaks, ujaran kebencian, misogini, diskriminasi, hingga cyberbullying.

Posting yang penting, bukan yang penting posting,” ucap Lintang. Menurutnya, sekarang ini lebih banyak orang yang mementingkan unggahannya diakui dan dilirik orang lain dibandingkan dengan isi dari unggahan itu sendiri.

Lebih buruk, Lintang mengungkapkan bahwa ancaman-ancaman yang terjadi di dunia maya seperti cyberbullying, ujaran kebencian, hingga hoaks ternyata mampu berdampak pada psikis seseorang, menimbulkan kekerasan, konflik sosial, hingga yang paling menyedihkan adalah kehilangan nyawa. Contoh kasusnya adalah ujaran kebencian yang diterima oleh selebriti asal Korea Selatan, Sulli yang berujung pada bunuh diri.

Ada juga contoh kasus berita hoaks mengenai alat uji tes virus corona yang diklaim merupakan rencana membahayakan nyawa ulama di salah satu provinsi di Indonesia. Hal ini tentu menimbulkan konflik sosial yang membuat masyarakat resah. 

Di akhir pemaparan materi, ia berbagi cara untuk lebih beretika di ruang digital. Sebagai warga Indonesia, Lintang meminta masyarakat untuk kembali mengingat lima sila Pancasila yang merupakan ideologi pemersatu bangsa. Ia turut menekankan untuk tetap memerhatikan etika berkomunikasi yang baik di segala aktivitas dalam ruang digital.

Memiliki etika yang baik di ruang digital dengan cara mengamalkan sila-sila Pancasila. (Foto: Media Publica/Salsa)

Post-Truth dan Literasi Digital yang Timpang

Setelah materi pertama berakhir, acara berlanjut dengan pemaparan materi kedua yang disampaikan oleh Pangeran Siahaan selaku Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Asumsi.co. Dengan mengangkat tema “Demokratisasi Akses Informasi”, ia membuka materi dengan bahasan tentang fenomena post-truth yang akhir-akhir ini sedang berkembang di masyarakat Indonesia.

Secara sederhana, post truth dapat dimaknai sebagai era di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Caranya? Dengan memainkan emosi dan perasaan masyarakat yang menerima informasi tersebut.

“Ketika kebenaran bukan menjadi salah satu hal primer, apa yang benar dan salah itu menjadi relatif. Bagi para pemilik sumber daya media juga melihat apa yang benar dan salah itu benar-benar tergantung pada siapa yang mengatakannya. Kita bisa melihat bahwa media bukan lagi menjadi sumber rujukan yang seratus persen bisa diyakini,” jelas Pangeran dalam paparannya.

Ia menyebutkan bahwa hal ini tidak hanya berlaku pada media mainstream seperti media massa, koran, maupun portal berita. Berlaku pula pada individu yang memiliki audiens atau pengikut dan mampu menyebarkan informasi secara luas.

Masih membahas topik post-truth, Pangeran memberi beberapa contoh kasus seperti kepercayaan tentang aliran bumi datar dan gerakan yang terjadi di Amerika Serikat yang memercayai bahwa tower 5G mampu mengendalikan manusia lewat chip yang dimasukkan bersamaan dengan vaksin. Hal ini tentu menjadi sebuah fakta miris yang mana fenomena seperti ini ternyata juga dapat ditemui di negara maju sekalipun.

Menurutnya, ketimpangan literasi menjadi salah satu faktor penyumbang kenapa adanya carut-marut penyebaran informasi dan banyaknya berita yang tidak penting dewasa ini. Gagasan negara yang berdemokrasi, masyarakat berintelek (well-informed society) merupakan hal yang esensial untuk menanggulangi masalah tersebut. Namun sayangnya, ada banyak orang di luar sana yang tidak menganggap itu penting bahkan memang sengaja mempersulit gagasan tersebut terwujud.

Lebih lanjut, ia juga membeberkan bahwa dalam dunia berita saat ini, kebanyakan audiens atau masyarakat hanya ingin memercayai apa yang ingin mereka percayai. Sifat ini tercipta akibat algoritma media sosial yang hanya menampilkan suatu topik yang disukai oleh pengguna saja sehingga masyarakat terbiasa seperti itu.

“Apa yang anda baca terus-terusan sebenarnya akan mengafirmasi gambaran atau perspektif yang sudah ada dalam pikiran anda,” ujar Pangeran. “Dan ketika dihadapkan oleh informasi yang berbeda dengan apa yang anda percaya, anda akan menggurui informasi tersebut dengan mengatakan bahwa informasi tersebut salah.”

Ia menyinggung beberapa platform media sosial yang mampu menarik para audiens untuk menghabiskan waktu hingga berjam-jam melalui algoritma yang mereka buat. Beberapa diantaranya ialah TikTok dan Instagram yang saat ini sedang digandrungi khalayak khususnya Generasi Z.

Setelah pemaparan materi dari narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan peserta acara. Narasumber aktif menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta melalui fitur chat yang telah disediakan. Sesi foto bersama dan pembagian hadiah kepada peserta yang memberikan pertanyaan terbaik menjadi tanda berakhirnya kuliah umum tersebut.

Reporter: Salsabila Rahma Saputra

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 986 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.