*Oleh Dwi Retnaningtyas

Pening memang melihat berbagai pemberitaan yang ada selama beberapa waktu belakangan ini. Pencalonan Kepala Kepolisian yang penuh kontroversi, penetapan tersangka korupsi hingga aksi saling tangkap yang dilakukan kedua lembaga penegak hukum besar tanah air. Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Entah siapa di antara mereka yang dapat dipercaya. Rakyat justru tidak dapat hak lebih untuk memperoleh kebenaran yang sesungguhnya. Malah dipertontonkan perilaku memalukan para petinggi yang seharusnya memberi contoh.
Tidak henti-hentinya rakyat kini disuapi beragam kebobrokan, kecurangan, ketidak jujuran dan kesombongan para penegak hukum yang semestinya membongkar kebobrokan, kecurangan, ketidak jujuran dan kesombongan tersebut. Hukum yang harusnya mereka tegakkan justru mereka langgar, sedikit demi sedikit hingga gunung dosa itu kini memuntahkan laharnya.
Babak baru pertarungan ‘Cicak vs Buaya’ kini telah dimulai. Beberapa tahun lalu hal serupa pernah terjadi dan juga menyeret nama-nama, seperti Bibit Samad dan Chandra M. Hamzah. Kini nama baru kembali terseret dengan disebutnya nama Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK yang ditetapkan sebagai tersangka setelah dilaporkan oleh politisi PDIP, Sugianto Sabran. Kejanggalan pun mulai tercium kala penangkapan ini justru terjadi tak lama setelah ditetapkannya calon Kapolri Budi Gunawan terlibat korupsi atas dugaan rekening gendut. Rakyat kini dipaksa terseret ke dalam permainan antar cicak dan buaya yang sedang ‘kadal-kadalan’ ini. Seperti hendak balas membalas, terdengar seperti ingin tembak-menembak peluru. Tinggal tunggu siapa yang mati duluan.
Rakyat pun sebelumnya telah dikagetkan dengan dicalonkannya sang bakal Kapolri yang oleh beberapa pihak disebut-sebut sebagai titipan dari sang ibu. Babak baru ini bahkan disebut sebagai kado ulang tahun bagi sang ibu. Makin ragu sejauh apa sang ibu bermain dalam segala urusan negara? Atau justru ada pihak lain yang ikut merancang skenario keributan ini? Entah lah. Yang jelas negara ini sudah mulai masuk ke dalam skenario ‘orang-orang’ tersebut. Alur ceritanya mulai tak tertebak bagai film hebat bertebar penghargaan. Rakyat sebagai penonton tidak lagi bisa membaca siapa yang memerankan tokoh protagonis dan yang mana yang antagonis. Dan yang mana yang hanya mendapat peran pembantu.
Kepala negara pun mulai diragukan ketegasnya akan segala urusan ini. Ketakutan akan adanya intervensi dari pihak luar yang ikut ‘bermain’ pun tidak terelakan. Kupingnya mungkin telah dibisikan berbagai mantra yang entah manjur atau tidak. Atau mungkin kupingnya telah kebal sama sekali. Lagi-lagi rakyat dibuat tidak mengerti apakah sang gatot kaca yang biasanya menyelamatkan umat manusia kali ini akan beraksi seperti biasanya atau hanya terbang seliweran di antara konflik yang ada di bawahnya. Harapan rakyat untuk dirinya tetap bisa menepati janji manis sisa pencoblosan pun masih tinggi.
Masih teringat jelas, ucapan sang kepala negara dulu. Bahwa dirinya hanya tunduk pada rakyat dan konstitusi Semoga benar adanya bahwa ia tidak akan tunduk pada siapa pun yang menginginkan kepentingan. Kembali ke babak baru cerita Cicak vs Buaya, sang gatot kaca masih diharapkan untuk tetap jadi jagoan yang mampu menumpas segala macam kejahatan dan menguak semua kebohongan yang mungkin telah membuat penontonnya muak. Hingga nanti pada akhir cerita masih mendapat tepuk tangan atau mungkin sebaliknya dilempari telur berbarengan dengan teriakan untuk segera turun dari panggung.
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi LPM Media Publica periode 2014-2015
3,852 total views, 6 views today
