sumber : www.greenradio.fm
sumber : www.greenradio.fm

Media Publica – Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang saat ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Beberapa kegiatan manusia bahkan bergantung pada BBM. Semakin banyak manusia yang membutuhkan, maka semakin banyak pula bahan bakar yang dibutuhkan. Tak heran, saat ini banyak daerah yang menerapkan teknologi ramah lingkungan demi memenuhi kebutuhan bahan bakar tersebut. Di beberapa daerah, seperti Bojonegoro, Malang, menerapkan teknologi ramah lingkungan tersebut. Bahan bakar yang dihasilkan pun beragam, mulai dari solar, premium dan bensin, bahkan minyak pelumas dan oli. Dimana semua bahan bakar yang dihasilkan tersebut bergantung pada jenis plastik yang digunakan.

“Tergantung jenis plastik,” ucap kader lingkungan Kelurahan Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang, Muhammad Ayyub.

Ia menjelaskan, setiap tiga kilogram limbah plastik berubah menjadi satu liter BBM. Peralatan produksi BBM ini dirancang dan diproduksi sendiri yang terdiri dari sebuah tabung kompor bertekanan tinggi dan alat destilasi sederhana. Proses destilasi diawali dengan pemanasan plastik hingga 300 derajat celsius hingga menguap. Uap yang dihasilkan bergerak menuju kondenser untuk pendinginan untuk dikembalikan berbentuk cair.

Dalam proses yang membutuhkan waktu selama 45 menit ini dihasilkan tiga cairan berbeda, yakni premium, solar dan minyak pelumas. Proses desain dan perencanaan alat sekitar satu bulan, sedangkan perakitan alat sekitar lima hari. Namun, alat ini masih dibutuhkan penyempurnaan agar lebih efesien.

Proses pembakaran menggunakan bahan bakar gas metana (CH4) yang dihasilkan dari penumpukan sampah organik. Bahan bakar gas metana diperoleh secara cuma-cuma di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang. Sedangkan jika menggunakan bahan bakar lain akan membutuhkan dana besar. Sehingga bahan bakar dari limbah plastik tak ekonomis.

Kini, ia tengah merancang memperbesar produksi sehingga bisa digunakan di TPA Supit Urang. Sehingga BBM yang dihasilkan lebih besar dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Tak hanya memenuhi kebutuhan BBM untuk truk pengangkut sampah tapi juga bisa dipasarkan untuk meningkatkan nilai jual sampah.

Sementara potensi gas metana di TPA Supit Urang mencapai 4.521 ton per tahun. Sedangkan gas metana yang ditangkap dan dimanfaatkan warga sekitar hanya 148 ton per tahun atau sekitar tiga persen. “Jaringan pipa gas dipasang sampai 1,2 kilometer,” lanjut Wasto.

Tak hanya di Bojonegoro, berbekal pengetahuan dari internet, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mencoba menerapkan teknologi tersebut untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan solar mesin pembuat pupuk kompos di Tempat Penimbunan Akhir (TPA) Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk.

Rencananya bank sampah plastik akan dibangun di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, agar sampah plastik nanti tak merusak lingkungan.

Menurut Kepala DKP Kabupaten Bojonegoro Nurul Azizah, dengan ditemukannya terobosan ini diharapkan bisa mengatasi bahan bakar yang saat ini langka dan bakal ada kenaikan harga itu. “Ke depan kita akan membuat bank sampah, supaya sampah plastik di kantor-kantor bisa kita daur ulang jadi BBM,” jelas Nurul Azizah saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (2/5/2013).

Peralatan pun dibuat sedemikian rupa agat percobaan yang ditempuhnya membuahkan hasil. Dalam uji coba yang dilakukan para pasukan kuning ini selama tiga hari tersebut, untuk 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 5 liter solar, 1,5 liter bensin serta 1,5 liter minyak tanah.

“Alat yang digunakan sebagai bahan merakit tangki reaktor ini juga cukup sederhana dan kerap dijumpai disekitar kita. Jadi saya kira bila teknologi ini mulai dikenal semua orang bisa mengolahnya, hanya saja yang harus dipelajari bagaimana mengatur suhu, maupun cara kerjanya hingga menghasilkan minyak layak pakai,” papar Heraferi saat pihaknya memamerkan benda tersebut di pagelaran Teknologi Tepat Guna (TTG) di Musara Alun Takengen.

Teknologi ramah lingkungan yang diterapkan di beberapa daerah diatas tersebut tentu dapat di contoh oleh daerah lain atau bahkan kota-kota besar. Selain untuk membantu meminimalisir limbah sampah plastik, juga untuk menghasilkan bahan bakar dengan cara yang lebih ramah di lingkungan. Sebab, sampah plastik merupakan sampah yang paling sulit diurai oleh tanah. Perlu 50-100 tahun bagi tanah untuk mengurai plastik.

Sumber : Detik & Tempo

Editor : Dianty Utari Syam

 

 2,565 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.