Jakarta, Media Publica – Konflik antara Israel dan Palestina kembali memanas sejak awal Oktober 2023. Serangan udara dan tembakan roket tak pernah berhenti menghujani wilayah yang telah luluh lantak itu, menimbulkan korban jiwa yang kian hari kian bertambah. Israel secara terang-terangan melakukan tindakan dehumanisasi, upaya membombardir warga palestina agar tunduk, dan menggunakan kelaparan sebagai metode perang.

Jika merujuk pada kejahatan perang, maka Israel telah berhasil melakukan tindakan genosida. Mengutip KBBI, genosida diartikan sebagai pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengategorikan tindakan ini ke beberapa bentuk, termasuk penyiksaan, menangkap orang yang tidak bersalah, migrasi paksa serta deportasi dan lainnya.

Pengertian tersebut dianggap relevan bahwa apa yang dilakukan Israel pada saat ini merupakan suatu bentuk kejahatan perang karena telah mengeliminasi bangsa Palestina dengan serangan militer. Pemerintahan Israel yang dipimpin Netanyahu telah banyak memainkan retorika politik yang menyatakan kepada dunia bahwa tindakannya merupakan upaya melindungi diri tetapi, pada kenyataanya mereka menghancurkan Palestina dan tak henti melakukan genosida.

Tindak tanduk peperangan ini bermula dari persengketaan tanah yang dianggap suci oleh tiga agama besar, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Israel mengklaim memiliki hak bersejarah dan agama atas tanah tersebut, sementara Palestina menganggap tanah tersebut sebagai bagian dari wilayah Arab yang diduduki secara ilegal oleh Israel.

Sekitar tahun 1947, PBB mengusulkan pembagian tanah untuk dimiliki oleh dua negara, yaitu Israel dan Palestina dengan Yerusalem sebagai kota internasional. Namun, rencana ini ditolak oleh negara-negara Arab dan Palestina yang menganggapnya tidak adil dan merugikan. Pada tahun berikutnya, Israel memproklamasikan kemerdekaannya yang memicu perang dengan negara-negara Arab dan Palestina. Sejak saat itu, konflik terus berlanjut dengan berbagai perang, pemberontakan, negosiasi, dan kesepakatan damai yang gagal.

Tindakan Israel selama bertahun-tahun merampas tanah dan rumah penduduk Palestina dengan kekerasan bersenjata telah membuat Hamas, bahkan juga kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina lainnya seperti Fatah, berani melawan Israel. Kendati demikian, kekuatan kelompok perlawanan kemerdekaan itu kalah telak dengan kekuatan militer Israel yang turut didukung negara-negara adikuasa, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Serangan Israel Menuai Kecaman Dunia

Proses evakuasi korban Gaza akibat serangan udara Israel (Foto: AP/Mohammad Al-Masri).

Banyak nyawa tak berdosa melayang akibat serangan sporadis dari militer Israel bahkan hingga saat ini. Duta Besar Palestina mengatakan bantuan kemanusiaan dari Indonesia untuk Palestina sampai saat ini dilaporkan masih tertahan di Mesir. Bantuan dari berbagai negara termasuk Indonesia itu pun belum tersalurkan kepada warga Gaza, Meski Banyak negara telah meminta Israel untuk segera menghentikan serangan dan memberi ruang bagi bantuan kemanusiaan, disertai dengan langkah konkret Hamas yang membebaskan beberapa tawanan dengan pertimbangan kemanusiaan. Benjamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel  seperti tidak pernah mengindahkan permintaan tersebut dan tetap melakukan agresinya ke jalur Gaza.

Dalam sebuah unggahan yang dimuat di telegram, Dr. Ashraf Al-Qudra Juru Bicara Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza mengungkapkan bahwa jumlah korban akibat serangan Israel di Jalur Gaza kini telah meningkat menjadi 24.600 jiwa tewas dan 61.830 orang luka-luka akibat serangan yang terus dilakukan oleh pihak Israel.  Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sebanyak 172 orang tewas, sementara 326 lainnya terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Angka tersebut juga kian bertambah setiap harinya.

Konflik ini juga menyebabkan krisis kemanusiaan parah di Gaza dan Tepi Barat. Pasokan air, listrik, makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan sangat terbatas bahkan sulit diakses oleh warga Palestina. Banyak rumah, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah baik gereja maupun masjid yang hancur akibat peperangan ini. Kematian menjadi pemandangan lumrah warga Palestina setiap harinya selagi meneriakkan keadilan dan hak asasi manusia kepada dunia, selain itu mereka juga mengalami trauma, stres, dan ketakutan yang berkepanjangan setiap kali mendengar sebuah ledakan.

Konflik Israel-Palestina telah menarik perhatian dan kecaman dari masyarakat internasional, terutama negara-negara Islam dan organisasi-organisasi hak asasi manusia. Banyak negara dan organisasi yang menuntut penghentian genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina, serta mendesak adanya gencatan senjata segera dan permanen.

Salah satu tuntutan yang disampaikan adalah agar Israel menghormati hukum humaniter internasional yang melarang penggunaan kekerasan yang berlebihan dan tidak proporsional terhadap warga sipil. Israel juga diminta untuk menghentikan pendudukan dan penjajahan terhadap wilayah Palestina, serta mengakui hak-hak dasar dan kedaulatan rakyat Palestina.

Selain itu, tuntutan lain yang disuarakan adalah agar PBB dan negara-negara anggotanya proaktif dalam menyelesaikan konflik ini secara damai dan adil. PBB juga diminta untuk membentuk Organisasi dan Kedutaan internasional di Yerusalem untuk mengawasi dan memastikan keselamatan warga di wilayah pendudukan, serta untuk melindungi status kompleks Al-Haram Al-Sharif yaitu tempat suci bagi tiga agama. Terakhir PBB diminta untuk mengambil langkah-langkah hukum dan politik terhadap Israel, seperti memberikan sanksi, embargo, dan boikot.

Bicara Soal HAM dan Demokrasi

Dalam upaya menyelesaikan konflik ini, Indonesia telah melakukan berbagai langkah konkret, baik di tingkat bilateral, regional, maupun multilateral. Pada 24 Oktober lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan pertemuan dan diskusi terbuka dengan berbagai pihak terkait konflik palestina di rapat Dewan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Inggris.

Indonesia telah menyampaikan tiga langkah konkret kepada PBB, yaitu menghentikan kekerasan dan aksi militer, memastikan akses kemanusiaan dan perlindungan rakyat sipil, dan mendorong negosiasi multilateral yang kredibel dan inklusif. Tak perlu diragukan lagi Indonesia soal bantuan kemanusian, Indonesia telah menggelontorkan berbagai bantuan kepada Palestina berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, air minum, selimut, tenda, dan produk kebersihan kepada rakyat Palestina.

Walaupun demikian Indonesia dan negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus terus menggalakan dan menyuarakan hak-hak kemanusiaan negara Palestina, setiap negara harus bersatu untuk mengimbangi dominasi kekuatan negara Barat. Sementara itu bagi negara Barat, ketidakmampuan mereka untuk memberikan rasa adil akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, sebab mereka selalu mengagungkan demokrasi dan hak asasi manusia tetapi, dengan sikap acuh mereka maka narasi demokrasi dan Hak Asasi Manusia yang selalu mereka sampaikan hanya akan menjadi isapan jempol belaka.

Reporter: Nur Sifa Widasarani

Editor: Saniyyah

 240 total views,  9 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.