Media Publica – Tentu masih jelas teringat di benak pecinta drama Korea Selatan akan kepopuleran serial Mask Girl yang rilis di Netflix pada Jum’at, (18/08) silam. Mask Girl merupakan serial televisi streaming asal Korea Selatan yang disutradarai oleh Kim Yong-hoon dan dibintangi oleh Lee Han-byeol, Nana, Go Hyun-jung, Ahn Jae-hong, dan Yeom Hye-ran. Memiliki total 7 episode, serial ini diadaptasi dari webtoon Naver karya Mae-mi dan Hee-see yang terbit ditahun 2015-2018 lalu. 

Menceritakan karakter bernama Kim Mo-Mi, seorang pekerja korporat sekaligus livestreamer yang merahasiakan identitas dirinya dengan cara menutup wajahnya dengan topeng saat livestream berlangsung. Saat melakukan live streaming, dirinya merasa dicintai dan dihargai lantaran memiliki banyak penggemar yang menyebutnya cantik nan menarik. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan aslinya yang seringkali dianggap remeh bahkan dibully lantaran wajahnya dianggap tak memenuhi standar kecantikan.

Meski nyaman dengan kehidupan sebagai mask girl, nahasnya hal ini justru menimbulkan masalah baru bagi Kim Mo-Mi. Salah satu penonton live streaming-nya, Ju Oh-nam secara tidak sengaja menyadari identitas asli mask girl dan berakhir terobsesi dengannya. Seiring berjalannya waktu, obsesinya terhadap mask girl semakin memburuk hingga berani mengancam akan membunuhnya atas dasar cinta.

Hal tersebut membuat Kim Mo-Mi merasa terancam dan terganggu oleh perilaku Ju Oh-Nam yang berlebihan. Meskipun sudah mencoba untuk menghindarinya, Ju Oh-Nam terus mengikutinya kemanapun dirinya pergi.

Potret Kim Mo-Mi dalam serial Mask Girl (Sumber: Netflix)

Perilaku obsesif yang dilakukan oleh Ju Oh-nam juga banyak ditemui dalam kehidupan realita kita.Dalam dunia psikologi, perilaku obsesif serta pemikiran fantasi berlebihan terhadap seseorang seperti Ju Oh-nam tersebut dapat dijuluki sebagai fatal attraction syndrome. Apa itu fatal attraction syndrome?

Mengenal fatal attraction syndrome

Menurut Dr. J. Richard Cookerly, seorang psikoterapis asal Amerika Serikat mendeskripsikan fatal attraction syndrome sebagai fenomena cinta palsu yang melibatkan perilaku obsesif, kompulsif, dan merusak yang berujung menjadi penguntit. Biasanya orang yang mengalami kondisi ini akan memiliki bayangan atau fantasi bahwa targetnya tertarik padanya serta mencintai dirinya. Pengidap sindrom ini juga menolak adanya penolakan cinta dari target atau seseorang yang ia cintai.

Ketika seseorang mengalami obsesi cinta yang berlebihan dan tidak sehat seperti ini, hal ini dapat mengarahkan pada perilaku yang merugikan pihak lain seperti penguntitan, pengintaian, hingga pemaksaan. Kondisi ini juga seringkali mengganggu dan membahayakan korban yang diuntit karena pelaku bisa kapan saja mengancam korban. Tak hanya itu, adanya sindrom ini ternyata tak hanya berpotensi merugikan satu pihak atau dua pihak saja, namun juga dapat pihak lain yang terlibat dalam hubungan tersebut.

Mengapa Fatal Attraction Bisa Terjadi?

Belum ada penelitian khusus yang dapat menjelaskan alasan mengapa fattal attraction syndrome bisa hadir. Namun beberapa kasus, fatal attraction syndrome terjadi karena beberapa hal, antara lain:

  1. Gangguan obsesif-kompulsif

Melansir psychriatry.org, gangguan obsesif-kompulsif (OCD) merupakan kelainan di mana seseorang memiliki pikiran, ide, atau sensasi (obsesi) yang berulang dan tidak diinginkan. Orang yang mengidap OCD cenderung rentan terhadap perilaku atau pemikiran obsesif. Ketika pengidap mulai terobsesi terhadap suatu hal atau seseorang, tak menutup kemungkinan ia dapat melakukan perilaku kompulsif.

2. Gangguan Kepribadian Borderline (BPD)

Pengidap gangguan kepribadian borderline (BPD) juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya cinta obsesif. Seseorang bisa merasa takut akan ditinggalkan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perilaku tak menentu, mengontrol, bahkan dapat berperilaku manipulatif dalam hubungan.

3. Harga diri rendah

Seseorang yang memiliki harga diri rendah sering kali memiliki pemikiran tidak aman dalam dirinya serta merasa tidak layak dicintai oleh orang lain. Karena hal inilah yang mendorong mereka rentan terhadap masalah kesehatan mental dan perilaku yang dapat mengganggu kehidupan sehari-harinya, salah satunya cinta obsesif.

Jika sudah dalam level yang berbahaya, penguntit dapat dituntut hukum karena perbuatan berbahaya yang mereka lakukan. Dalam kasus yang ekstrem, penguntit dapat melakukan tindakan kekerasan atau pembunuhan terhadap korban atau orang-orang terdekat korban. Oleh karena itu, penting untuk mengenali adanya tanda fatal attraction syndrome pada orang sekitar dan segera cari bantuan jika mengetahui atau mengalami fenomena tersebut.

Sumber: Berbagai sumber

Penulis: Dariska Avilda

Editor: Fransiska Angelina Widiyanti

 985 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.