Jakarta, Media Publica – Liputan6.com sukses menggelar rangkaian acara Festival 6 2023 pada Sabtu-Minggu (8-9/7) bertempat di Senayan Park, Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung selama dua hari penuh tersebut menyuguhkan berbagai konten acara mulai dari sharing session, talkshow, peragaan busana, bazaar makanan, hingga konser musik.

Tak hanya itu, terdapat pula penyerahan penghargaan bagi para perempuan dan tokoh inspiratif serta lembaga yang dinilai berprestasi. Mengusung tema “Lintas Generasi Tanpa Batas”, acara ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk berbagai generasi di Indonesia agar dapat saling terbuka dan berbagi perspektif serta kontribusi dalam bermasyarakat.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Konten Kapanlagi Youniverse, Wenseslaus Manggut. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa acara tersebut digelar guna memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh hingga instansi pemerintah yang telah memberikan kontribusi konkrit di masyarakat khususnya pada masa-masa sulit seperti masa pandemi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Sharing Session “Jitu Membawa UMKM Daerah Mendunia” yang dibawakan oleh Risca Andalina selaku pembawa acara. Sesi tersebut membahas bagaimana upaya pelaku UMKM agar dapat melebarkan sayap baik di dalam negeri maupun pasar global. Pihak penyelenggara berhasil menghadirkan tiga narasumber utama yakni Novita Hardini Mochamad selaku ketua Dekranasda Kabupaten Trenggalek, Khairul selaku Walikota Tarakan, dan Siti Azizah selaku Deputi Bidang Kewirausahaan Kementrian Koperasi dan UKM.  

Geliat Pelaku UMKM Tanah Air dan Tantangan yang Dihadapi

Siti Azizah menyampaikan bahwa saat ini pelaku UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta. Dari angka tersebut, diperkirakan UMKM telah menyerap sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia serta menyumbang 60,5% PDB yang turut menggerakkan roda perekonomian nasional.

Tak berhenti disitu, sesi tersebut juga membahas beragam upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan Pemerintah Kota Tarakan dalam mendorong UMKM agar sukses di dalam negeri maupun luar negeri, salah satunya dengan memperluas distribusi batik ke keluar negeri.

“UMKM yang ada di Kabupaten Trenggalek terus bertumbuh. Awalnya kami punya batik, makanan seperti alen-alen dan kripik tempe, hasil pertanian, dan perhutani serta hasil alam lainya yang dikemas dalam produk UMKM. Semuanya merupakan unggulan kami, hanya saja saat ini terfokus untuk mengirim produk-produk kami ke pasar yang lebih luas, salah satunya batik,” Ucap Novita.

Terlepas dari itu semua, terdapat tantangan lain dalam mendorong sektor UMKM ke kancah internasional. Menurut Siti Azizah, tantangan yang dihadapi saat ini adalah sumber daya yang dimiliki Indonesia belum sesuai dengan apa yang diinginkan market global. Disamping itu, keterbatasan kuantitas produksi dan perlunya pengembangan produk-produk Indonesia lebih lanjut juga menjadi faktor pendukung.

Khairul juga menyampaikan bahwa yang menjadi kekurangan para pelaku UMKM terutama di Kota Tarakan adalah butanya digitalisasi. Menurutnya, pasar digital sudah tak bisa dihindari. Maka dari itu, hal tersebut juga menjadi fokus mereka agar mampu meraih pasar internasional dengan upaya membimbing dan mengarahkan para pelaku UMKM agar dapat beralih menggunakan teknologi digital.

Keterbukaan Akses Hukum bagi Perempuan dan Anak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Setelah sharing session berakhir, acara dilanjutkan dengan talkshow “Akses Hukum dan Ekonomi bagi Perempuan dan Anak” dengan mengundang narasumber dengan beragam latar belakang. Diskusi dibuka dengan pertanyaan tentang sistem peradilan di Indonesia yang hingga saat ini dirasa masih belum adil dan aman bagi kaum perempuan.

Menanggapi hal tersebut, Martha Parulina Berliana selaku Kepala Penyuluhan dan Penerangan Kejagung RI percaya bahwa setiap perangkat hukum yang dibuat di Indonesia tentu telah dipikirkan secara matang. Ia meyakini bahwa sistem peradilan di Indonesia telah memenuhi aspek adil dan berkeadilan.

Lenny Nurhayati Rosalin selaku Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA juga menyebutkan bahwa pemerintah sendiri telah menyiapkan beberapa program bagi perempuan korban kekerasan seksual yang hadir dari tingkat desa hingga nasional. Dengan adanya program-program tersebut, diharapkan para korban kekerasan dapat mengetahui hak-hak yang ia miliki serta sadar akan hukum.

Salah satu program yang dimaksud yakni Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Selain itu, ada pula layanan hotline Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 bagi perempuan korban kekerasan serta anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Selanjutnya, Hasto Wardoyo selaku Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menanggapi permasalahan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga (KDRT). Menurutnya, BKKBN sendiri memiliki tugas menjaga pertumbuhan penduduk seimbang dan menciptakan keluarga yang berkualitas. Dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas, BKKBN memiliki indikator yang biasa digunakan yakni tentram, mandiri, dan bahagia.

Ia juga menyinggung terkait fenomena pernikahan di bawah umur yang dipaksakan sehingga membawa dampak buruk bagi perempuan. Maka dari itu, guna mengurangi dampak tersebut BKKBN telah aktif mensosialisasikan kepada masyarakat agar turut serta mencegah terjadinya pernikahan dini pada anak.

“Sekarang ini yang perlu kita perhatikan bahwa memang perempuan itu kalau tidak dibela sering menjadi korban dalam tanda petik, terhadap hal-hal yang terkait masalah reproduksi.” Ucap Hasto. 

Lebih lanjut, Novita Hardini Mochamad yang turut diundang naik lagi sebagai pembicara mengungkapkan bahwa salah satu penyebab terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga dipicu oleh permasalahan ekonomi. Dirinya menyebut ketika dalam satu keluarga muncul ketidakstabilan finansial, maka akan muncul ruang-ruang kekerasan yang menimpa pada perempuan dan anak. Tak hanya itu, kemiskinan juga dapat mendorong permasalahan sosial lainnya.

“Bagi mereka yang memiliki dana untuk sekolah, mereka akan terdidik. Mereka akan tahu bagaimana memperlakukan istri, suami, dan anak dengan baik. Namun bagi mereka yang ekonominya tidak mampu untuk mengakses pendidikan dengan baik, mereka harus dibebankan dengan pikiran ‘besok harus makan sama apa?’. Terkadang hal-hal seperti inilah yang nyata memicu adanya ruang-ruang kekerasan dalam keluarga,” Ungkap Novita.

Melihat hal tersebut, penting bagi pemerintah untuk menindak lanjuti fenomena ini secara serius dan tegas karena akan mengakibatkan efek domino pada generasi selanjutnya.

Selain talkshow dan sharing session, Festival 6 juga memberikan penghargaan kepada sosok-sosok inspiratif di tanah air. Tercatat sebanyak 6 penghargaan Anugerah Perempuan Hebat 2023 dan 15 penghargaan Anugerah Tokoh Inspiratif 2023 telah diberikan. Tak hanya itu, terdapat pula sesi peragaan busana bertema “Dekranasda Kota Tarakan” karya desainer Wignyo Rahadi.

Untuk memeriahkan jalannya acara, terdapat pula panggung konser musik yang diisi oleh beragam musisi tanah air mulai dari Reality Club, JKT48, Pemuda Tersesat Music, Club Dangdut Racun, Inul Daratista, Tipe X, dan masih banyak lagi. Bazaar makanan dan spot-spot foto yang apik juga dihadirkan guna menambah kemeriahan acara Festival 6.

Reporter: Muhammad Ridho dan Alfito Wardani

Editor: Fransiska Angelina Widiyanti

 993 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.