Jakarta, Media Publica – Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung pada Kamis (30/3).

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk penolakan keras atas Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang kembali disahkan pada Selasa (21/3) setelah sempat dinyatakan sebagai undang-undang inkonstitusional. 

Unjuk rasa tersebut berujung ricuh setelah aparat kepolisian menembakkan watercannon ke arah demonstran. Kericuhan bermula saat tidak adanya titik terang antara aparat kepolisian dengan massa aksi yang bernegosiasi untuk memasuki pelataran DPRD Provinsi Lampung. 

Upaya dialog antara tim negosiasi Aliansi Lampung Memanggil dengan pihak kepolisian juga berujung buntu. Alhasil, massa aksi kian memanas sehingga aksi saling pukul dan lempar batu dengan kepolisian tak terhindarkan. 

Dalam video yang beredar, terekam pula tindakan represif oleh aparat kepolisian kepada para demonstran. Beberapa massa aksi mengalami luka-luka dibeberapa bagian tubuh seperti di daerah kepala akibat kejadian tersebut. 

Tak berhenti disitu, polisi juga melakukan penangkapan terhadap massa aksi. Hingga tulisan ini dimuat, tercatat setidaknya 48 massa aksi yang terdiri dari mahasiswa ditangkap dan ditahan di Polres Bandar Lampung.

Potret massa aksi yang ditahan di Polres Bandar Lampung pada Kamis (30/3).
(Foto: Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND))

Menanggapi hal tersebut, diwawancarai Media Publica pada Kamis (30/3) malam, Humas aksi Aliansi Lampung Memanggil menjelaskan saat ini pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap 48 massa aksi yang tertangkap tersebut.

“Ini sedang dilaksanakan proses pendampingan dengan Jaringan Masyarakat Sipil,” ungkapnya. Upaya advokasi juga tengah dilakukan guna membebaskan massa aksi tersebut sesegera mungkin.

Dalam aksi tersebut, massa aksi menyuarakan berbagai tuntutan seperti: 

  1. Cabut Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
  2. Tolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas);
  3. Rancangan Undang-Undang Kesehatan;
  4. Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis. 

Kronologi Aksi Represitifitas Aparat

Mengutip dari unggahan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung (@lbh.bandarlampung) pada Kamis (30/3) malam, kronologi aksi dimulai ketika massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil mulai berkumpul pukul 10.00 WIB di Tugu Adipura. Kemudian pada pukul 10.30 WIB massa aksi mulai berjalan menuju titik aksi di gedung DPRD Provinsi Lampung.

Massa aksi tiba di lokasi sekitar pukul 11.15 yang kemudian dilanjutkan dengan aksi orasi politik oleh tiap-tiap lembaga sembari tim negosiator melakukan negosiasi agar massa aksi dapat memasuki pelataran gedung DPRD. Hingga pukul 12.00 WIB, massa aksi memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Usai beristirahat, pada pukul 13.00 WIB massa aksi kembali melakukan orasi politik dan negosiasi kembali dengan pihak keamanan agar massa aksi dapat memasuki pelataran gedung DPRD. Hingga akhirnya pada pukul 14.00 WIB, tim negosiasi dari Aliansi Lampung Memanggil mengabarkan bahwa tidak menemui kesepakatan dengan pihak keamanan sembari massa aksi terus melakukan aksi orasi.

Pada pukul 15.30 WIB, situasi kian memanas hingga pihak kepolisian memutuskan memukul mundur aksi massa dengan menggunakan watercanon dan sempat melemparkan gas air mata. Aksi ini menimbulkan kericuhan antar kedua belah pihak.

Situasi terus berlanjut hingga pukul 16.00 WIB massa aksi terus dipaksa mundur. Tidak hanya itu, banyak massa aksi juga ditangkap dan direpresif. Pihak kepolisian juga terus melakukan penyisiran serta mengejar massa aksi hingga pukul 17.00 WIB.

Hingga tulisan ini dimuat, LBH Bandar Lampung terus melakukan inventarisir data massa aksi yang mengalami represifitas. LBH Lampung juga membuka posko pengaduan terkait kekerasan yang dilakukan oleh aparat dengan pelaksanaan kebebasan berekspresi dan berpendapat di Provinsi Lampung.

Reporter: Fransiska Angelina Widiyanti

Editor: Aisyah Dwina Septariani

 1,008 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.