Jakarta, Media Publica – Acara Wisuda Sarjana dan Magister Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) kembali digelar tahun ini pada Kamis (19/01) silam. Mengusung tema “Bersama Membangun Persatuan Bangsa Melalui Pendidikan Unggul”, acara ini dihadiri oleh 1.204 wisudawan UPDM (B) baik itu dari program sarjana maupun magister. Bertempat di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, acara ini berlangsung khidmat dari awal hingga akhir. 

Berbeda dengan wisuda tahun lalu yang dilaksanakan secara hybrid, wisuda tahun ini digelar secara luring yang dihadiri oleh seluruh wisudawan berserta para pendamping. Tak hanya itu, acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar. 

Ganjar Pranowo diundang guna memberikan orasi ilmiah dengan tema “Generasi Mandiri Untuk Indonesia Berdikari”. Ia memaparkan bahwa generasi muda Indonesia harus memiliki optimisme tinggi agar mampu menjadi pendorong dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena dengan optimisme serta pembekalan skill adaptasi yang tepat guna menghadapi perubahan, generasi muda dipercaya mampu menjadi penopang Indonesia dikala krisis melanda. 

Tak hanya Ganjar, pihak universitas juga mengundang Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar selaku kepala BNPT RI. Selain mengucapkan selamat kepada wisudawan yang hadir, kedatangannya juga menandai resminya kerja sama antara BNPT dengan UPDM (B) dalam upaya mencegah kasus terorisme di kalangan anak muda.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara BNPT dengan UPDM (B) (Foto: Media Publica/Rifqa)

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara BNPT dengan UPDM (B)
(Foto: Media Publica/Rifqa)

Hal yang Berbeda dari Pelaksanaan Wisuda Tahun Ini

Ditemui Media Publica setelah acara berlangsung, Ketua Pelaksana acara Wisuda Sarjana-Magister UPDM (B) 2023, Dr. Prasetya Yoga Santoso, MM. menjelaskan ada beberapa perbedaan antara wisuda kali ini dengan tahun lalu. 

Ia mengatakan tantangan dalam mempersiapkan acara ini cukup besar. Selain karena besarnya jumlah wisudawan dan hadirin yang diundang, ada beberapa persiapan lain yang perlu dimatangkan seperti aturan wajib scan QR Code dan pembagian tempat duduk bagi para pendamping, penunjuk arah di dalam venue, hingga fasilitas photoboth. Menurutnya, hal tersebut baru pertama kali diterapkan pada tahun ini. 

“Itu ide baru pertama kali dijalankan tahun ini, sebelumnya belum ada,” ungkapnya ketika diwawancarai.

Ketika ditanya alasan di balik membludaknya mahasiswa yang di wisuda tahun ini, ia menjelaskan bahwa wisuda biasanya diadakan pada bulan April setiap tahunnya. Namun karena kondisi tahun lalu yang masih terhalang pandemi COVID-19, agenda tersebut terpaksa mundur hingga baru bisa dilaksanakan sekarang. 

“Dampak COVID-19 itu berpengaruh banyak pada schedule. Biasanya kita lakukan (wisuda) di bulan April jadinya kita undur ke bulan Desember. Ternyata pas 3 Desember kemarin (statusnya) masih PPKM. Sampai akhirnya baru bisa masuk di bulan Januari, jadi sekalian kita mengadakan dies natalis,” terangnya.

Ia juga membeberkan kendala yang ia dan tim hadapi. Ia mengaku bahwa selama persiapan acara terdapat perubahan acara sebanyak 12 kali. Meski begitu, dirinya menganggap bahwa itu merupakan hal yang wajar dan terus berpikir positif sembari melakukan yang terbaik. 

Meski berjalan lancar hingga akhir, Yoga menganggap masih ada beberapa kekurangan yang terjadi selama acara berlangsung. Hal tersebut mulai dari keluhan pendamping saat men-scan QR Code, jaringan LAN yang bermasalah, petugas keamanan yang tidak tegas, serta para wisudawan yang meninggalkan tempat sebelum acara selesai tuntas. Menurutnya, hal tersebut perlu diperhatikan lagi kedepannya. 

Menjelang akhir wawancara, Yoga memberikan pesan kepada para wisudawan agar menjadi sarjana yang kreatif, inovatis, dan aktif serta terus mengembangkan diri di zaman persaingan ketat seperti saat ini.  

“Saya berharap mereka sukses, bermanfaat bagi keluarga, bangsa, dan negara. Intinya jangan buat diri sendiri. Jadilah sarjana yang kreatif, inovatif, dan aktif apalagi di jaman persaingan seperti sekarang. Saat ini bukan lagi ijazah yang dilihat, tapi kemampuan soft-skill,” pesannya sesaat sebelum sesi wawancara berakhir.

Reporter : Rifqa Dhea Andarin

Editor : Fransiska Angelina Widiyanti

 2,457 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.