Jakarta, Media Publica – Memasuki awal tahun baru, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) berencana menggelar Ujian Akhir Semester (UAS) pada 9 – 13 Januari 2023 mendatang. Berdasarkan Surat Pengumuman nomor 674/A/SEK/FIKOM/XII/2022, Fikom resmi memutuskan bahwa pelaksanaan UAS akan diadakan secara daring (online) melalui situs akademik UPDM (B) terbaru, siAkadCloud. 

Sebagian mahasiswa Fikom mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut. Keputusan ini dinilai membingungkan lantaran pelaksanaannya berbeda dengan Ujian Tengah Semester (UTS) lalu yang digelar secara tatap muka. Selain itu, penggunaan situs akademik yang baru juga dirasa masih membingungkan bagi mahasiswa. Lalu, apa sebenarnya alasan UAS diadakan secara daring? 

Ditemui Media Publica pada (3/1), Dr. Adiella Yankie Lubis, S.I.Kom., M.I.Kom selaku Ketua Program Studi Fikom UPDM (B) menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara sistem UTS dan UAS pada semester ini.

“UTS (diadakan offline) itu untuk menguji seberapa besar mahasiswa paham dengan materi yang sudah dijelasin selama setengah semester. Soal ujian kebanyakan masih seputar sebutkan, apakah, bagaimana. Kayak gitu akan lebih dapet feel-nya kalau ngerjain secara on the spot,” terangnya. “Sedangkan untuk UAS, pertanyaan yang diberikan lebih mengarah ke studi kasus. Itu enggak mungkin dikerjakan di kelas makanya dibuat take home. Karena banyaknya yang take home jadi tidak perlu diadakan secara offline”. 

Menanggapi penggunaan siAkadCloud, dirinya tak menampik kebingungan mahasiswa dalam menggunakan situs tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, ia beserta staf akademik telah menyiapkan e-book panduan penggunaan siAkadCloud. 

“Karena sistemnya baru pasti masih ada yang tidak tahu, itu pasti. Sebenarnya kalau enggak salah manual book-nya udah mereka (SEVIMA) kirim. Tapi kalau dirasa belum jelas juga, nanti kita buat yang lebih mudah dimengerti,” pungkasnya saat diwawancarai di Laboratorium Terpadu Fikom UPDM (B). 

Tak hanya itu, penggunaan e-paper untuk penugasan dan jawaban ujian juga akan memudahkan dosen dalam mendeteksi tingkat plagiasi. Hal ini dapat melatih mahasiswa agar tak terbiasa copy-paste tanpa memberikan referensi atau sumber yang dinilai tidak etis di dunia perkuliahan

Paperless bentuknya file akan bisa kita submit ke Turnitin. Sudah kita implementasi untuk mengurangi culasnya pengumpulan tugas atau skripsi,” ujarnya.

Sebagai tambahan, pihak fakultas mengatakan akan mulai mengurangi penggunaan kertas dalam segala kegiatan perkuliahan, baik itu saat penugasan hingga ujian. Hal ini dilakukan sebagai aksi nyata untuk mengurangi pemanasan global. 

Antisipasi Kendala Saat Menggunakan siAkadCloud

SiAkadCloud merupakan sistem informasi akademik berbasis cloud yang bekerja sama dengan PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA). Sistem ini memiliki fitur pengisian KRS, melihat KHS, jadwal kuliah, absensi, mengirim tugas, serta membayar tagihan kuliah.

Tak dapat dipungkiri, baik mahasiswa ataupun dosen sampai saat ini masih beradaptasi dalam menggunakan siAkadCloud. Jika terjadi kendala teknis saat ujian, dirinya mengatakan baik mahasiswa maupun dosen dapat menghubungi pihak berwenang untuk meminta bantuan.

“Kalau dosen pasti akan dibantu sama staf akademik,” ungkapnya. “Hal yang sama juga berlaku ke mahasiswa. Kalau ada kesulitan, pertama ke dosennya dulu. Kalau dosennya mengerti akan langsung dibantu”. 

Tampilan penugasan melalui siAkadCloud. Nantinya mahasiswa akan melampirkan tugas dengan mengunggah jawaban di kolom komentar. (Foto: Media Publica/Siska)

Dirinya meyakinkan bahwa nantinya ia dan staf akademik akan terus berkoordinasi jika terjadi sesuatu yang menghambat jalannya UAS. Hal ini dilakukan agar informasi yang disampaikan tetap sama dan tidak menimbulkan kebingungan meskipun disampaikan oleh pihak yang berbeda.

“Jalurnya banyak kok dan informasinya pasti satu. Karena apa yang saya tahu, akan saya kasih tahu ke staf akademik biar jawabnya sama,“ terangnya.

Dirinya juga mewanti-wanti mahasiswa agar mempersiapkan ujian sebaik mungkin. Karena jika tidak, hal tersebut akan turut menghambat pihak fakultas. Perihal penilaian, ia mengatakan bahwa ada beberapa indikator yang digunakan dosen dalam menerima jawaban ujian.

“Penilaian itu ada objektif dan subjektif. Kalau objekif, dosen akan melihat nama (mahasiswa) nya siapa dan hasil pekerjaannya. Kalau subjektif, dia akan melihat dari sisi rajin atau tidaknya dan keaktifan mahasiswa seperti apa. Jika misal kehadiran cuma 20%, hak prerogatif dosen sebagai pemegang mimbar untuk tidak menerima, begitu juga sebaliknya,” imbuhnya. 

Di akhir wawancara, Yankie juga memberi tahu jadwal pelaksanaan beberapa agenda fakultas kedepannya seperti sidang Praktik Kerja Lapangan (PKL) hingga sidang skripsi. Dirinya mengatakan bahwa agenda-agenda tersebut akan turut dilaksanakan dalam waktu dekat. 

“Kalau (sidang) PKL akan diadakan di bulan Januari. PKL ini kan ada kaitannya langsung sama transkrip nilai karena hasil nilai PKL itu nanti akan masuk di transkrip. Makanya pelaksanaan tidak akan jauh dari UAS supaya input nilainya enggak jauh” terangnya.

Sementara itu, pelaksanaan sidang skripsi diperkirakan akan diadakan pada bulan Februari 2023 secara tatap muka. Ia mengungkapkan pelaksanaan sidang yang digelar secara tatap muka dipilih untuk mengurangi risiko gangguan teknis yang lebih banyak terjadi saat sidang online berlangsung.

Pihak fakultas nantinya juga akan memfasilitasi segala keperluan sidang mulai dari peralatan hingga pembagian jadwal. Diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik mungkin.

Reporter: Fransiska Angelina Widiyanti

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 824 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.