Jakarta, Media Publica – Di dunia perkuliahan, kinerja dosen dalam mengajar tidak jarang menjadi polemik yang sering diperbincangkan. Hal ini dikarenakan peran dosen yang dianggap menjadi teladan dan referensi utama bagi mahasiswa dalam menempuh pendidikan.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disampaikan bahwa dosen harus mampu meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Selain pendidikan akademik melalui penyampaian materi, dosen turut andil dalam mengajarkan budaya-budaya yang membentuk tabiat mahasiswa seperti kebiasaan untuk datang kelas tepat waktu, mengumpulkan tugas sesuai ketentuan, dan lain sebagainya. Namun, pada implementasinya relatif banyak ketidakpuasan yang datang dari mahasiswa terkait kinerja ajar dosen.

“Contohnya deh soal power point, kalau mahasiswa bikin power point materinya asal copas (red-copy paste) dan hasilnya halaman power point-nya banyak dan padat itu ternyata cerminan dari beberapa dosen di kelas. Beberapa dosen pun buat power point seperti itu,” terang Wilqi Pratama, seorang mahasiswa umum Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) angkatan 2022.

Wilqi berpendapat bahwa dosen ketika membuat power point seharusnya berisikan poin utama saja. Sisanya pembahasan secara lisan sehingga bisa membuat mahasiswa berpikir, mengingat, serta mencatat. Jikalau dari dosen saja dibiasakan mengajar seperti itu akan sulit untuk membentuk kualitas mahasiswa yang unggul.

Selain itu, ia turut membandingkan dosen di Fikom UPDM (B) dengan kampus swasta lainnya. Menurutnya, di kampus swasta lain, dosen-dosennya memiliki aturan yang pakem dan ketat sehingga membuat mahasiswanya disiplin. Sementara di Moestopo apa-apa serba dimudahkan. Sehingga baginya, kebiasaan tersebut tidak mendorong mahasiswa untuk berkembang serta siap menghadapi dunia kerja.

“Saat kelas, materi dibacain oleh dosen yang ia lihat dari power point lalu dikirim power point-nya kepada mahasiswa untuk bahan ujian. Selanjutnya akan dicontoh oleh mahasiswanya di mana saat presentasi cuman baca power point depan kelas. Alhasil mahasiswa akan terbiasa text book, cuma modal membaca dan menghafal. Ketika sudah lulus jadi sarjana text book, di dunia kerja jadi zero,” ucap Wilqi.

Apa yang Wilqi sampaikan selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2022 yang menyatakan tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5,83 persen dari total penduduk usia kerja yakni sebanyak 208,54 juta orang. 35,2 juta orang atau 14 persen dari angka pengangguran itu berasal dari lulusan jenjang diploma dan sarjana (S1). Hal ini membuktikan bahwa sekadar memiliki gelar sarjana tidak menjamin sukses di dunia kerja.

Menanggapi persoalan ini, Rafly Setya Dharmawan selaku mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fikom UPDM (B) 2021/2022 turut menyampaikan pendapatnya. Ia berujar bahwa BPM Fikom UPDM (B) sendiri pernah membuat survei terkait kinerja ajar dosen yang menuai respon beragam dari mahasiswa.

“Saat itu, mahasiswa menjawab puas tapi hanya ke beberapa dosen saja. Jadi hanya puas akan cara ajar dosen-dosen tertentu. Kalau keluhan kebanyakan mereka (mahasiswa umum) mengeluh terkait bagaimana dosen menjelaskan di kelas. Ada yang kurang jelas dalam menjelaskan, ada yang ngelantur, ada juga yang terlalu santai,” ujar Rafly saat ditemui Media Publica pada Rabu (10/11).

Rafly sendiri selama berkuliah turut memperhatikan kinerja dosen dalam mengajar. Ia merasa cukup puas dengan kinerja dosen yang masih berusia muda. Namun untuk dosen yang sudah berumur, ia merasa tidak cocok dikarenakan metode ajar yang mereka gunakan terkesan kuno dan membosankan.

Namun, pendapat berbeda datang dari mahasiswa Fikom UPDM (B) 2022 yang identitasnya tidak ingin disebutkan. Menurutnya, memang benar dosen menjadi faktor penentu kualitas mahasiswa, tetapi kalau dari mahasiswanya yang sulit diajar, tidak mau aktif di kelas, serta datang ke kampus untuk sekadar malas-malasan itu sudah berbeda ranah. Memang dari individu mahasiswanya lah yang sudah tidak memiliki kualitas.

Demi tercipta suasana yang ideal, ia berpendapat seharusnya dosen dan mahasiswa bisa lebih memahami satu sama lain, bisa menjadi teman diskusi, serta dosen pun bisa lebih menerima saran dan kritik dari mahasiswanya tanpa rasa ketersinggungan. Seorang dosen yang bisa menyesuaikan sikap, ramah, serta dekat dengan mahasiswa akan turut mendorong mahasiswa menjadi lebih aktif dan terbuka.

Maka dari itu, penting bagi para dosen untuk mulai memikirkan kembali cara mengajarnya. Karena di tangan para dosen lah sarjana-sarjana terbaik bisa terbentuk.

Pihak kampus sebagai pemangku kekuasaan turut memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas dosen-dosennya. Karena jika para dosen tidak memiliki standarisasi yang jelas disertai dengan evaluasi setiap tahunnya oleh pihak kampus, maka tidak heran apabila mengambil sikap untuk membangun kualitas mahasiswa menjadi sekadar pilihan bukan kewajiban untuk setiap dosen yang mengajar di Fikom UPDM (B).

Reporter: Aisyah Dwina Septariani

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 1,008 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.