Jakarta, Media Publica – Setelah melaksanakan kuliah daring selama hampir dua tahun, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) kini akan kembali mengadakan perkuliahan tatap muka yang dimulai pada Selasa (17/5) hingga akhir semester genap. Kebijakan ini tertera dalam Surat Pengumuman Nomor 187/A/SEK/FIKOM/IV/2022.

Kuliah tatap muka kembali digelar dampak dari turunnya angka kasus COVID-19 di Indonesia. Selain penurunan kasus, kuliah tatap muka dilaksanakan sesuai dengan anjuran dari Kemendikbud terkait penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di lingkup perguruan tinggi. Lalu, bagaimana mekanisme perkuliahan tatap muka di Fikom UPDM (B)?

Ditemui oleh Media Publica pada Kamis (12/5), Pelaksana Tugas (Plt) Dekan Fikom UPDM (B), Muhammad Saifulloh, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa perkuliahan tatap muka akan berjalan sebagaimana umumnya dengan tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

“Mekanisme perkuliahan offline akan berjalan seperti kuliah offline biasa. Yang membedakan lebih kepada penerapan protokol kesehatannya dan jumlah mahasiswa dalam satu kelas, sisanya semua sama,” ungkapnya ketika sesi wawancara berlangsung.

Saifulloh juga menjelaskan bahwa mekanisme perkuliahan offline nantinya baik mahasiswa maupun dosen diharuskan telah menerima vaksinasi COVID-19 minimal hingga dosis kedua sebagai syarat mengikuti kelas tatap muka tersebut.

Tidak hanya itu, ketika berada di kampus, seluruh civitas academica tetap diwajibkan untuk taat protokol kesehatan seperti sering mencuci tangan, mengenakan masker, tidak berkerumun, dan menjaga jarak antar sesama. Penempatan bangku mahasiswa di kelas juga diatur sedemikian rupa agar tetap aman dan nyaman saat kelas berlangsung.

Tak lupa, segenap civitas academica juga diminta untuk melakukan scan barcode pada aplikasi Peduli Lindungi sebagai salah satu langkah tanggap pencegahan penularan COVID-19.

Aktivitas mahasiswa Fikom UPDM (B) saat melakukan scan barcode melalui aplikasi Peduli Lindungi di kampus. (Foto: Media Publica/Siska)

Ketika ditanya terkait pembagian jumlah mahasiswa dalam satu kelas, Saifulloh menjawab bahwa semua kelas sudah bisa digunakan secara 100% tanpa adanya pembagian mahasiswa. Hanya saja nantinya perkuliahan akan dibagi per jadwal di dua tempat yang berbeda yakni Kampus I Hang Lekir UPDM (B) dan Kampus III Laboratorium Terpadu Fikom UPDM (B) di jalan Swadarma Raya, Pesanggrahan. Sehingga mata kuliah yang memiliki jumlah mahasiswa banyak, akan dicarikan kelas yang luas sehingga jarak antar sesama tetap bisa tercipta.

Saifulloh mengungkap bahwa sebenarnya pihak fakultas sudah mempersiapkan kuliah tatap muka dari jauh-jauh hari. Dirinya bercerita, Fikom sudah berencana melaksanakan kuliah tatap muka sejak awal perkuliahan semester genap 2021/2022 silam namun, karena terhambat perizinan dari Satgas COVID-19 Pemprov DKI Jakarta, perkuliahan tatap muka terpaksa diundur hingga Mei 2022.

“Sebenarnya kami sudah mau mulai sejak awal semester genap kemarin. Cuma waktu itu peraturannya masih belum memperbolehkan. Kita sudah mengajukan izin ke Satgas COVID-19 Pemprov DKI Jakarta, namun masih belum mendapat izin juga,” terangnya.

Polemik Perkuliahan Tatap Muka di Tengah Semester

Keputusan untuk mengadakan kuliah tatap muka di pertengahan semester menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Kebanyakan yang kontra ialah mahasiswa yang kuliah sembari bekerja. Hal ini terjadi lantaran bentroknya jadwal perkuliahan dengan jam kerja yang mereka miliki serta para mahasiswa tersebut merasa kebijakan ini diambil terlalu mendadak dan tidak ada transparansi dari pihak fakultas sebelum kuliah semester genap ini dimulai.

Menanggapi permasalahan ini, Ketua Program Studi Fikom UPDM (B), Dr. Adiella Yankie Lubis, S.Ikom., M.Ikom, mengaku telah mendengar adanya laporan tersebut dan sudah berdiskusi dengan pihak-pihak terkait termasuk dengan para dosen. Kelak keputusan akan dikembalikan kepada dosen-dosen yang mengajar mahasiswa tersebut.

Mahasiswa nantinya bisa berdiskusi dengan dosen mata kuliah yang mereka ikuti perihal jadwal dan akan dibantu untuk mencari solusi.

“Fakultas mengembalikan kebijakan masing-masing kepada dosen kalau mahasiswanya sudah menghubungi dosennya. Tentunya dosen akan berdiskusi dengan saya lagi terkait kebijakan yang dibuat,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan kemungkinan pindah jam kelas bagi mahasiswa yang jadwal kuliahnya bentrok dengan jam kerja mereka, dengan catatan dosennya tetap sama. Namun, dalam waktu-waktu tertentu seperti ketika Ujian Akhir Semester mahasiswa diminta untuk kembali ke jadwal awal.

“Kalau mahasiswa tersebut masuk kerja pagi, boleh pindah (jadwal kuliah) malam tidak? Boleh saja kalau dosennya sama. Maka dari itu diskusikan dahulu dengan dosen masing-masing. Kemungkinan besar akan dibantu sama dosennya. Bisa pula ngobrol bareng bertiga antara saya, dosen, dan mahasiswa untuk mencari solusi bersama,” terangnya.  

Selain itu, pihak fakultas tidak menutup kemungkinan akan adanya dispensasi kepada mahasiswa yang mengalami masalah. Selama ada pengajuan dari mahasiswa, pihak fakultas mengaku akan sigap membantu dalam proses penanganannya.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Saifulloh. “Kami masih membuka kesempatan bagi mahasiswa yang bekerja dan tidak bisa segera offline. Mereka bisa mengajukan dispensasi, jadi tidak ada masalah.”

Poster himbauan bagi segenap civitas academica UPDM (B) untuk tetap taat pada protokol kesehatan. (Foto: Media Publica/Siska).

Di akhir wawancara, Saifulloh berharap dengan diadakannya kuliah tatap muka dapat membawa dampak positif bagi mahasiswa maupun untuk civitas academica UPDM (B). Mahasiswa diharapkan bisa menerima muatan-muatan pendidikan lainnya di luar dari sisi akademik dan juga membantu mempromosikan UPDM (B) pada masyarakat yang ingin berkuliah tahun ini.

“Yang pertama, saya berharap muatan-muatan offline bisa disampaikan dengan baik. Online itu baik, tapi offline punya muatan experiences, muatan-muatan moral, dan muatan pendidikan lainnya yang kadang tidak bisa ditemukan ketika online berlangsung,” terangnya. “Kedua, saya berharap ketika offline berlangsung, dapat meningkatkan minat masyarakat untuk kuliah di UPDM (B). Jadi bagi yang ingin kuliah bisa memilih UPDM (B) sebagai tempat berkuliah karena sudah bisa offline.”

Tak lupa, Yankie juga berharap kuliah tatap muka bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya penularan dan setiap orang, termasuk pihak kampus, bisa mulai beradaptasi lagi dengan sistem perkuliahan yang sebelumnya daring kembali ke luring. Menurutnya, proses adaptasi sejatinya tidak akan selalu sempurna. Maka salah atau benar dalam pelaksanaan nanti akan menjadi bahan evaluasi pihak kampus dalam membuat kebijakan yang efektif.

Reporter: Fransiska Angelina Widiyanti dan Kurnia Setyawan

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 984 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.