Jakarta, Media Publica – Maraknya isu kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia belakangan ini menarik perhatian masyarakat luas. Hal ini mengakibatkan banyak aliansi, organisasi, hingga komunitas berbondong-bondong melakukan gerakan untuk menyerukan agar pemerintah segera melakukan tindakan tegas dengan mengesahkan aturan jelas guna menangani fenomena ini. Salah satunya ialah organisasi asal Yogyakarta, Women’s Empowerment Indonesia (WEI). 

WEI merupakan sebuah organisasi pemberdayaan perempuan yang aktif memberikan penyuluhan dan edukasi mengenai kesehatan perempuan, pendidikan, serta kesejahteraan gender. Dalam menjalankan misinya, WEI aktif melakukan penyuluhan melalui berbagai alternatif mulai dari webinar, workshop, Instagram Live, podcast, artikel, hingga konten-konten yang dibagikan melalui akun Instagram @womenempowermentindonesia

Desy Putri Retna Sari selaku Founder dari WEI memberitahu bahwa inisiatif untuk membentuk WEI muncul setelah ia menghadiri sebuah pelatihan di Yogyakarta. Di sana, ia bertemu dengan berbagai komunitas dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) daerah Yogyakarta yang berfokus pada isu perempuan. Dari situlah ia memiliki keinginan untuk mendirikan organisasi miliknya sendiri. 

Desy Ratna Sari selaku Founder dari Women’s Empowerment Indonesia. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Peneliti bidang Bioethics and Medical Humanities Universitas Gadjah Mada ini juga mengungkapkan bahwa latar belakang terbentuknya WEI juga merupakan hasil pengalaman hidupnya yang besar di keluarga patriarki dan salah satu penyintas kekerasan seksual. Ia mengaku mendapatkan kekerasan seksual ketika bekerja di salah satu yayasan besar sebuah organisasi Indonesia. 

Meskipun terjadi beberapa tahun yang lalu, trauma akan pengalaman pahit itu masih dapat ia rasakan hingga saat ini. Namun, alih-alih berfokus pada pengalaman tersebut, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan kegiatan positif lain termasuk mendirikan WEI. Ia berharap WEI dapat memberikan manfaat serta pengetahuan kepada perempuan Indonesia mengenai isu kekerasan perempuan. 

“Saya harap teman-teman WEI tahu apa yang harus dilakukan ketika mengalami perlakuan kekerasan seksual, tahu bagaimana tindakan selanjutnya, dia tahu consent tentang tubuhnya. Bagi saya, edukasi merupakan fondasi paling awal. Akan sia-sia jika langsung mengambil tindakan advokasi tanpa mengetahui dasar pemahaman tentang kekerasan seksual,” jelasnya dalam sesi wawancara bersama Media Publica pada Senin (13/12).

Menanggapi Aturan Kekerasan Seksual yang Sedang Ramai Dibicarakan

Fenomena kekerasan seksual yang akhir-akhir ini sedang ramai di masyarakat turut menarik perhatian Desy serta organisasinya. Ia berujar bahwa untuk kekerasan seksual sendiri sebenarnya sudah memiliki aturan yang mengikat, yakni di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XIV tentang kejahatan kesusilaan. Namun menurutnya, pembahasan di dalam aturan tersebut masih kurang karena masih banyak definisi-definisi kekerasan seksual lainnya yang masih belum tercantum.

Maka dari itu, ia menanggapi baik adanya Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Perempuan (RUU TPKS) dan Permendikbud No.30 mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi. Akan tetapi, yang memang sudah resmi diberlakukan hanya Permendikbud No. 30 saja dan aturan tersebut ia anggap masih belum cukup kuat dalam memberantas kasus kekerasan seksual di masyarakat.

“Kita boleh berbangga diri dengan adanya peraturan (Permendikbud) tersebut, namun itu hanyalah sementara karena sebenarnya peraturan ini masih belum kuat. Ini terjadi karena peraturan tersebut dibuat di bawah menteri, kecuali jika peraturan ini masuk ke dalam undang-undang itu baru kuat. Karena itu kita harus terus mengawal RUU TPKS untuk segera bisa disahkan sehingga kalau sudah mencapai level undang-undang itu baru sudah jelas,” tegasnya. 

Terakhir, Desy berharap mahasiswa dapat terus mengawal RUU TPKS dan Permendikbud No. 30 ini hingga sah. Ia juga meminta mahasiswa untuk aktif melaporkan apabila menemui kejadian kekerasan seksual khususnya di lingkungan kampus. Tak lupa ia juga berharap agar kedepannya wanita Indonesia bisa mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki baik itu di bidang politik, pendidikan, hingga karir yang jauh lebih baik lagi dari saat ini.

Reporter: Fransiska Angelina Widiyanti

Editor: Salsabila Rahma Saputra

 2,759 total views,  3 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.