Jakarta, Media Publica – Female In Action (FIA) bersama Nusantics Indonesia mengadakan sebuah webinar kolaborasi bertemakan “Mengenal Lebih dalam Kekerasan Verbal vs Fisik pada Perempuan dan Tips Terlepas dari Toxic Relationship”. Acara ini diselenggarakan pada Jumat (22/10) di aplikasi Zoom Meeting.

Izqadinda Nurhalizza selaku Co-Founder dari Sanity Indonesia memulai webinar dengan menjelaskan pengertian kekerasan menurut World Health Organization (WHO). Menurut organisasi tersebut, kekerasan ialah penggunaan kekuatan fisik atau kekuasaan dengan sengaja, ancaman, atau tindakan nyata, terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok.

Ia membagikan data dari catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2008-2011 yang menjelaskan bahwa ada 471 ribu kasus kekerasan perempuan yang terjadi selama rentang waktu tersebut. Sementara pada tahun 2020, hasil statistik menunjukkan kekerasan yang paling tinggi adalah kekerasan pada fisik yang berjumlah 5.548. 

Menurutnya, ada empat faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan, yaitu biologis, kognitif, sosial, dan juga faktor situasional. Selain itu, ada juga kecenderungan seseorang melakukan suatu kekerasan karena bawaan dari lahir.

“Jadi ketika ada faktor biologis yang tidak sempurna bertemu dengan lingkungan yang salah, akan menghasilkan sebuah sikap atau perilaku kekerasan dari sebuah individu,” terang Nurhalizza.

Kognitif sendiri itu dari pola pikir masing-masing orang. Kemudian faktor sosial menyangkut ke hubungan antara individu dengan lingkungannya. Ia berkata bahwa mungkin lingkungan sosial dari seseorang mempunyai bentuk yang salah, sehingga seorang individu berpikir bahwa melakukan kekerasan adalah sesuatu yang wajar.

Terakhir adalah faktor situasional yang berarti ada situasi khusus yang membuat seseorang mau tidak mau melakukan sebuah tindakan kekerasan.

“Sebenernya sih selalu ada pilihan. Cuma kadang ini menjadi sebuah faktor yang sangat mendorong, contohnya faktor ekonomi, lalu ada faktor strata sosial yang membuat individu harus melakukan kekerasan,” ujar Nurhalizza.

Kekerasan dalam Hubungan Sosial

Kekerasan tidak hanya dilakukan oleh antar manusia yang saling membenci, tapi juga bisa saja dilakukan oleh orang yang sudah dekat satu sama lain. Hubungan yang tidak sehat atau kerap disebut toxic relationship menjadi permasalahan yang sering dialami oleh kawula muda zaman sekarang.

Yola Widya Melani selaku Associate Psychologist di Deep Small Talk dan Lembaga Layanan Psikologi Psikomorfosa yang menjadi pembicara kedua mengungkap alasan sebuah hubungan itu penting bagi manusia.

Menurutnya, sebuah kebahagiaan tidak dapat dicapai tanpa adanya hubungan sosial. Maka dari itu, ketika kita berada dalam suatu hubungan, kita memiliki tantangan untuk menyeimbangkan dan mempertahankan identitas pribadi dengan kepribadian pasangan kita.

“Pada saat seseorang memiliki hubungan dengan orang lain, ini akan berdampak kepada mental health-nya dan physical health-nya juga mortalitize-nya,” ujar Yola.

Yola juga berujar bahwa toxic relationship terjadi kalau emosional dan fisik seseorang sudah diganggu atau dirusak oleh pasangannya. Hubungan yang tidak sehat tersebut disebabkan adanya permasalahan atau tuntutan yang kompleks antara sosial, budaya, atau ekonomi. Biasanya terjadi pada hubungan yang sudah lama berjalan.

Ketiga narasumber beserta satu moderator saat sesi tanya jawab berlangsung. (Foto: Media Publica/Salsa)

Untuk mengidentifikasi apakah hubungan yang kita jalani sudah tidak sehat, Astari Tripuspita selaku Konselor FIA Care menyampaikan bahwa ada rumus ABCD yang dapat menolong kita mengetahui hal tersebut.

“Pertama ada accusation atau tuduhan, di mana teman-teman akan selalu dituduh seperti, ‘kamu selingkuh ya?’ atau selalu muncul tuduhan yang tidak relevan. Berikutnya adalah blame di mana semua jadi salahnya kita. Misalnya seperti, ‘kalau kamu gak begini, aku pasti gak akan mukulin kamu sih’, nah ini jatuhnya menyalahkan,” terang Astari saat menjabarkan rumus ABCD.

Lebih lanjut perihal rumus ABCD, ada criticism atau kritikan yang salah satu bentuknya adalah body shaming. Kritikan yang diberikan bukan merupakan kritikan yang membangun, tetapi kritikan yang menjatuhkan. Terakhir ada demand dimana kita dituntut untuk bisa melakukan semua hal.

“Ketika sudah mengetahui adanya rumus ABCD, teman-teman harus waspada karena ketika empat unsur itu muncul terus menerus, maka bisa dibilang seseorang itu terjebak di dalam toxic relationship,” tutur Astari.

Selanjutnya, Astari juga membahas bagaimana cara untuk membangun hubungan yang sehat. Pertama adalah kenali diri sendiri. Hal ini mungkin terdengar mudah, tetapi nyatanya itu merupakan yang paling susah untuk dilakukan bagi banyak orang.

“Kamu lah yang tahu kekurangan kamu, tahu apa yang ada di diri kamu, tahu apa yang worth it buat kamu. Prosesnya lama dilakukan, tetapi akan worth it ketika sudah mengenal diri sendiri,” jelas Astari.

Kedua ialah membangun komunikasi dua arah antar sesama. Jika terdapat unek-unek, Astari mengingatkan baiknya disampaikan dan tidak dipendam agar terjalin komunikasi yang baik. 

Selain itu, pahami pula batasan dan privasi pasangan. Walaupun hubungan itu terjadi antar dua orang, bukan berarti semua hal harus diketahui secara terbuka.

Terakhir adalah jangan takut sendiri. Menurut Astari ketika seseorang memiliki ketakutan untuk sendiri, dapat memicu kecenderungan untuk bergantung dengan orang lain. Hal ini yang membuat banyak orang sulit untuk lepas dari toxic relationship.

Acara ditutup oleh sambutan dari Gritte Agatha selaku Brand Ambassador FIA. FIA sendiri merupakan sebuah perusahaan rintisan di Indonesia yang mendukung mimpi para perempuan muda untuk mencapai versi terbaik dirinya dalam berkarir, memimpin, dan memberikan aspirasi kepada orang lain.

Pada Jumat (29/10) dan Sabtu (30/10), FIA akan kembali mengadakan webinar bertajuk, “Jadilah Bagian Womenpreneur Indonesia dan Ciptakan Inovasi Bisnis di Era Digital”. Pastikan kalian tidak lupa mendaftarkan diri ya, MPers!

Reporter: Salsabila Rahma Saputra

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 232 total views,  8 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.