Oleh: Fransiska Angelina Widiyanti*

Media Publica – Sebagai makhluk sosial, manusia selalu mencari cara untuk menjalin hubungan dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Tanpa adanya interaksi dengan individu lain, manusia akan kesulitan dan merasa kesepian dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Dalam membangun sebuah hubungan, manusia membutuhkan waktu dan komunikasi hingga akhirnya kedua individu ini saling membuka diri. Konsep pengungkapan diri ini seringkali disebut self disclosure

Ilustrasi: lifehack.org

Menurut Devito (1997), self disclosure adalah jenis komunikasi di mana seseorang mengungkapkan informasi tentang dirinya yang disembunyikan. Kesediaan individu untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, pengalaman yang pernah ia dapatkan dapat membawa pengaruh baik positif dan negatif bagi dirinya sendiri maupun orang lain. 

Namun jika pengaruh yang dibawa membawa dampak negatif, hal ini dapat membahayakan kedua pihak baik dari pihak yang mengungkapkan maupun yang menerima. Ada bermacam faktor yang membuat komunikasi ini menimbulkan penolakan atau respon negatif dari penerima pesan.

Hal itu seperti perbedaan latar belakang dan budaya, perbedaan pola pikir, pernyataan yang dianggap melenceng dari aturan norma masyarakat, hingga kesalahan dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.  Menurut John Powell (2006), self disclosure memiliki beberapa tingkatan dalam penerapannya, antara lain:

1. Perkenalan

Dalam tahap ini biasanya diisi dengan pengungkapan diri yang paling dasar, topik yang dibahas cenderung dangkal, dan terkesan basa-basi. Tidak ada hubungan khusus yang terjadi dan biasanya dilakukan sebagai bentuk kesopanan. 

2. Membicarakan hal-hal yang di luar diri

Bisa membicarakan tentang suatu fenomena, kebijakan, orang lain hingga lingkungan sekitar. Pada tahap ini, hubungan khusus masih belum terjalin karena tidak ada pengungkapan diri yang spesifik.

3. Pengungkapan pendapat pribadi

Ketika seseorang sudah berani untuk mengeluarkan pendapat atau gagasan pribadi, hubungan yang dijalin sudah bisa dikatakan mulai erat. Pengungkapan pendapat antara individu satu dengan individu lainnya dapat membantu seseorang untuk mempelajari karakter dan perilaku satu sama lain. Dengan mengetahui karakter individu, dapat membantu individu lainnya untuk memposisikan diri ketika berkomunikasi dengannya. 

4. Perasaan

Keterbukaan antar individu dalam tahap ini semakin dalam. Setiap individu mampu mengungkapkan emosi masing-masing. Dalam tahap ini, individu sudah mulai menunjukkan adanya sikap saling percaya dan keakraban satu sama lain.

Pengungkapan diri tidak hanya dilakukan secara langsung. Dengan semakin canggihnya teknologi, manusia dapat melakukan proses komunikasi kapan dan di mana saja dengan seseorang yang bahkan berjarak ratusan kilometer darinya dengan hanya berbekal internet dan sebuah perangkat lunak disebut gawai. Hal ini juga didukung penemuan media sosial yang sangat populer belakangan ini.

Mengutip dari investopedia, media sosial adalah teknologi berbasis komputer yang memfasilitasi penggunanya untuk berbagi ide, pemikiran, dan informasi melalui jaringan virtual dan komunitas. Berbagai fitur dan kemudahan yang ditawarkan media ini membuat banyak orang berbondong-bondong untuk menggunakannya demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan seperti relasi yang luas, pengakuan sosial, pengetahuan, hingga pundi-pundi penghasilan. 

Lewat media sosial pula pengguna dapat dengan bebas membagikan suatu hal mengenai dirinya dan apa yang ingin ia pikirkan. Pengungkapan diri dengan menggunakan media sosial sangat umum terjadi di kalangan pengguna, terlebih lagi pada usia-usia produktif. Keterbukaan diri yang tinggi dapat menarik minat orang lain terhadap dirinya, namun juga dapat memancing pengaruh buruk seperti komentar jahat hingga pelecehan verbal. 

Fenomena ini bukanlah hal baru, sudah banyak sekali kasus percobaan bunuh diri hingga gangguan kesehatan mental yang seseorang terima akibat penggunaan media sosial. Sebut saja kasus yang baru-baru ini dialami oleh salah satu Youtuber muda Indonesia, Gita Savitri Devi. 

Gita Savitri Devi adalah salah satu dari sekian banyaknya konten kreator Indonesia yang membagikan konten berisikan pandangan pribadinya terhadap suatu fenomena. Sebut saja konten pada segmen #beropini yang mengomentari isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat khususnya di Indonesia.

Gaya pembawaannya yang lugas, apa adanya, dan kritis ini mendapat banyak dukungan dan pujian dari penontonnya. Namun, konten ini juga memancing komentar negatif hingga bullying dari pengguna media sosial karena terkadang dianggap melenceng dari norma, munafik, hingga dianggap terlalu kritis. 

Gita Savitiri Devi dalam unggahan konten yang berjudul “Hello all” di akun Youtube pribadinya, Sabtu (22/5). (Foto: youtube.com/gitasavitridevi)

Menurut pengakuannya dalam konten berjudul “Hello all” yang ia unggah pada 22 Mei 2021 lalu di akun Youtube pribadinya, Gita sudah berusaha keras untuk berlaku seperti biasa dan tidak terlalu memikirkan komentar negatif yang ia terima. Namun lambat laun, komentar-komentar negatif yang diterima tidak dapat dibendung lagi dan akhirnya memengaruhi kondisi psikisnya.

Gita juga mengungkapkan perasaan dibenci orang lain dan tidak berharga seringkali datang menghampirinya. Pikiran untuk mengakhiri hidup juga sempat terbesit di otaknya. Menyadari kesehatan mentalnya terganggu, Gita memutuskan untuk hiatus dari media sosial untuk memulihkan kondisi psikisnya. 

Komentar negatif dan bullying yang menimpa Gita Savitri diduga berasal dari cuitan lamanya di media sosial Twitter yang terkesan kasar dan tidak sesuai dengan konten-konten yang ia produksi saat ini. Selain itu, beberapa pernyataan bertemakan feminitas yang pernah ia ungkapkan di berbagai platfom seperti YouTube dan Instagram juga ditengarai yang memancing datangnya komentar negatif dan bullying. 

Maraknya kasus bullying dan komentar negatif karena pengungkapan diri membuat banyak pengguna merasa khawatir dan tidak berani untuk mengungkapkan pendapat. Padahal tujuan utama media sosial adalah untuk membagikan pendapat dan ide kepada pengguna lainnya. Hal ini sangatlah buruk karena dapat memutus daya kritis seseorang dan membuat media sosial menjadi wadah yang tak lagi nyaman digunakan penggunanya.

*Penulis merupakan anggota LPM Media Publica periode 2020-2021

 502 total views,  2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.