Jakarta, Media Publica – Sudah lebih dari satu tahun lamanya Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menyebar ke seluruh dunia. Memberikan banyak dampak, mulai dari lumpuhnya ekonomi hingga seluruh aktivitas normal yang dilakukan manusia ikut terhenti. 

Terhitung kurang lebih sebelas bulan pula pihak lembaga pendidikan mengeluarkan surat edaran terkait kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, kini berubah menjadi daring. Perubahan tersebut bukan hanya berpengaruh terhadap peserta didik saja, akan tetapi berpengaruh pula terhadap pedagang yang berjualan di sekitar institusi pendidikan itu sendiri.

Salah satu yang terdampak adalah fotokopi Karya Nyata yang menjual jasanya persis di seberang Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)), Hang Lekir, Jakarta Pusat. Biasa menjadi tempat yang selalu ramai dikunjungi mahasiswa demi mempermudah tugas-tugas mereka, kini Karya Nyata tampak sepi dan hanya diisi oleh karyawannya saja.

“Tetap jalan cuman omzet terjun, kalau saya pribadi hampir 70% turunnya. Misal dari satu juta jadi 300 ribu, dari 100 ribu jadi 30 ribu. Drastis lah pokoknya,” ujar Teguh, salah seorang karyawan Karya Nyata saat ditanya Media Publica mengenai tempat usahanya di tengah pandemi, Senin (18/1).

Melihat kenyataan pahit yang tengah dialami, Teguh memutuskan untuk merubah jam operasional toko demi menghemat beragam biaya. Jika biasanya buka pada pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 21.00 WIB, kini hanya buka pukul 08.00 WIB hingga 19.00 WIB.

Teguh tengah menyunting tugas yang diminta mahasiswa Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)) secara daring yang dikirimkan melalui surel karyanyata16@gmail.com. (Foto: Media Publica/Kevino)

Pria berusia 45 tahun itu mengungkap kejadian yang dialami saat ini merupakan kondisi terburuk sejak Karya Nyata berdiri pada akhir tahun 90-an. Maklum, Teguh merupakan salah satu pendiri Karya Nyata dan sudah merasakan asam garam kehidupan sejak Era Orde Baru.

Walaupun dalam kondisi yang buruk, pria yang bertempat tinggal di Radio Dalam, Jakarta Selatan itu tak mau menyerah begitu saja. Baginya, kondisi seperti sekarang bisa menjadikan setiap orang lebih kreatif lagi dalam mempertahankan usahanya.

Selain itu, bagi para pengusaha yang terdampak, Teguh meyakini para pengusaha tersebut bisa belajar banyak dan menerapkan hal-hal baru agar bisa beradaptasi. Sebab menurutnya, manusia itu memiliki ciri khas untuk selalu beradaptasi agar bisa bertahan menghadapi berbagai kondisi.

“Kalau kita gak beradaptasi, matilah usaha kita. Di sisi lain, kita cuma diberikan dua pilihan oleh Tuhan dan keadaan, mau mati atau beradaptasi? Iya toh,” tuturnya sembari tersenyum.

Teguh menuturkan salah satu hal baru yang sudah ia terapkan adalah membuka jasa daring bagi mahasiswa yang membutuhkan jasanya. Ia juga tidak pandang bulu terhadap tugas yang ia terima, karena baginya semua itu adalah rezeki yang diberikan Tuhan untuk mempertahankan usahanya.

“Saya merupakan tipe orang yang tidak banyak memilih, ada kerjaan ya ambil saja. Kalau tidak mengerti, tinggal belajar. Apabila salah, tinggal diulangi. Salah itu sesuatu yang wajar bagi setiap orang, lama-lama juga terbiasa. Jangan takut gagal lah pokoknya,” kata Teguh yang berusaha untuk selalu positif.

Nasib serupa juga dialami oleh Agus, pemilik usaha warung kopi di sekitar kampus UPDM (B), Hang Lekir. Ia mengatakan semenjak berlakunya kebijakan kegiatan belajar mengajar secara daring, warung kopinya menjadi sangat sepi.

“Berasa banget, bisa 50% lah penurunan omzetnya. Jatuh banget. Dulu bisa dapat 150 ribu paling sekarang dapat 70 ribu,” keluh Agus.

Pria yang kerap disapa Kang Agus itu memang dikenal akrab dengan mahasiswa UPDM(B). Saat kuliah masih berjalan normal, warung kopinya selalu ramai dihampiri mahasiswa-mahasiswa yang ingin melepas penat sehabis menimba ilmu di kelas. 

Pagi hingga malam, mahasiswa datang silih berganti mengisi bangku-bangku yang tersedia di bawah pohon besar yang rindang. Memang bukan tempat bersua yang mewah, namun kesederhanaan warung kopi Kang Agus membuat tempat ini menjadi istimewa di mata mahasiswa.

“Kangen juga sama anak-anak. Saya merasa kehilangan. Biasanya kan bisa diandelin lah. Pada jajan, minum, ketawa-ketiwi. Kadang juga saya suka titip warung sama mereka. Sekarang pada gak ada,” terangnya.

Potret semangat Agus ketika ada pembeli yang mampir ke warung kopi miliknya di Jalan Hang Lekir, Jakarta Pusat. Ia tampak sumringah setiap kali gelas kosong terisi dengan air berasa yang diraciknya. (Foto: Media Publica/Kevino)

Kendati demikian, Agus sendiri merasa bersyukur masih diperbolehkan berjualan di daerah tersebut. Ia pun turut mensyukuri kehadiran karyawan-karyawan restoran ataupun ruko-ruko di sekitar kawasan Hang Lekir yang datang ke warung kopinya walaupun jumlahnya tidak banyak. Karena bagi Agus, hidup itu perlu disyukuri, apapun yang terjadi.

Hang Lekir sendiri memang terkenal kawasan yang cukup padat dilalui banyak orang. Selain ada kampus dan perumahan warga, banyak juga tempat usaha yang tiap harinya masih harus berjuang mengais rezeki di tengah gempuran krisis multidimensi ini. 

Titik terang jalan keluar dari pandemi COVID-19 terlihat masih jauh. Namun, baik Teguh maupun Agus, mereka sama-sama tetap berusaha menjaga nyala hidupnya dengan cara mereka masing-masing.

Reporter: Kevino Dwi Velrahga

Editor: Media Publica

 807 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.