Oleh: Ranita Sari*

Enam tahun seusai kepergianmu. Tak terasa kini telah di awal tahun. Lagi dan lagi, waktu seakan cepat berlalu. Namun, selama itu hadirmu masih terasa hangat diingatanku.

Kenapa ya, rindu seakan tak mau hilang dalam hitungan tahun? Seakan berhutang, mungkin hanya dengan temu rindu bisa dilunaskan. Aku tak akan menyerah. Masih di sini dengan tabah menunggu isyarat yang entah memanggilmu pulang atau merelakan hilang.

Perihal melupa bukan suatu hal yang bisa dipaksa. Sekalipun aku mencoba, ingatan itu justru semakin kuat. Melekat pada ruas-ruas jalan yang pernah kita lewati. Menjelma bayang yang kini hanya bisa kukenang.

Sesekali aku bermonolog, menerka-nerka tentang bagaimana kabarmu di sana? Meski jarak tak berpihak, aku mengadu pada Tuhan agar menjagamu dengan baik. Saat hari-harimu terasa berat, doaku memelukmu erat.

Seusai kepergianmu, aku belajar menata hati agar lebih bijak mengobati lukanya sendiri. Aku belajar memahami arti berdamai dengan diri sendiri.

Perihal ingatan, beberapa di antaranya mungkin akan terus menetap sebagaimana semestinya. Jadi tak perlu memaksa untuk dilupakan, tapi ikhlaskan.

Merelakan dan menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu, sudah cukup memberiku kedamaian untuk melanjutkan hidup. Mungkin sudah waktunya aku menutup semua lembar kisah yang pernah kita tulis bersama.

Terima kasih, kamu sudah menaruh titik menjadikannya akhir. Padahal aku ingin meletakkan koma, supaya Tuhan bisa melanjutkan kisah kita dengan skenario-Nya yang paling indah.

*Penulis merupakan mahasiswi Fikom UPDM (B) angkatan 2016 yang juga merupakan anggota LPM Media Publica

 664 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.