Jakarta, Media Publica – Menindaklanjuti surat edaran dari Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)), nomor 745/A/R/UPDM/III/2020 tentang perubahan proses belajar mengajar dari tatap muka menjadi berbasis internet, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UPDM(B) langsung bergerak cepat untuk merealisasikan hal tersebut di lingkungan Fikom. Dr. Prasetya Yoga Santoso, MM selaku Dekan Fikom langsung memberikan instruksi agar perkuliahan dilakukan secara online mulai dari 16 – 27 Maret 2020.

“Kegiatan ini bisa dilakukan dalam bentuk mengunggah materi melalui anjungan dosen, pemberian tugas, ataupun bentuk lainnya sesuai dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS),” ujar Yoga dalam surat pengumuman nomor 141/A/Sek/FIKOM/III/2020 yang disebar melalui media daring.

Wakil Dekan I Fikom, Dr. Novita Damayanti M. Si mengatakan bahwa Fikom turut berpartisipasi dalam pencegahan atau mengantisipasi penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) dengan memberlakukan metode pembelajaran jarak jauh (online). Dengan menggunakan metode tersebut, tentu tidak memberatkan mahasiswa dan dosen untuk datang ke kampus dan dapat mengantisipasi COVID-19.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menerapkan kelas online dari tanggal 16-27 Maret 2020 untuk mencegah penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). (Ilustrasi: google.com)

Novita menyampaikan beberapa metode yang bisa digunakan oleh dosen dan mahasiswa. Pertama, bisa melalui Google Classroom, aplikasi dari Google. Kedua, bisa memanfaatkan anjungan dosen sebagai media untuk memberikan bahan ajar dan bisa diunduh oleh mahasiswa melalui anjungan mahasiswa. Ketiga, melalui grup WhatsApp per kelas sebagai tempat komunikasi awal antara dosen dan mahasiswa, serta memanfaatkan e-mail sebagai media penghubung.

“Karena di Moestopo banyak dosen-dosen senior yang tidak terlalu mengikuti perkembangan zaman, terutama online, jadi metode pembelajaran disesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing dosen,” ujar Novita.

Senada dengan Novita, Dr. Wahyudi M. Pratopo, M. Si selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) Fikom mengatakan bahwa dosen diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk menentukan metode pembelajaran jarak jauh.

“Banyak aplikasi pembelajaran online saat ini, misalnya Google Classroom, di sana banyak fitur yang tersedia sehingga dosen dan mahasiswa bisa berinteraksi. Lalu melalui grup WhatsApp juga boleh, intinya Fikom memberi keleluasaan kepada para dosen,” ucap Wahyudi.

Untuk absensi, dosen juga diberi kebebasan untuk mengaturnya, bisa dari tugas, bahan bacaan, bahkan bisa juga melalui sudah atau belumnya mahasiswa bergabung ke dalam Google Classroom.

Persiapan Fikom menghadapi kelas online

Fikom sendiri sudah menunjuk tiga karyawan, antara lain Pak Juni, Pak Warso, dan Pak Eko untuk memberi asistensi teknis pembelajaran online (kelas online) kepada para dosen yang masih membutuhkan bantuan.

“Tentu ada dosen-dosen yang sudah familier dengan pembelajaran online, tetapi ada juga beberapa dosen yang belum terbiasa. Sehingga kami menyiapkan tim asistensi untuk menghadapi kendala teknis yang dialami setiap dosen,” sahut Wahyudi.

Sementara itu, menurut Wahyudi tidak ada kendala berarti yang ditemukan, hanya ada beberapa kendala mengenai mahasiswa yang masih sulit untuk login ke dalam Google Classroom.

“Awalnya di kelas yang saya ajar, ada beberapa mahasiswa yang mengalami kendala untuk masuk ke dalam Google Classroom. Alhamdulillah teman-teman sekelasnya saling memberitahu bagaimana cara masuk ke dalam Google Classroom, sehingga tidak ada kendala berarti,” pungkas Wahyudi.

Ternyata, pemberlakuan kelas online ini mendapat dukungan dari Pradnya Nurilla Frizan, salah satu mahasiswi Fikom angkatan 2017. Pradnya mengatakan bahwa keputusan yang diambil pihak rektorat serta yayasan UPDM(B) sudah baik dalam mengurangi risiko penyebaran COVID-19. Ia juga berharap kesempatan pembelajaran jarak jauh dimanfaatkan mahasiswa sebaik mungkin dan bukan menjadi ajang untuk liburan.

“Pemberlakuan ini saya dukung sepenuhnya dan berharap dapat dimaklumi oleh seluruh mahasiswa serta dipergunakan sebaik mungkin karena ini bukan ajang untuk berlibur atau pergi berkumpul dengan khalayak, melainkan untuk menjaga diri di rumah dan melakukan aktivitas seperti biasa tanpa perlu keluar rumah apabila tidak terlalu penting,” ujar Pradnya.

Penggunaan Google Classroom sebagai metode pembelajaran jarak jauh (online). (Foto: Media Publica/Kevino)

Senada dengan Pradnya, Sammy Bastian, mahasiswa Fikom angkatan 2019 berpendapat bahwa langkah Fikom sudah tepat karena sesuai dengan himbauan Presiden Joko Widodo yang menyarankan untuk melakukan social distancing demi keamanan diri sendiri serta meminimalisir penyebaran COVID-19. 

Mengutip dari Tirto.id, social distancing adalah langkah yang dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dengan cara menjaga jarak dan kontak langsung dengan orang lain. Masyarakat diminta untuk menghindari pertemuan besar atau kerumunan orang, jika memang harus berada di sekitar orang, jaga jarak dengan orang lain sekitar kurang lebih dua meter.

Walaupun mendukung metode pembelajaran ini, Sammy sendiri sempat mengalami kendala saat menjalani kelas online pada Senin (16/03) lalu. Dia menuturkan tugasnya sempat tidak terkirim karena kurang familier dengan Google Classroom. ”To be honest gue mengalami kendala karena gue baru tahu Google Classroom, sempat kirim tugas ke dosen tapi katanya tugas gue belum masuk,” jelas Sammy.

Fanissa Irawan, mahasiswi Fikom angkatan 2019 ikut mengomentari metode kelas online di Fikom UPDM(B). Menurutnya, pembelajaran menjadi kurang efisien karena tidak semua mahasiswa online pada saat kelas dimulai yang mengakibatkan mahasiswa yang tidak aktif atau sedang offline tertinggal pelajaran.

“Penyampaian materi lewat online juga kurang, gak semua mahasiswa mengerti dan itu dapat menurunkan minat belajar mahasiswa. Dari segi pemahaman terhadap materi pun berbeda dibandingkan kuliah tatap muka, kuliah online agak sulit dipahami,” ucap Fanissa.

Kritik juga datang dari Melati Dwi Pratami, mahasiswi Fikom angkatan 2018 yang berpendapat bahwa Fikom belum siap untuk melaksanakan kuliah secara online karena hanya fokus memberikan tugas dan materi, tetapi tidak menjelaskan ulang materi tersebut serta tidak menjabarkan tugas secara detail.

“Sepertinya sistem kampus kita belum memungkinkan untuk kuliah secara online karena cuma dikasih materi dan tugas aja lewat anjungan (mahasiswa), apalagi kita mau Ujian Tengah Semester (UTS),” ucap Melati.

Melati berharap kedepannya Fikom dapat membuat sistem pembelajaran online yang lebih produktif, tidak hanya mengirim tugas dan materi ajar saja. “Tidak semua mahasiswa langsung mengerti hanya dengan membaca. Bertanya melalui chat pun tak seenak kalau dikomunikasikan secara langsung,” tutupnya.

Reporter: Dzaky Nurcahyo dan Kevino Dwi Velrahga

Editor: Safitri Amaliati

5,258 total views, 28 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.