Wot Batu merupakan karya seni dari seniman kontemporer, Sunaryo Soetono yang didirikan pada 2012 dan dibuka untuk umum sejak 2015. Wot Batu tersusun dari 135 + 1 batu di lahan 2000 meter persegi. Kata wot batu sendiri diambil dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti jembatan batu.

Sunaryo menganggap bahwa batu dapat mengkoneksikan spiritual jiwa dan raga manusia, sehingga hal tersebut menjadi alasan penggunaan media batu sebagai karya. “Menurut beliau (Sunaryo), batu bisa mengkoneksikan spiritual antara jiwa dan raga kita,” ucap Ambar, selaku Exhibiton Guide di Wot Batu.

Wot Batu terbagi menjadi dua area, kanan dan kiri. Area kanan dan kiri dipisahkan oleh sebuah jembatan batu. Karya di area kanan Wot Batu lebih bersifat abstrak dan intuitif, sedangkan karya di area kiri lebih bersifat logis dan informatif. Pemisahan ini dapat direlasikan seperti cara kerja otak manusia.

Area Abstrak dan Intuitif Wot Batu

Pengunjung dapat melihat karya pertama yang berbentuk berpasangan yaitu batu abah dan batu ambu. Kata abah dan ambu diambil dari Bahasa Sunda yang berarti ayah dan ibu. Batu abah dan ambu diambil dari kota yang agama hindunya kental, India dan Bali. Oleh karena itu, bisa direlasikan dengan lingga dan yoni yang terdapat di hindu artefak. Selain itu, batu ini juga direlasikan dengan negatif dan positif, serta yin dan yang.

Batu Abah dan Batu Ambu di Wot Batu yang merepresentasikan sosok ayah dan ibu. (Foto: Media Publica/Safitri)

Jika dilihat, batu abah berbentuk seperti tiang, sedangkan batu ambu berbentuk datar dan memiliki cekungan, ternyata hal ini merupakan representasi dari ayah dan ibu.

“Representasi ayah dan ibu itu kan berbeda. Laki-laki biasanya digambarkan sebagai sesuatu yang berdiri tegak, gagah, dan tegas. Sedangkan perempuan biasanya ibarat daratan yang landai atau bisa diartikan menerima, mengayomi dan menjadi landasan,” jelas Ambar.

Ciri khas dari Wot Batu sendiri ialah semua karyanya bisa disentuh, diduduki, disandarkan, maupun dipegang. Hal ini ditunjukkan oleh batu merenung, batu yang bisa diduduki. Melalui batu ini pengunjung dapat melihat perspektif keseluruhan dari Wot Batu, mulai dari bagian kiri hingga kanan.

Batu Langit dan Batu Bumi yang juga dilambangkan sebagai sosok ayah dan ibu. (Foto: tripadvisor.com)

Di sebelah kiri batu merenung terdapat batu langit dan batu bumi. Batu ini juga termasuk salah satu karya yang memiliki karakteristik dualisme, seperti batu ayah dan batu ambu. Dalam filsafat Indonesia, batu bumi direpresentasikan sebagai ibu, sedangkan batu langit sebagai ayah.

Selanjutnya pengunjung diajak melihat karya berikutnya, yaitu panggung kehidupan. Di panggung kehidupan ini terdapat tiga buah karya yang berkesinambungan yaitu batu indung, batu mandala, dan batu parahu. Mulai dari kelahiran hingga perjalanan menuju kematian disimbolkan melalui batu-batu tersebut.

(Kiri) Batu Indung , Batu Mandala, dan Batu Angin (Foto: tripadvisor.com). (Kanan) Batu Parahu sebagai perlambangan proses manusia menuju kematian (Foto: Media Publica/Safitri).

Batu indung merupakan simbol dari kelahiran, karena indung berarti ibu dalam Bahasa Sunda. Karya ini sangat personal bagi Sunaryo karena terbuat dari pohon jambu yang dicetak dengan perunggu untuk memorabilia ibunya. Di sampingnya ada batu mandala yang merupakan simbol relasi manusia ke manusia lain atau makhluk hidup. Batu ini memiliki pasangan yaitu batu angin, simbol hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ini juga salah satu karya yang memiliki karakteristik dualisme, yaitu relasi horizontal dan vertikal.

Selanjutnya, batu parahu merupakan simbol perjalanan manusia dari lahir hingga kematian. Di antara batu parahu dan batu mandala terdapat pembatas yang memiliki arti tersendiri. Sunaryo ingin menyisipkan sesuatu yang berantakan di sesuatu yang rapi, sehingga ada dua karakteristik yang berbeda.

Untuk pemisah antara bagian kehidupan dan kematian, terdapat lawang batu. Selain disimbolkan untuk memisahkan dua area ini, lawang batu juga sebagai simbol bahwa Wot Batu tercipta dari manusia modern dan mesin modern. Hal ini ditandai dengan adanya sidik jari Sunaryo pada batu. Sidik jari tersebut dipindai dan diperbesar, kemudian diukir pada batu tersebut. Dari sini pula pengunjung dapat membandingkan bahwa Wot Batu bukan situs yang sama dengan Stonehenge atau Machu Picchu. Dua situs tersebut terbuat dari alam, sedangkan Wot Batu terbuat dari manusia.

(Kiri) Lawang Batu berasal dari bahasa Jawa yang berarti pintu batu sebagai pemisah antara bagian kehidupan dan kematian. (Kanan) Batu Air yang terdapat di ujung area Wot Batu sebagai penanda bahwa manusia akan kembali ke pangkuan Tuhan. (Foto: Media Publica/Safitri)

Di ujung area Wot Batu terdapat karya yang merupakan simbol dari afterlife atau kematian, yaitu batu air. Manusia pada umumnya menggambarkan kehidupan setelah kematian sebagai hal yang mengerikan, tetapi Sunaryo mencoba untuk menggambarkan menjadi hal yang lebih tenang. Susunan dari batu air ini membentuk kata ‘Altitude’ yang berarti ketinggian, Sunaryo sendiri baru menyadari bahwa batu tersebut membentuk sebuah kata setelah salah seorang rekannya memandangi terus-menerus batu air tersebut. Namun, nyatanya Sunaryo tidak merencanakan hal tersebut, baik dari jumlah batu maupun kata yang terbentuk dari batu tersebut.

Area Logis dan Informatif Wot Batu

Di atas Batu Peta terdapat informasi mengenai beberapa gunung di sekeliling Wot Batu. (Foto: Media Publica/Safitri)

Karya pertama yang pengunjung temukan pada area ini adalah batu peta. Batu ini menginformasikan bahwa Wot Batu berada di Bukit Pakar dan dikelilingi oleh beberapa gunung yang masih aktif maupun tidak aktif. 80% batu yang ada di Wot Batu berasal dari gunung di sekitar Bukit Pakar.

Tidak hanya beralaskan batu sebagai media informasi, penggunaan teknologi pun diterapkan di Wot Batu. Hal ini ditunjukkan melalui karya bernama batu ruang. Sebuah ruangan audio visual yang memutarkan video pembentukan alam semesta melalui teori big bang. Beberapa tekstur yang terdapat di dalam video merupakan karya dua dimensi Sunaryo yang dipindai dan disunting. Untuk menuju ke batu ruang, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga terlebih dahulu karena letaknya berada di bawah tanah. Ini merupakan simbol bahwa manusia akan kembali ke tanah setelah kematian.

Karya terakhir di Wot Batu adalah batu waktu. Batu waktu merupakan replika dari mesin jam, tetapi tidak menentukan satuan waktu manapun. Mesin ini bergerak 24 jam dan ditenagai oleh panel tata surya. Sunaryo percaya bahwa waktu merupakan bagian penting dari kehidupan, manusia pun tidak mengetahui kapan mulai dan berhentinya waktu tersebut. Sesuai dengan amanat gunung galunggung yang tertulis di tembok yaitu hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke. “Apabila ada masa sekarang, maka ada masa depan dan apabila tidak ada masa sekarang, maka tidak ada masa depan,” jelas Ambar.

(Kiri) Batu Waktu sebagai penanda bahwa waktu merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia. (Kanan) Batu Prasasti sebagai simbol peresmian Wot Batu oleh Anies Baswedan, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu. (Foto: Media Publica/Safitri)

Sebelum pengunjung mengakhiri perjalanan di Wot Batu, pengunjung akan ditunjukkan sebuah batu prasasti. Batu ini menandakan pengesahan Wot Batu dan merupakan bentuk kepedulian Anies Baswedan, ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Anies percaya bahwa Wot Batu akan berpengaruh pada kebudayaan maupun ilmu di Indonesia.

Dalam batu prasasti, Sunaryo tetap tidak menghilangkan ciri khasnya, ada karakteristik kosong dan terisi di batu tersebut, ‘yang kosong tidak akan selamanya terlihat kosong, yang terisi juga tidak selamanya terlihat terisi’.

Wot Batu beralamat di Jl. Bukit Pakar Timur No. 98, Bandung. Beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, pukul 10.00 – 16.00 WIB. Tiket masuk yang ditawarkan seharga Rp 50.000,- untuk umum dan Rp 30.000,- untuk pelajar dan seniman.

Editor: Intan Chrisna Devi

Reporter: Safitri Amaliati

545 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.