Dialog terbuka yang dilakukan antara perwakilan mahasiswa dengan para pimpinan UPDM(B), Rabu (4/12) di lantai 4 Gedung Merah Putih, Kampus Hang Lekir UPDM(B). (Foto: Media Publica/Kevino)

Jakarta, Media Publica – Dialog terbuka antara mahasiswa dengan para pemangku kepentingan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM(B)) telah dilaksanakan pada Rabu (4/12) di ruang 401, lantai 4 Gedung Merah Putih, Kampus Hang Lekir.

Hal ini merupakan hasil rangkaian dari aksi yang dilakukan pada hari sebelumnya, Selasa (3/12) yang menuntut Pejabat Sementara (Pjs) Rektor, Prof. Dr. Paiman Rahardjo, M.Si untuk mengadakan dialog terbuka antara seluruh elemen mahasiswa dengan seluruh jajaran yang ada di UPDM (B).

Dialog terbuka ini dihadiri oleh Pjs Rektor & Wakil Rektor UPDM (B), Perwakilan Yayasan UPDM (B), dan dekan tiap-tiap fakultas, kecuali Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Sedangkan dari pihak mahasiswa dihadiri oleh perwakilan lembaga tiap fakultas (Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan FKG) dan perwakilan dari mahasiswa umum. Dalam dialog terbuka, pembahasan berfokus pada empat tuntutan mahasiswa yang disuarakan. Empat tuntutan tersebut antara lain:

  1. Peningkatan sarana dan prasarana
  2. Meminta sistem keuangan yang transparan dan akuntabel
  3. Peningkatan sistem pendidikan berbasis 4.0
  4. Masalah Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang terus menurun

Rizky Afriansyah, selaku Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fikom, menyampaikan keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa Fikom. Ia menjabarkan data-data mengenai masalah sarana dan prasarana Fikom yang dinilai sudah tidak layak, seperti Laboratorium Televisi yang alatnya sudah tua & tidak mengikuti perkembangan zaman, Laboratorium Fotografi yang terlihat seperti toko kain karena tidak adanya alat yang tersedia, toilet di lantai 5 Gedung Perdamaian yang sudah tak layak pakai, hingga fasilitas WiFi yang belum ada di setiap lantai dan koridor gedung pembelajaran.

WiFi yang bisa diakses cuma dua, TP-LINK 405 dan TP-LINK 404, toilet yang sudah tak layak kayak gini gak tahu di-maintance atau tidak. Bahkan penempatan mahasiswa di kelas yang kecil, padahal dalam satu kelas terdapat lebih dari 30 mahasiswa, sampai desak-desakan hingga duduk di bawah,” ucap Rizky.

Rizky juga mengungkapkan keresahan mengenai PMB yang terus menurun dari tahun ke tahun. “Kita teman-teman Fikom selalu mengalami penurunan. Padahal pada PMB 2015 bisa menyentuh angka 461 mahasiswa, tetapi pada PMB 2019 hanya 240 mahasiswa, itu kenapa? Kami pertanyakan juga,” pungkasnya.

Senada dengan Rizky, Miftah Faiz, selaku perwakilan mahasiswa umum Fikom juga menyampaikan keresahannya. Faiz mengatakan bahwa sarana dan prasana Fikom masih belum memadai, tetapi yang lebih ia permasalahkan adalah transparansi dana yang ada UPDM (B). Laporan keuangan Fikom sendiri terakhir hanya ada tahun 2011, laporan ini bisa diakses dari website Fikom Moestopo.

Suasana dialog terbuka antara mahasiswa dengan para pimpinan UPDM(B), Rabu (4/12). (Foto: Media Publica/Kevino)

”Sudah delapan tahun tidak adanya transparansi dana dari pihak atas. Bagaimana ini bisa terjadi, kami mempertanyakan hal itu kepada bapak-bapak yang terhormat. Bila kita berkaca dari universitas lain, contohnya Universitas Mercubuana, di situ (website) terpampang jelas laporan keuangan terakhir dari universitas tersebut,” ucap Faiz.

Menanggapi tuntutan tersebut, Paiman Rahardjo mengatakan bahwa semua tuntutan yang disampaikan akan direalisasikan secepatnya, tetapi secara bertahap. Namun, ia sedikit menyayangkan kurangnya peran masing-masing fakultas dalam menangani masalah tersebut, terlebih tidak adanya laporan ke rektorat. Seharusnya pihak fakultas segera memberi tembusan kepada rektorat agar bisa disampaikan kepada yayasan.

Paiman juga menambahkan bahwa Pimpinan UPDM (B) kedepannya harus mau berdiskusi dan mengadakan dialog terbuka seperti ini, sehingga mahasiswa tidak perlu melakukan aksi dan memasang spanduk dengan kata-kata yang tidak bagus. Dengan melakukan dialog terbuka, bisa menjadi salah satu cara pemecahan masalah dan kebuntuan yang ada, karena mahasiswa dan pimpinan bisa saling bertukar pikiran. Sayangnya dialog seperti ini terkadang masih sering terjadi perdebatan dengan intensitas emosi yang cukup tinggi, sehingga baik mahasiswa maupun jajaran pimpinan harus bisa saling menjaga marwah masing-masing.

“Dialog terbuka ini memiliki tujuan yang baik, yaitu saling bertukar informasi, tetapi apa salahnya bila saling menjaga marwah masing-masing, saling menahan emosi dan ego diri. Mahasiswa juga tidak boleh memaksakan kehendak, saya kira itu yang paling penting,” ucap Paiman.

Senada dengan Paiman, Dr. Prasetya Yoga Santoso, MM selaku Dekan Fikom ikut berpendapat tentang dialog terbuka ini merupakan langkah baik yang patut untuk diapresiasi. “Alhamdulillah suatu kemajuan yang baik, kita bisa berkumpul, berdiskusi dan berdialog. Walaupun ada yang tidak puas dan kurang di beberapa bagian, tetapi tidak apa-apa. Ini suatu hal yang baik dan bisa menjadi budaya kita untuk suka berdialog dan berdiskusi,” ujar Yoga.

Yoga mengatakan di Fikom sendiri untuk fasilitas WiFi memang kurang, terutama Kampus Hang Lekir karena harus persetujuan rektorat terlebih dahulu untuk menambah fasilitas tersebut. Berbeda dengan Kampus Swadharma yang tidak perlu izin kepada rektorat, sehingga bisa ditambahkan sarana dan prasarana yang menunjang kenyamanan mahasiswa, seperti WiFi dan bean bag untuk tempat bersantai mahasiswa.

Kedepannya Kampus Swadharma akan dibuatkan kantin dan bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa yang memiliki usaha sendiri karena dinilai bisa menunjang dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan para mahasiswa, sehingga lebih mandiri ketika sudah lulus nanti. Akan tetapi, hal ini masih dalam tahap perencanaan, karena membutuhkan persetujuan dari pihak rektorat terlebih dahulu.

Mahasiswa Fikom UPDM (B) masih menginginkan dialog kembali

Walaupun sudah dilakukan dialog terbuka, tetapi mahasiswa ingin mencoba berdialog kembali karena kurang puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Pimpinan UPDM (B), terutama mengenai kondisi permasalahan yang ada di Fikom itu seperti apa dan kapan akan direalisasikan. Namun, untuk tempat dan waktunya masih belum bisa ditentukan.

“Penjelasan mengenai sistem keuangan dan transparansi dana yang akuntabel dirasa masih kurang, sehingga banyak mahasiswa yang masih mempertanyakan hal itu. Jawaban dari pihak pimpinan pun dirasa belum memuaskan, hanya bisa menjanjikan dan belum tahu kepastiannya seperti apa,” pungkas Rizky.

Berbeda dengan Rizky, Yoga mengatakan bahwa waktu untuk berdialog memang tidak pernah cukup, mungkin dialog selanjutnya bisa dilakukan secara internal di tiap-tiap fakultas. Ia akan bersedia untuk berdiskusi atau sekedar mengobrol apabila Mahasiswa Fikom meminta waktu untuk berbicara, mekanismenya bisa melalui Kepala Bagian Kemahasiswaan, yaitu Freddy Richardo, M.Si.

Paiman menuturkan hal serupa seperti Yoga, menurutnya keresahan mahasiswa sebaiknya disampaikan terlebih dahulu kepada fakultas masing-masing, sehingga rektorat tinggal eksekusi hal apa saja yang dirasa masih kurang. “Saya berharap tidak ada aksi lagi, karena semua aspirasi sudah saya tampung dan menjadi bahan evaluasi bagi kami. Mahasiswa cukup mengawal prosesnya dan menunggu aspirasinya terealisasikan,” tambah Paiman.

Adapun harapan yang disampaikan oleh Rizky terkait dengan hasil dialog terbuka, “Semoga permasalahan yang ada di kampus bisa terselesaikan dan kampus bisa berjalan secara efektif. Kita bisa sama-sama membangun Moestopo terutama Fikom untuk menjadi lebih baik,” tutupnya.

 

Reporter: Kevino Dwi Velrahga dan Kurnia Setyawan

Editor: Dzaky Nurcahyo

 

2,653 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *