Pertunjukan Lenong Preman (Sumber foto: budaya-indonesia.org)
Pertunjukkan Lenong Preman
(Sumber foto: budaya-indonesia.org)

Jakarta, Media Publica – Seiring dengan berkembangnya zaman, arus modernisasi yang melanda Indonesia tidak dapat terbendung. Banyak budaya asing yang mengancam kebudayaan asli Indonesia, salah satunya lenong yang merupakan aset kebudayaan Betawi. Lalu, bagaimana eksistensi lenong di tengah maraknya budaya populer?

Lenong adalah kesenian teater tradisional rakyat betawi yang muncul pada akhir abad 19 dengan musik gambang kromo sebagai pengiringnya. Dalam perkembangannya, lenong terbagi menjadi dua jenis yaitu lenong denes dan lenong preman. Lenong denes merupakan lenong dimana pemainnya menggunakan busana formal, seperti busana kerajaan dan  menggunakan bahasa melayu tinggi. Sedangkan lenong preman merupakan jenis lenong yang menceritakan kisah kepahlawanan seperti Si Pitung dan menggunakan bahasa sehari-hari.

Selain menghibur, fungsi dari lenong ialah sebagai medium kritik sosial dan ekspresi masyarakat terhadap lingkungan. Sebab, munculnya lenong di masyarakat tidak terlepas dari adanya kesadaran di masyarakat untuk berekspresi, mengantisipasi dan merespon peristiwa yang ada di sekitar mereka, khususnya saat kaum pergerakan bermunculan. Dahulu, lenong adalah sebuah pementasan yang menghibur sekaligus memberi pesan nasehat. Namun, saat ini lenong hanya memiliki kesan menghibur saja karena mengikuti kebutuhan pasar.

Meskipun mulai berkurang keberadaannya, lenong masih eksis di beberapa kesempatan. Hal tersebut dikatakan oleh budayawan Betawi Yahya Adi Saputra, “ya masih eksis, masih hidup. Di masyarakat masih ada yang panggil,” ujarnya ketika ditemui Media Publica di kawasan Terogong, Jakarta Selatan (18/6). Ia menambahkan, eksistensi lenong saat ini tidak dapat dilepaskan dari para penggemarnya.

Pasar yang lebih mengapresiasi kesenian modern dari pada tradisional juga menjadi pengaruh mulai lunturnya lenong di perkotaan, ditambah tindakan pemerintah yang dirasa belum memadai untuk membantu melestarikan lenong. Diakui Yahya, hal tersebut terjadi karena masyarakat terus diberikan mengenai budaya populer dibandingkan kesenian tradisional, “ya, iya pasar kan disodorkan dengan hal-hal begitu. Makanya pemerintah dengan konstitusi yang ada memiliki hak untuk membatasi itu.  Untuk memberi ruang pada kesenian, kan pemerintah daerah (punya) UU (red-Undang-Undang), udah memuat hal itu (mengenai) pelestarian kebudayaan. Karena kan ruang-ruang pertunjukan sebagian besar aset pemerintah daerah,” terangnya.

Selain tanggapannya mengenai eksistensi lenong, Yahya juga memaparkan pentingnya melestarikan lenong agar tidak hilang seiring berjalannya waktu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dua hal, pertama, pewarisan lenong harus tetap lancar dari generasi ke generasi serta pemahaman masyarakat terhadap kesenian dapat dipahami secara saksama. Kedua, masyarakat harus memilki kesadaran akan rasa tanggung jawab dalam mempertahankan identitasnya.

Yahya juga kembali menekankan bahwa peran pemerintah terhadap pelestarian lenong juga penting melalui peraturan mengenai pementasan lenong yang lebih intens. Selain itu, pemerintah dapat merealisasikan pewarisan lenong secara ilmiah, misalnya ada di dalam pelajaran sekolah berupa muatan lokal, atau mendirikan Sekolah Menengah Kesenian (SMK).

Di akhir perbincangan, Yahya mengutarakan harapannya mengenai Lenong. Ia berharap agar seniman lenong mampu menunjukkan eksistensinya yang diiringi dengan meningkatnya pengetahuan serta mengikuti zaman yang lebih modern.

“Selain itu pemerintah harus tegas dalam melaksanakan peraturan yang ada jadi betul-betul memihak dengan seniman-seniman ini,” tutupnya.

 

Reporter: Elvina Tri Audya dan Rangga Dipa Yakti

Editor: Dianty Utari Syam

2,437 total views, 12 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *