Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Penggunaan kendaraan bermotor saat ini memang sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, khususnya di daerah perkotaan. Namun siapa sangka, selain dari industri, ternyata kendaraan bermotorlah yang memiliki peran besar dalam pencemaran udara. Gas buang dari hasil pembakaran bahan bakar yang tidak terurai dengan sempurna, menghasilkan salah satu logam yaitu Timbal. Logam berat ini merupakan salah satu unsur yang terkandung di dalam bahan bakar kendaraan bermotor (bensin).

Timbal atau yang biasa disebut dengan logam Pb ini merupakan salah satu bahaya dari dampak polusi udara, khususnya untuk kesehatan. Logam Pb yang berasal dari gas buangan kendaraan bermotor terhirup oleh manusia, diserap, disimpan kemudian ditampung dalam darah pada tubuh manusia. Memang tidak semua Pb yang terhisap oleh tubuh, akan tetap tinggal terpendam di dalam darah. Sekitar 5-10% dari jumlah Pb yang terhirup akan diabsorsi melalui saluran pencernaan, lalu sekitar 30%-nya akan diabsorsi melalui saluran pernafasan dan sisanya akan tinggal di dalam tubuh manusia karena dipengaruhi oleh ukuran-ukuran partikelnya. Logam Pb yang terbang bebas di udara terdiri dari dua bentuk, yaitu dalam bentuk gas dan partikel-partikel.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen’, Winarno memaparkan bahwa Pb merupakan racun syaraf (neuro toxin) yang bersifat kumulatif, destruktif, dan kontinu pada sistem haemofilik, kardiovaskuler dan ginjal. Oleh karena itulah keracunan Logam Pb tingkat tinggi dapat berdampak buruk dan menimbulkan berbagai macam penyakit pada tubuh manusia. Seperti kerusakan sistem syaraf dan penurunan kecerdasan (tingkat IQ), meningkatkan tekanan darah, anemia, anoreksia, gangguan penglihatan, gangguan pencernaan, memperbesar resiko keguguran hingga menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Gangguan-gangguan kesehatan tersebut merupakan akibat dari reaksi Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan hemoglobin.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran Timbal pada lingkungan dan terpenting pada udara. Salah satunya ialah melalui pendekatan teknis. Yaitu mengupayakan berbagai cara agar pembakaran pada kendaraan bermotor dapat bekerja dengan sempurna dan juga mencari bahan bakar alternatif yang dirasa aman serta memiliki kandungan Pb yang rendah. Selain itu pemerintah harus memperketat pemantauan rutin terhadap kualitas bahan bakar kendaraan bermotor sehingga pada akhirnya logam-logam yang terkandung di dalam bahan bakar tak lagi berbahaya.

Selain Timah, ada banyak zat yang juga diemisikan  dari  knalpot  kendaraan bermotor yaitu Karbondioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NO2), Hidro Karbon (HC), Belerang Oksida (SO2) dan Particulate Matter (PM10). Zat-zat pencemar tersebut bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan namun juga menimbulkan  dampak  terhadap  lingkungan atmosfer yang lebih besar seperti hujan asam, kerusakan lapisan ozon stratosfer, dan perubahan  iklim  global.

Reporter: Rizky Damayanti

Editor: Rarasati Anindita

 2,970 total views,  5 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.