Oleh: Dwi Retnaningtyas*

Ilustrasi
Ilustrasi

Sulit memang. Sudah seumur hidup Wiwit mendengar wanita-wanita itu mencibir. Seakan-akan mencibir dan berfitnah adalah tugas utama mereka saat diturunkan ke dunia oleh Tuhan. Muak! Itu teriaknya setiap kali mendengar mereka menyebut nama sang Ibu. Ibunya hanya bekerja. Haruskah terus-menerus dikotori namanya seperti itu?

Apa yang salah kala seorang wanita bekerja dengan bernyanyi dan berjoget? Pertanyaan itu selalu diteriakkannya dalam hati tatkala Ibunya kembali jadi bulan-bulanan para nenek sihir itu.

“Sungguh memuakkan!” teriak Wiwit sambil membanting pintu rumahnya. Sudah hampir setengah jam para ibu nyinyir itu ngerumpi sambil beli sayur di depan rumahnya. Pembahasan mereka bukan apa yang akan dimasak hari ini atau berapa harga sawi satu ikat. Namun tentang ibunya, Ningsih, biduan setengah baya yang masih cantik di usianya yang hampir menyentuh kepala empat.

Beberapa mengatakan Ningsih memakai susuk agar terlihat awet muda. Ada juga yang bilang di bokongnya dipasangkan penglaris agar lelaki manapun yang melihatnya bergoyang akan memberi saweran berjumlah banyak. Ningsih memang orang yang enggan menanggapi setiap fitnah yang ditujukan padanya. Menurutnya selama apa yang ia lakukan halal dan tidak merugikan orang lain, serta mampu menghidupi anaknya, ia hanya perlu tutup mata, tutup telinga atas apa pun kata orang.

“Sudah, ndok… Biarkan saja mereka mau bilang apa,” ujar Ningsih sambil menjahit kancing seragam SMA Wiwit yang copot.

“Tapi, Bu… Kenapa diem terus sih? Sesekali lawan dong, atau apa aja deh,” balas Wiwit sembari melemparkan badan ke ranjang tepat di samping Ningsih.

“Buat apa, ndok?”

“Ya biar mereka diam dong, Bu. Kan Ibu gak kayak gitu”

Ningsih hanya membalas dengan senyuman. Wiwit makin jengkel dibuatnya. Kepalan tangannya makin menguat seiring dengan omongan ibu-ibu yang sengaja dibesar-besarkan itu.

“Sundal!” teriak salah satu dari mereka dengan sengaja.

Wiwit geram. Dengan cepat dia bangun dari ranjang. Namun, kepalan tangan itu dipegang oleh Ningsih. Dielusnya punggung tangan Wiwit dan perlahan kepalan tangan itu melunak. Ningsih meredakan amarah putrinya dengan sangat tenang. Matanya memancarkan sinar yang hangat, mampu membuat Wiwit yang berada di puncak amarah kembali menghela napas teratur dan menurunkan temperatur emosinya. Wiwit hanya bisa memeluk sang Ibu. Entah dari mana asal kesabaran itu.

***

Seisi kelas tertawa. Wajahnya pucat menahan tangis dan amarah. Sakit hatinya kini sudah hampir merontokkan ketegarannya untuk hidup. Hal terpenting di hidupnya justru diperlakukan seperti sampah. Ibu yang ia miliki satu-satunya tak pernah lepas dari cercaan. Bahkan berimbas pada dirinya sendiri. Jika bisa berteriak, ingin rasanya ia berteriak keras dan berkata bahwa Ibunya bukan sundal, wanita simpanan, pemakai susuk dan semua hinaan itu.

WIWIT ANAK HARAM. Tulisan di papan tulis itu sengaja dibuat oleh entah siapa.         Tangis tertahan itu membuat lehernya seperti tercekik. Hingga pada suatu saat, tangisnya pecah. Air mata itu keluar tanpa suara isakan, namun mampu membuat tangan dan kakinya lemas gemetar.

“Sudah cukup, Bu…” ucapnya dalam hati.

Sudah cukup. Iya, sudah cukup.

***

            16 tahun yang lalu…

Sore itu hujan. Bau tanah menyeruak mengiringi perjalanan Ningsih pulang ke kampungnya. Sudah hampir 1 tahun sejak kepergiannya dari kampung untuk merantau ke Jakarta. Sebagai yatim piatu, Ningsih harus membiayai seluruh kebutuhannya sendiri. Jakarta dipilihnya sebagai kota yang dianggapnya bisa menjadi tempat ia mengais rejeki.

Selama satu tahun, Ningsih banting tulang demi bisa bertahan di kerasnya ibu kota. Nunik adalah satu-satunya orang yang dikenal Ningsih di Jakarta. Nunik yang sedari kecil tinggal di panti asuhan yang sama dengan Ningsih, mengajaknya untuk mengadu nasib di Jakarta karena ditawari bekerja sebagai pembantu rumah tangga oleh teman lama. Namun, ternyata tawaran itu justru fiktif belaka.

Beruntung mereka masih memiliki sedikit uang untuk bisa menyewa sebuah kos-kosan kecil berdua dan sebagai modal untuk berjualan kue basah keliling. Mampu memenuhi kebutuhan makan sehari 3 kali dengan lauk seadanya dan membayar uang kosan walau beberapa kali hampir diusir karena menunggak bayaran.

Ada yang beruntung, dapat pulang ke kampungnya dengan membawa uang banyak untuk membeli ladang atau pun membangun rumah yang megah. Ada pula yang justru tidak kembali karena terlalu nyaman dengan segala yang diraihnya hingga lupa kampung halaman. Dan ada pula yang justru sama sekali tidak beruntung dan kembali ke kampung dengan tangan hampa. Seperti Ningsih, contohnya.

Nunik masih mencoba untuk terus beradu nasib sambil beradu jodoh karena bertemu dengan seorang supir taksi yang mencintai dan dicintainya mati-matian. Sementara Ningsih, terpaksa kembali ke kampung karena tidak mampu lagi hidup sengsara.

Kala itu Ia tidak pulang sendirian. Bukan seorang pria yang dibawanya, melainkan seorang bayi perempuan yang berkisar belum lebih dari dua bulan. Payung merah yang melindungi mereka dari hujan mungkin jadi satu-satunya saksi, bagaimana perempuan itu pulang dengan membawa beribu pertanyaan tentang bayi mungil yang dibawanya.

Ada yang hanya berani membicarakan Ningsih dari belakang, ada pula yang nekad bertanya langsung karena terlalu penasaran walau berakhir dengan senyuman sebagai jawaban.

“Sopo toh, ndok, bapak’e? Mbok yo kandani aku…” tanya seorang (yang katanya) teman.

Ningsih hanya menjawab, “iki anak ku, Mbak..” lalu dilanjutkan dengan senyum simpul yang menyiratkan banyak makna. Entah apa yang membuat Ningsih diam seribu bahasa. Ketika diam tidak lagi berarti emas, isu tentang Ningsih yang hamil di luar nikah menyebar dengan cepat seluruh kampung. Ada pula yang mengatakan Ningsih menjadi simpanan orang Jakarta dan dicampakkan karena hamil.

Entah bodoh atau terlalu takut mengungkapkan kebenaran, namun Ningsih sukses menggegerkan satu kampung dan membuatnya menjadi buah bibir, serta cercaan orang-orang. Nasib buruk tidak selamanya bersama Ningsih. Tak lama setelah Ia dan Wiwit kecil kembali ke kampung, seorang teman lama menawarinya untuk kembali menjadi biduan di orkes dangdut tempat Ningsih dulu pernah bekerja sebelum pergi ke Jakarta. Namun kali ini dengan tawaran yang lebih menggiurkan.

Jadilah Ningsih kembali bernyanyi dan bergoyang dari panggung ke panggung bersama orkesnya. Ningsih lantas melejit kariernya karena kemampuan bernyanyi dengan piawai dan bergoyang nan aduhai. Saweran membanjir setiap kali Ningsih menghibur di atas panggung. Pekerjaan ini mampu membuat kehidupan Ningsih membaik secara ekonomi. Namun tidak dalam kehidupan sosial. Semakin banyak yang mencibir, menghina, bahkan sampai melakukan teror berkali-kali. Ningsih tetap diam. Bertahan terus selama apa yang dilakukannya tidak merugikan orang lain…

***

            “Bu, kenapa semua orang bertanya-tanya siapa ayahku? Dimana ayah?”

Pertanyaan itu selalu dipertanyakan oleh Wiwit kepada Ningsih. Pernah dulu saat baru menginjak sekolah dasar, Wiwit kecil melakukan perkenalan di depan kelas. Setiap murid diminta memperkenalkan siapa dirinya sampai dengan nama orang tua dan pekerjaan orang tuanya. Ketika sampai pada giliran Wiwit, Ia hanya berdiri di depan kelas. Terhenti ketika tiba saatnya Ia menceritakan mengenai orang tua.

“Ibuku namanya Ningsih, Ibuku kerjanya bernyanyi… Ayahku… Hmm… Ayah…” seketika Wiwit terdiam. Seisi kelas menunggu apa yang akan dijawabnya. Beberapa justru tertawa kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Wiwit. Seakan-akan anak-anak kecil itu seperti sudah ditanami program cibiran di dalam sel-sel tubuh mereka.

“Wit, tidak mau dilanjutkan?” tanya Bu Sri, guru yang mengajar hari itu.

Wiwit menggelengkan kepalanya. Sontak anak-anak tadi tertawa terbahak-bahak membuat kelas menjadi gaduh dan membuat Wiwit menangis kencang karena malu dan tertekan. Langsung disambar tas merah milikinya, lalu lari keluar dari kelas. Beberapa guru sempat mencarinya ke semua tempat di sekolah, tapi nihil hasilnya. Salah satu dari guru yang mencari Wiwit justru menghabiskan pencariannya dengan mengumbar isu mengenai Wiwit dan Ibunya. Beberapa guru tidak peduli, namun tidak sedikit yang justru membicarakan dengan wajah sinis.

Tidak ada yang mau bantu mencarikan Wiwit ketika matahari mulai terbenam. Hanya tinggal Ningsih yang pontang-panting mencari berkeliling kampung. Malam pun datang dan hawa dingin mulai menusuk kulit. Wiwit tidak juga ditemukan.

Sampai ketika Ningsih memutuskan pulang dan menunggu di rumah, Ia menemukan Wiwit duduk menangis di depan pintu rumahnya. Malu, itu katanya. Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tangisnya tidak berhenti. Dasi sekolahnya sudah basah dipakai untuk mengelap air mata. Malam itu nelangsa dirasa Ningsih. Seperih itu melihat buah hatinya begitu sakit karena diamnya. Namun, urung niatnya mulai angkat bicara. Dia hanya harus diam, demi sang anak. Demi hidupnya. Demi masa depan. Hanya itu yang dipikirnya.

***

“Ibu bilang atau aku pergi dari rumah ini!”

Wiwit berteriak. Seisi rumah bergema dengan suaranya yang amat keras. Tangisnya kali ini terdengar menyesakkan. Tangan dan kakinya gemetar menahan segala amarah yang dibendungnya selama bertahun-tahun.

“Wiwit gak kuat, Bu! Wiwit salah apa sampai harus dihina seumur hidup Wiwit kayak gini?” tanya Wiwit.

“Wit, kamu anak Ibu… Ibu kerja, nyanyi, goyang, untuk kamu makan, sekolah, jalan-jalan sama teman-teman kamu,” jawab Ningsih berusaha tenang, namun raut cemas menempel jelas di wajahnya.

“Wiwit lebih baik makan nasi pakai garam daripada setiap saat dibilang anak haram, anak sundal. Wiwit lebih baik gak sekolah daripada dengar ibu diomongin setiap saat. Dan Wiwit gak punya teman, Bu! Gak ada yang mau temenan sama Wiwit!”

Wiwit keluar rumah. Pintu itu dibantingnya. Di depan rumah sudah berjajar ibu-ibu yang sepertinya mau tahu apa yang sedang terjadi dengan teriakan-teriakan itu. Beberapa terkekeh sambil melongok, beberapa memasang wajah sinis dan sisanya hanya ikut-ikutan saja.

“Ada apa lihat-lihat? Gak ada bosannya nguping dan ikut campur urusan orang?!” bentak Wiwit.

Ditantangnya mereka kali ini. Sudah cukup, gumam Wiwit. Ini yang terakhir, semua sudah cukup. Dilemparnya batu ganjalan pintu ke arah para ibu itu. Hampir mengenai salah satu ibu bertubuh kurus dengan daster hitam. Sontak segerombolan orang itu murka. Beberapa ibu mulai maju sambil menunjuk-nunjuk. Ada yang malah melepas sandal jepit sebagai alat tempurnya. Wiwit diserbu beramai-ramai. Satu orang ibu mulai mejambak rambutnya. Wiwit teriak histeris memanggil ibunya.

Ningsih keluar dan mendapati anaknya dikeroyok banyak orang. Dengan cepat ia lari dan berusaha menarik anaknya keluar dari gerombolan orang itu. Namun, amukan justru terarah padanya. Ningsih yang kemudian dipukuli, dijambak rambutnya, bahkan ada yang menendangnya hingga tersungkur ke tanah. Pelipisnya berdarah karena sempat terpukul batu oleh salah satu orang dari gerombolan itu. Lalu, semua gelap. Ningsih pingsan tersungkur di tanah.

***

Tanah ini masih basah. Hujan membasahi gundukan tanah yang masih segar tertabur bunga. Gadis belia itu enggan beranjak dari sana. Tangisnya tak kunjung terhenti. Nyawanya rontok lewat setiap air mata yang menetes di pipi tirusnya. Wiwit tak henti meratapi kepergian sang ibu yang begitu mendadak dan tragis.

Wajahnya babak belur dan penuh darah ketika dilihat sesaat sebelum dibawa ke rumah mantri. Namun, rasanya Tuhan memutuskan hal yang berbeda. Ningsih menghembuskan napas terakhirnya bahkan sebelum tiba di rumah mantri. Tidak ada yang mau menolong Wiwit membawa sang ibu, sehingga ia harus menggendong sendiri ibunya menuju rumah mantri yang jaraknya tidak dekat.

Langit sudah hampir gelap. Dinginnya malam makin menusuk tubuh. Akhirnya Wiwit memutuskan untuk kembali ke rumah, meninggalkan sang Ibu yang telah terkubur didalam tanah dan terbungkus kafan menanti masa penimbangan.

Rumah yang sepi itu kini makin hampa sejak kepergian Ningsih. Entah apa yang akan dilakukannya besok. Entah apa setelah ini. Pintu kamar Ningsih masih terbuka. Baju yang sedang dijahitnya saat itu masih terkulai di lantai. Dia membaringkan badannya ke tempat tidur sang ibu. Masih tercium bau tubuh sang ibu, membuat air matanya kembali menetes deras mengharap rengkuh dan belaian manja.

Suatu yang mengganjal terasa dari balik bantal yang ditidurinya. Diangkatnya kepala dan diambilnya bantal itu. Dibukanya sarung bantal yang membungkus. Sebuah surat beramplop putih ditemukannya. Tertuju ke Jakarta. Kepada Nunik.

 

Kepada sahabatku, Nunik.

Apa kabar kamu disana? Aku baik, namun hari ini aku tiba pada saat terburuk. Begitu sakit rasanya melihat Wiwit terluka karena diejek di sekolahnya. Kamu masih ingat Wiwit, bukan? Bayi mungil yang aku adopsi dari panti asuhan saat itu. Kini usianya sudah 9 tahun. Hidup sebagai wanita beranak tanpa suami di kampung ini sungguh menyedihkan. Namun, aku tidak akan bilang bahwa Wiwit bukan darah dagingku. Wiwit anakku. Aku tidak ingin dia merasakan yang kita dan teman-teman dulu rasakan. Hidup  tanpa orang tua karena dibuang begitu saja dengan alasan yang tidak dibenarkan pada sisi apa pun.

Salahkah aku, Nunik? Tapi dia putriku. Aku bersedia bekerja apa pun, selama itu halal dan bisa memberinya apa yang tidak aku miliki sejak dulu. Dan bisa dengan bangga menyebut aku adalah ibunya. Namun, bila ia masih sesakit ini, salahkah aku, Nik? 

Sahabatmu,

Ningsih

*Penulis adalah Mahasiswi Fikom UPDM(B) dan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica periode 2014-2015

 1,882 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.