Sumber : www.kpu.go.id
Sumber : www.kpu.go.id
Jakarta, Media Publica – 9 April 2014 sudah hampir dekat, di mana hari tersebut merupakan penentuan nasib Indonesia selama lima tahun kedepan. Rakyat Indonesia berbondong-bondong memilih calon wakil rakyatnya yang duduk di kursi parlemen kelak. Berbagai foto serta atribut berisikan latar belakang terpampang di sepanjang ruas jalan yang menyerukan kepentingan rakyat untuk maju dalam pemilihan legislatif, ini membuat kegelisahan masyarakat untuk memilih calon legislatif (Caleg) yang ideal.

Maka dari itu masyarakat perlu diberikan pembelajaran untuk dapat memberikan suaranya kepada orang yang tepat. Di satu sisi lain, ketidakpahaman masyarakat atas siapa caleg yang ideal membuat angka golongan putih (golput) tinggi. Golput diartikan sebagai golongan atau orang yang memutuskan untuk tidak memilih calon manapun saat pemilu baik untuk pemilihan presiden, anggota DPRD, anggota DPD atau pemilihan untuk posisi lainnya.

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat Pada Pileg tahun 1999 angka golput 10,2 persen, pileg 2004 (23,3 persen) dan pada tahun 2009 menjadi 29 persen pemilih yang tidak menggunakan haknya.
Melihat fenomena tersebut sangat miris, perlu beberapa pihak yang bekerjasama dan membantu dalam memerangi golput, media yang mempunyai peran dan fungsinya untuk memberikan informasi, mengedukasi, menghibur dan sebagai kontrol sosial kini tidak lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Dalam hal ini peran media untuk memberikan edukasi masih terlihat belum optimal, ini terpampang jelas bagaimana sulitnya masyarakat mengenali para calon wakil rakyat. Media harus memposisikan dirinya dalam membentuk wacana yang positif, memberikan pembelajaran serta bentuk informasi yang jelas dalam menjalankan kegiatan pemilihan umum (pemilu), sehingga dapat menimbulkan pemilu yang demokratis, dan sesuai dengan keinginan rakyat.

Media yang baik adalah media yang mampu memberikan atmosfer demokratik dalam pemilu mendatang, karena dengan adanya golput, masyarakat diposisikan sebagai anonim yang tidak mampu memilih, karena sesungguhnya pemilu yang ideal adalah yang diwujudkan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Penulis : Rati Prasasti

 2,058 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.