UU Desa disahkan, dana sebesar 10% dari APBN akan masuk langsung ke desa. (Sumber : Tempo.co)
UU Desa disahkan, dana sebesar 10% dari APBN akan masuk langsung ke desa. (Sumber : Tempo.co)
Jakarta, Media Publica – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Desa menjadi Undang-undang (UU), Rabu (18/12), untuk kemudian diimplementasikan pada tahun depan.

Wakil Ketua Pansus RUU Desa, Khotibul Umam Wiranu, mengatakan dirinya sangat optimis dengan produk baru DPR tersebut.
“Dengan disahkannya RUU Desa ini maka desa tidak lagi menjadi objek tapi subjek pembangunan,”ujarnya dalam siaran pers, Selasa (17/12).

Mengenai anggaran Khotibul mengungkapkan bahwa alokasi dana untuk desa tetap mulai dari Pendapatan Asli Desa, APBD, Dana Perimbangan dan Dana Dekonsentrasi.

“Istimewanya, anggaran dalam UU Desa ini akan ditambah dari anggaran yang sudah ada, antara lain dari APBN,” tambahnya. Umam menjabarkan sumber APBN yang akan dialokasikan ke desa, telah diutarakan dalam Pasal Nomor 72 dalam undang-undang tersebut.

Pasal itu menjelaskan bahwa dana alokasi desa yang berasal dari APBN, diambil sebesar 10 persen dari dana on top (dana dari dan untuk transfer daerah). Istilah dana on top adalah dana anggaran pusat dari kementerian dan lembaga yang selama ini juga mengalokasikan program-program untuk desa. Dari dana on top yang dialokasikan oleh kementerian dan lembaga untuk desa adalah sebesar Rp 42 Triliun dan tentu setiap tahun berubah.

“Kalau Rp 42 Triliun dibagi 73 ribu desa maka akan ketemu angka kurang lebih 600-an juta per desa,”ujar Umam. ia kemudian menambahkan dana yang diperuntukan tiap desa tidak akan sama dan akan dibagi secara merata dan berkeadilan.

“Merata yang dimaksud ialah semua desa mendapat alokasi dana APBN, tetapi ada indexnya, dalam penjelasan disebutkan misalnya antara lain variabel jumlah penduduk, angka kemiskinan, kesulitan geografis, dan luas wilayah,”jelas dia.
Ia pun juga menilai kendala sumber daya manusia (SDM) di UU desa sudah diakomodir. “Untuk SDM desa sendiri, akan melakukan empowering (pemberdayaan) kepala dan perangkat desa, yang akan mengelola keuangan desa,” jelas dia.

Umam menggambarkan pemberdayaan bisa dilakukan dalam bentuk pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara reguler dan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah. “ini merupakan tanggung jawab pemerintah pusat karena dananya kan dari pemerintah pusat,”kata dia.

Anggota Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Desa (Panja RUU Desa) Bachruddin Nasori menyatakan dengan ditetapkannya RUU Desa menjadi UU, maka Kepala Desa harus belajar pembukuan (accounting).

Sebab, dengan UU Desa yang baru disahkan ini oleh, dana sebesar 10 persen dari APBN akan masuk langsung ke desa.

“Dengan disahkan UU Desa, Kepala Desa harus belajar accounting karena kepala desa nanti akan menjadi pejabat pembuat komitmen. Jangan sampai kepala desa masuk penjara karena ketidakmengertiannya dalam mengelola keuangan,” kata Bachruddin usai rapat paripurna pengesahan RUU Desa di Gedung DPR RI.

Editor : Kris Aji Irawan

Sumber : Antaranews dan Tribunnews

715 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.