Seminar Nasional dalam Memperingati Hari HAM, Senin (9/12). Kiri-kanan: Hasan Aoni Aziz, Margarito Kamis, Standarkiaa (Moderator), Hendardi, Nurtanio Wisnu Brata dan Radhar Panca Dahana (Foto : Dianty Utari Syam)
Seminar Nasional dalam Memperingati Hari HAM, Senin (9/12). Kiri-kanan: Hasan Aoni Aziz, Margarito Kamis, Standarkiaa (Moderator), Hendardi, Nurtanio Wisnu Brata dan Radhar Panca Dahana (Foto : Dianty Utari Syam)

Jakarta, Media Publica – Rencana Pemerintah dalam melakukan aksesi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) tampaknya harus dikaji ulang. Sebab, jika tidak, maka dampak buruk akan menimpa petani tembakau, petani cengkeh dan industri rokok nasional.

Karena hal tersebutlah, maka diadakan Seminar Nasional yang sekaligus Memperingati Hari HAM 2013 yang akan jatuh pada 10 Desember. Seminar yang bertajuk “Dampak Pengendalian Tembakau Terhadap Pemenuhan HAM di Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya” ini bertempat di Hotel JS Luwansa, Kuningan pada Senin (9/12).

Seminar ini diselenggarakan oleh Center for Law and Order Studies yang bekerja sama dengan Serikat Kerakyatan Indonesia (SAKTI). Pembicara yang dihadirkan yakni Hasan Aoni Aziz selaku Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia, Margarito Kamis selaku Pakar Hukum Tata Negara, Hendardi selaku Penggiat HAM dan Direktur Setara Institut, Nurtanio Wisnu Brata yaitu Ketua Asosiasi Petani dan Radhar Panca Dahana yang merupakan seorang Budayawan.

Mengenai perlunya kajian ulang terhadap rencana aksesi FCTC oleh pemerintah bukanlah tanpa alasan. Leading sector yakni Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian dan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dipastikan akan menanggung dampak buruk dari aksesi FCTC. Diantaranya adalah matinya industri agro dan pengolahan yang merupakan domain Kementrian Perindustrian, PHK masal akibat berkurangnya penyerapan tenaga kerja yang merupakan domain Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta dampak berkurangnya volume perdagangan yang merupakan domain dari Kementrian Perdagangan.

Mengenai akan ada banyaknya masyarakat yang menjadi pengangguran, Hendardi sepakat dengan hal tersebut. Menurutnya, usaha di pertembakauan nantinya akan lebih terpuruk dan dampaknya orang kehilangan perkerjaan, “dari hal tersebut pemerintah diminta untuk memenuhi hak untuk masyarakat mendapat pekerjaan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, rokok kretek juga menjadi penanda atau identitas bangsa Indonesia. Rokok kretek yang dasarnya terbuat dari rempah-rempah menjadi ciri tersendiri bagi Indonesia yang terkenal akan kekayaan rempah-rempahnya, “merokok bukan lagi cara untuk mencari penghasilan, tapi cara mengekspresikan diri, meneguhkan eksistensi dari identitasnya,” tuturnya.

Reporter : Dianty Utari Syam
Editor : Kris Aji Irawan

1,128 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *