Oleh Mega Pratiwi*

Ilustrasi Korupsi (Sumber : Kompas.com)
Ilustrasi Korupsi (Sumber : Kompas.com)

Sepuluh tahun lalu, tepatnya 9 Desember 2003 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Anti Korupsi Internasional. Kata korupsi sendiri berasal dari bahasa latin, yakni “corruptio” (diambil dari kata kerja corrumpere), yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Permasalahan korupsi memang bukan hal yang baru bagi kita sekarang. Banyak cerita sejarah yang bisa dibaca dan dituliskan bahwa korupsi itu selalu ada dalam setiap pemerintahan. Fakta yang tidak terbantahkan bahwa upaya pemberantasan korupsi di Indonesia bukanlah hal yang baru. Banyak team atau lembaga dibentuk untuk memberantas korupsi, mulai dari tahun 1957 an sampai masa pemerintahan SBY-Budiono sekarang ini.

Namun tampaknya kasus korupsi di Indonesia semakin serius. Belakangan ini ramai diberitakan berbagai media tentang pejabat publik yang terjerat dengan kasus korupsi. Kasus yang baru-baru ini mengejutkan benak masyarakat Indonesia adalah penangkapan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) olek Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini sangat ironis bila melihat kedudukan Mahkamah Konstitusi didalam sebuah negara. Hal ini kemudian, menjadi hal yang membuat masyarakat pesimis dan putus asa terhadap upaya penegakan hukum untuk menumpas koruptor di Negara kita.

“Bagi saya, korupsi adalah suatu penyakit ganas yang menggerogoti kesehatan masyarakat seperti halnya penyakit kanker yang setapak demi setapak menghabisi daya hidup manusia”. Rasanya ungkapan Selo Sumardjan itu tepat untuk menggambarkan kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Menurut survey yang dilakukan oleh transparency.org pada tahun 2013, Indonesia dinobatkan sebagai negara terkorup kelima setelah Azerbaijan, Bangladesh , Bolivia, dan Kamerun. Korupsi seperti sudah merasuk ke setiap sendi badan pemerintahan.

Korupsi merupakan penyakit negara yang sangat berdampak pada pembangunan, tatanan sosial dan juga politik. Korupsi mempunyai karakteristik sebagai kejahatan yang tidak mengandung kekerasan dengan melibatkan unsur-unsur tipu daya muslihat, ketidakjujuran dan penyembunyian suatu kenyataan. Upaya pemberantasan korupsi memang tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Kita sebagai mahasiswa, agen perubahan harus bisa untuk mendukung pemberantasan korupsi. Hal ini bisa kita mulai dengan penanaman nilai-nilai anti korupsi. Nilai-nilai anti korupsi yang perlu ditanamkan pada kaum muda meliputi kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, pertanggung jawaban, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Nilai-nilai inilah yang akan mendukung prinsip-prinsip anti korupsi untuk dapat dijalankan dengan baik.

* Penulis adalah anggota LPM Media Publica periode 2013-2014

1,569 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *