Seorang yang sangat sederhana, berkelana dengan tujuan mulia untuk rakyat, ia bahkan tak pernah mengganti celana yang dipakai dan hanya sesekali mengganti pakaiannya. Wiji Thukul, sosok pria yang cacat wicara namun ditakuti oleh rezim orde baru.

Wiji Thukul saat deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD). Foto: Tempo.co
Wiji Thukul saat deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Foto: Tempo.co

Media Publica – Thukul akrab disapa memang kurang fasih mengucapkan huruf “R”, namun tulisan yang ia tuangkan di puisi, sajak, atau bahkan lirik-lirik lagu sederhana sangat tajam menyerang pemerintah orde baru yang saat itu dipimpin oleh Soeharto. Ia adalah seorang seniman yang dekat dan memperjuangkan nasib rakyat dari dirinya sendiri. “Perjuangannya berangkat dari kesulitannya sendiri, dari dirinya yang juga merupakan bagian dari masyarakat susah, sehingga perjuangannya selalu dekat dengan masyarakat,” terang Wahyu Susilo adik kandung Thukul.

Ia lahir dari keluarga yang miskin, bahkan walau ayahnya adalah pedagang ayam, Thukul dan keluarganya hanya bisa makan dengan kuah hasil rebusan ayam tersebut. Kondisi tersebut membuat Thukul semakin gelisah. Pria yang dari kecil sudah menyukai seni ini sering menuangkan kegelisahannya dalam sebuah puisi. Walaupun isinya sangat sederhana, namun seseorang yang membacanya pasti akan sangat terharu.

Beranjak dewasa, Thukul yang menempuh pendidikan tingkat  Sekolah Menengah Karawitan (SMK) pada saat itu keluar dari sekolahnya, selain memang dari kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya, Thukul mengkritik sistem pendidikan di sekolahnya yang ia rasa tidak mencerminkan pendidikan Indonesia. “Ia memutuskan untuk keluar dari Sekolah Menengah Karawitan bukan hanya karena kami sekeluarga tidak mampu, tapi dia tidak suka dan mengkiritik  sistem pendidikannya,” tambah Wahyu.

Sebenarnya minat kesenian Thukul awalnya tidaklah berisikan ideologi perjuangan, namun pertemuannya dengan beberapa seniornya saat itu serta berkaca pada kondisi masyarakat, Thukul seolah tidak ingin seni hanya digunakan untuk seni, namun harus berguna untuk menumpahkan  kegelisahan sehingga bisa dijadikan alat perjuangan. Bahkan Thukul memarahi Wahyu sang adik ketika masuk kuliah hanya mengikuti kegiatan musik dan menjadi panitia “hura-hura” sehingga tidak memiliki esensi perjuangan di dalam kegiatannya. “Saya sampai dimarahi oleh kakak saya saat itu, karena waktu kuiah saya hanya ikut kegiatan panitia acara musik-musik gitu. Ia menganggap saya hanya senang-senang dan tidak melihat kondisi masyarakat sekitar,” aku Wahyu sambil tertawa.

Faktor itulah yang mendorong Suami dari Sipon untuk mengajarkan kesenian kepada masyarakat. Ia menganggap masyarakat Indonesia kelas bawah adalah masyarakat “bisu”, artinya masyarakat yang diam dan pasrah serta tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk mengungkapkan kegelisahannya.  Menurut Thukul, lewat seni ungkapan kegelisahan akan dengan mudah tertuang. Terbukti, masyarakat yang diajarkan berpuisi oleh Thukul menjadi semakin kritis terhadap kondisi sosial, walau isinya sangat sederhana, namun sangat kental dan sarat akan emosi penulis.

Kecintaannya akan kesenian membuatnya tergabung di dalam Jaringan Kebudayan Rakyat (JAKER), wadah inilah yang digunakan Thukul untuk mengajari masyarakat akan kesenian dan memberikan penyadaran terhadap masyarakat akan kondisi sosial. Dalam perjalannya, Ayah dua anak ini memiliki perhitungan untuk masuk ke dalam partai politik. Saat itu Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang diketua Budiman Sudjatmiko menjadi partai pilihan Thukul untuk memperjuangan rakyat dengan ideologinya.

PRD yang saat itu memang sangat dekat dengan rakyat karena ideologi dan perjuangannya yang memang berorientasi untuk rakyat dicap sebagai partai “Haram” karena dianggap sebagai underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) yang juga dicap sebagai partai terlarang oada orde lama. Selain itu penyerangan yang dilakukan terhadap sekretariat Partai Demokrasi Indonesia pada 27 Juli 1996 juga menjadikan PRD semakin dikerdilkan oleh pemerintah.

Tergabung sebagai anggota PRD, dan menjadi penyair yang kritis lewat puisi, sajak, bahkan lagu-lagunya membuat Thukul menjadi sasaran empuk pemerintah orde baru. Thukul dicari-cari oleh pemerintah, sehingga Ia harus melarikan diri dan singgah dari satu tempat, ketempat lainnya. Pada tahun 1997-an Thukul pamit kepada istrinya Sipon untuk berjuang untuk masyarakat ke Jakarta. Ia pamit dengan meninggalkan dua anaknya, yang saat itu masih kecil-kecil. Bahkan anak keduanya Fajar Merah saat itu masih berusia empat tahun.

Puncaknya adalah pada bulan Mei 1998, ketika turbulensi politik semakin kencang, aroma penurunan Soeharto pun kian lantang disuarakan masyarakat, mahasiswa, dan elemen lainnya yang memang sudah muak dengan Soeharto. Thukul dan 15 orang aktivis hilang entah kemana, Nezar Patria salah satu dari aktivis yang kembali dari penculikan mengaku bahwa penyiksaan begitu sadis dilakukan pemerintah saat itu kepada aktivis. “Saya dilempari kursi kayu, dipukuli, dibenturkan ke tembok, dan diancam dibunuh oleh penculik yang saat itu bernama tim Mawar yang tidak lain adalah kelompok Prabowo,” ungkap Arif Zulkifli, Executive Editor Tempo yang mewawancarainya untuk diangkat dalam majalah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Nezar, “Thukul tidak bersama beberapa aktivis yang ikut diculik pada saat itu, sehingga kemungkinannya ia diculik oleh tim lain diluat tim Mawar,” lanjut Arif. Teka teki mengenai hilangnnya Thukul pun sampai saat ini masih belum jelas. Ada yang bilang sudah meninggal, namun Sipon istrinya mengaku masih sering bermimpi bawah Thukul masih hidup. Hal inilah yang membuat sejumlah media mengankat mengenai profil Thukul termasuk majalah Tempo yang membuat edisi khusus “Teka-Teki Wiji Thukul”.

“Kami memang memiliki tujuan yang sama dengan  Thukul yaitu berjuang untuk masyarakat, sehingga mengangkat profilnya yang hilang akibat kekejaman rezim menjadi bagian penting dari kami,” jelas Arif.

Pihak tempo sendiri dalam melakukan investigasi sudah mempersiapkannya kurang lebih enam bulan, mulai dari melacak jejak pelarian Thukul, bahkan sampai mengundang beberapa narasumber termasuk Wahyu Susilo dan Nezar Patria.

“Intinya adalah kami ingin supaya masyarakat menolak lupa, kemudian agar semangat perjuangan Thukul tetap dapat diimplementasikan di masa kini, untuk itulah kami angkat sosoknya,” tutup Arif.

 

Editor: Cheppy Setiawan 

1,895 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *