“Kekuasaan dimandatkan oleh masyarakat, namun masyarakat kemudian hanya memiliki kekuasaan itu pada saat pemilihan umum. Setelah itu, kekuasaan berpindah ke tangan penguasa yang mereka pilih, Hannah Arendt

 

Judul: Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt Penulis: Agus Sudibyo Pengantar: F. Budi Hardiman Halaman: 240 + xxvi Harga: Rp 49.000,-
Judul: Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt
Penulis: Agus Sudibyo
Pengantar: F. Budi Hardiman
Halaman: 240 + xxvi
Harga: Rp 49.000,-

Kekhawatiran Hannah Arendt di atas menggarisbawahi pemikirannya tentang politik yang otentik, yakni politik yang berbeda dengan praktik politik yang kita pahami dan saksikan dewasa ini. Bagi Arendt, politik bukanlah soal penguasaan. Politik harus membebaskan dan mendorong warga berekspresi secara otentik di ruang publik. Runtuhnya ruang publik politik –baik karena infiltrasi kepentingan privat atau ekonomi—dapat membuat peradaban jatuh atau mengalami kemunduran.

Secara komprehensif buku ini membedah pemikiran politik Hannah Arendt sekaligus menyuguhkan perspektif tentang kontekstualitasnya dalam realitas politik Indonesia masa kini, ketika sentimen-sentimen privat keagamaan serta kepentingan ekonomi begitu gencar menginfiltrasi politik dan ruang publik.

“Melawan totalitarisme yang mencemoohkan harkat kemanusiaan serta pragmatisme politik yang menginstrumentalisasikannya, Hannah Arendt mau mengembalikan martabat dimensi politik sebagai wilayah komunikasi antar manusia demi kemajuan bersama. Agus Sudibyo berhasil membuka akses ke pemikiran Hannah Arendt bagi pembaca Indonesia.

F Budi Hardiman dalam kata pengantar buku ini mengidentifikasi kata otentik yang disematkan pada kata politik sebagai atribut yang terasa asing bagi politik yang lazim. Baginya, politik riil tidak mungkin tidak berdusta (hal v). Praktik politik kerap diselimuti muslihat yang mengecoh publik. Maka, kata otentik lebih merupakan ajakan untuk meluruskan pengertian politik yang sudah telanjur bengkok.
Problem pokok yang digeluti oleh Sudibyo adalah bagaimana politik sepatutnya dipahami. Kondisi-kondisi seperti apa yang memungkinkan politik sebagai suatu aktivitas bebas yang berintegritas? Sebaliknya, tindakan-tindakan semacam apa yang kiranya menggerogoti kebebasan hingga menghasilkan suatu krisis bagi politik?

Lebih daripada sekadar penyelenggaraan kekuasaan, bukan pula penundukan total melalui pendayagunaan kekerasan, politik bagi Arendt justru harus dipahami di luar kategori penguasaan dan pemaksaan. Politik, pendeknya, dimengerti sekaligus dalam konteks kebebasan individu dan solidaritas politis antarwarga. Dengan pengandaian bahwa ruang publik ditujukan untuk mengaktualisasikan kebebasan, politik terlaksana ketika terwujud koeksistensi individu-individu yang setara dan bertindak bersama-sama di ruang publik.
Cukup sering hidup kontemplatif para pemikir soliter dipandang lebih utama, bahkan tidak terkait dengan lingkup kehidupan aktif. Dalam telaahnya, dengan merujuk Arendt, Sudibyo menunjukkan bahwa manusia politik juga hidup dalam lingkup reflektif. Kapasitas politik, dengan demikian, mencakup kapasitas untuk berpikir, berkehendak, menilai secara otonom, serta menerobos batas-batas ideologis, hukum, metode penalaran, dan logosentrisme tertentu.

Buku ini merupakan sebuah sumbangan penting bagi pustaka filsafat politik dalam bahasa Indonesia.

Peresensi: Cheppy Setiawan

1,753 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.