Wilayah Pancoran, Jakarta Selatan Tempo Dulu. Sumber : detik
Wilayah Pancoran, Jakarta Selatan Tempo Dulu.
Sumber : detik

Dari Sunda Kelapa Hingga Jakarta

Media Publica – Jakarta sebagai kota metropolitan dan Ibu Kota dari Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam sejarah perkembangannya. Secara geografis kota yang terletak pada dataran rendah pantai utara bagian pulau Jawa ini, mempunyai kisah yang diawali pada abad ke-5 Masehi.  Berdasarkan prasarti Tugu Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya yaitu Purnawarman sudah berkuasa di Cilincing, Jakarta Utara. Namun, pada awal abad berikutnya tak lagi terbetik kabar beritanya.

Sekitar abad ke-14 di hulu sungai Ciliwung berdiri sebuah kerajaan bernama Padjajaran dengan ibukota Pakuan. Di utara wilayah kerajaan tersebut, mengikuti aliran sungai hingga ke muara Ciliwung, terdapat sebuah bandar bernama Sunda Kelapa atau yang pada saat itu dikenal dengan nama pasar ikan.

Pada Tahun 1511 bandar Malaka direbut oleh Portugis dan semakin berkembangnya kerajaan Islam di Indonesia, secara bertahap mengubah Sunda Kelapa menjadi pelabuhan dan kota perdagangan yang memiliki peran sangat penting. Melihat perkembangan pesat di Sunda Kelapa, bangsa Portugis yang berkuasa di Malaka berusaha mengadakan hubungaan dagang dengan Raja Pajajaran. Perjanjian dagang tersebut dibuat dan disetujui pada 21 Agustus 1522. Sebagai tanda penetapan tersebut dibuatlah sebuah tugu peringatan yang ditancapkan di sungai Ciliwung.

Perjanjian antara Portugis dan Padjajaran ditanggapi oleh Kesultanan Islam Demak, dan pada tahun 1527 pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah berhasil menduduki Sunda Kelapa. Setelah tercapainya kemenangan atas Portugis, maka Fatahillah atau yang dikenal dengan nama Faletehan mengubah nama Sunda kelapa menjadi Jayakarta yang memiliki arti “kemenangan yang sepenuhnya”, pada tanggal 22 Juni 1527. Sejak itulah tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Kekuasaan Kesultanan Islam Banten tak bertahan lama. Sejak Perserikatan dagang Belanda atau yang dikenal dengan nama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berdiri, mereka memiliki keinginan untuk merebut Jayakarta. Wilayah Jayakarta berhasil dihancurkan dan dibakar setelah Berjaya selama 92 tahun. Setelah kejadian tersebut pimpinan Belanda pada saat itu membangun kota baru di sayap sungai Ciliwung, yang diberi nama Batavia. Kota Batavia yang saat itu tertutup bagi penduduk asli dan dijaga 24 jam oleh para serdadu VOC. Hanya orang Belanda, pegawai serta budaknya yang dapat tingga di kastil yang dikelilingi oleh pagar tembok yang tinggi dan kokoh.

Setelah terjadi peperangan antara VOC dengan beberapa kerajaan lainnya diluar kota Batavia, pada tahun 1799 VOC dibubarkan. Maka pada saat itu, kekuasaan Batavia jatuh ketangan pemerintah Bataafsche Republieken France Tjid (tahun 1800-1811), kemudian jatuh ke tangan British Government (tahun 1811-1816), dank ke tangan pemerintahan Nederlandsche Indie (tahun 1816-1942). Semua kekuasaan tersebut tetap menggunakan nama Batavia.

Semakin bertambahnya jumlah suku yang ada di Batavia pada saat itu, terjadilah perkawinan campur antar suku yang dikenal dengan nama “Anak Betawi”. Beragam organisasi kesukuanpun tumbuh pada saat itu di Indonesia, sehingga pada tahun 1923 berdirilah organisasi kaum Betawi yang menjadi pernyataan adanya suku Betawi.

Pada tahun 1942 pemerintahan Hindia Belanda akhirnya menyerah kepada tentara Jepang. Untuk sementara nama Batavia masih digunakan pada saat itu. Baru setelah nama tersebut berangsur hilang, untuk mengambil hati rakyat Indonesia maka nama Jakarta dipakai secara resmi dalam undang-undang yang dikeluarkan, hingga akhirnya kependudukan Jepang berakhir dengan adanya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Demikianlah kilas balik dari perjalanan panjang hingga akhirnya nama kota yang menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia ini digunakan dan telah menginjak usia 486 tahun.

 

Apa dan Siapa Betawi?

Penduduk asli Kota Jakarta sendiri dikenal dengan sebutan Orang Betawi atau suku Betawi. Dimana memiliki dialek atau logat berbicara yang khas. Mereka juga adalah orang-orang yang memiliki selera humor yang cukup tinggi, dan pantun adalah salah satu dari kebudayaan mereka. Apa dan siapa mereka, simak beberapa penjabaran berikut :

Menurut bahasa, kata Betawi berasal dari kata Batavia yang dinisbahkan dengan gaya bahasa Arab yang memiliki arti berasal arti Batavia. Meski penelitian tentang apa dan siapa Betawi, serta sejak kapan sejarah Betawi dimulai belum tuntas, namun yang dapat dikatakan sebagai orang Betawi adalah mereka yang :

  • Secara genetik dilahirkan oleh kakek nenek yang asli Jakarta (sebagian menekankan tiga keturunan ke atas adalah orang yang dilahirkan di Jakarta.
  • Mereka yang bermukin di bagian kota Jakarta dan di wilayah Tanggerang, Bekasi, dan Bogor (Jabotabek).
  • Mengakui dengan sadar bahwa dirinya adalah orang Betawi.
  • Secara budaya mereka :

–       Berbahasa Melayu dengan dialek Betawi yang khas

–       Bermain dan mencintai jenis musik keroncong, gambang keromong, qosidahan dan orkes gambus

–       Berbusana sadarian dan kebaya, atau kopiah haji dan baju koko.

–       Mempunyai dan menyukai makanan khas seperti nasi uduk, gado-gado, kue apem, kue pepe, sambel goang, kue cucur, kue dadar, manisan kolang-kaling, manisan sentul, bir peletok, cendol, es selendang mayang, dan lain sebagainya

–       Beradat-istiadat, umunya dikenal sebagai adat Betawi, misalnya memanggil engkong dan nyai kepada kakek dan nenek.

–       Memiliki kemampuan bela diri silat Beksi, Cingkring, Gedingan.

Namun, jika ada orang Betawi yang diluar batasan yang telah disebutkan diatas, tidak jadi masalah mereka tetap diakui sebagai orang Betawi.

 

Editor : Mianda Aurani

1,261 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *