I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners…I have gone to join Ken if I am that lucky…

: Foto Serang anak kelaparan sedang ditunggui burung bangkai inilah yang membuat Kevin Carter meraih Pulitzer bergengsi di AS itu Foto: Kevin Carter sumber : Pulitzer.org
Foto Serang anak kelaparan sedang ditunggui burung bangkai inilah yang membuat Kevin Carter meraih Pulitzer bergengsi di AS itu Foto: Kevin Carter sumber : Pulitzer.org

Kalimat diatas merupakan kalimat terakhir yang dituliskan disebuah surat yang ditemukan di mobil pick up-nya. Siapa yang tidak kenal Kevin Carter dengan kehebatan karya jurnalistiknya dalam bidang Fotografinya ia mampu mendapatkan penghargaan Pulitzer? Tentu sayang sekali jika Kevin Carter hanya tertinggal sebuah nama, tanpa melihat kembali prestasi dan cerita kehidupannya.

Sekilas Tentang penghargaan Pulitzer

Penghargaan Pulitzer adalah penghargaan yang diciptakan oleh Joseph Pulitzer, ia adalah seorang Jurnalis dan penerbit Surat Kabar Hungaria-Amerika di abad 19. Penghargaan tergengsi tersebut pertama kali di adakan pada 4 Juni 1917, dalam menilai karya Jurnalistik  dan kategori-kategori yang masuk dalam penghargaan tersebut adalah yang berkaitan dengan jurnalisme, seni dan kesusastraan. Sayangnya yang berhak mengikuti kontes penghargaan Pulitzer hanya para insan pers yang berkarir dalam media cetak terbitan di Amerika Serikat.

Sebuah kisah seorang pewarta Foto datang dari sosok Kevin Carter.

Ia lahir di Johannesburg, Afrika Selatan dan dibesarkan di sebuah kelas menengah, salah satu orang yang berkulit putih di lingkungannya. Ketika masa pendidikan formalnya selesai, Carter mengawali karirnya menjadi seorang apoteker dan kemudian di rekrut menjadi angkatan darat, kejadian pahit yang mendorong ia untuk bergabung dengan Angakatan Udara  Pada tahun 1980, ia menyaksikan seorang pelayan berkulit hitam  disebuah lorong mess yang dihina. Jiwa kemanusiaan Carter  langsung bergegas untuk membela pria itu, sehingga keberadaannya dipukuli oleh prajurit lainnya. Roma Carter ibunda Kevin Carter pernah mengatakan bahwa semasa kecil carter sering meradang jika melihat seorang polisi kulit putih memperlakukan orang kulit hitam dengan kejam. Kejadian pahit yang menimpa mengetuk hatinya sehingga pada akhirnya ia memilih profesi menjadi fotografer pekan olahraga di tahun 1983. Pada tahun 1984, ia pindah bekerja untuk Johannesburg Star, bertekad mengekspos kebrutalan apartheid. Carter adalah orang pertama yang memotret eksekusi publik “necklacing” oleh kulit hitam Afrika di Afrika Selatan pada pertengahan 1980-an. Korbannya adalah Maki Skosana, yang telah dituduh memiliki hubungan dengan seorang polisi Carter

Carter pemenang hadiah Pulitzer  dalam bidang foto

Pada Maret 1993, Carter berangkat dari Afrika selatan menuju Sudan untuk liputan tentang pemberontakan yang sedang terjadi di negara itu. Namun, sesampainya di sana, Kevin menemukan hal yang unik bahwa pemberontakan bukan masalah terburuk, namun kelaparanlah masalah utama di daerah tersebut. Ketika mengunjungi sebuah kampung, tiba-tiba kevin mendengar rengekan anak-anak. Setelah dia mencari dan memperhatikan sekeliling, Ia menemukan seorang anak perempuan menangis sedang duduk bersujud di atas tanah tidak jauh darinya. Anak yang sama sekali tidak mengenakan pakaian tersebut sedang duduk melepaskan lelah karena tidak berdaya lagi untuk berjalan ke tempat penampungan pengungsi milik PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berjarak 1 km dari tempat dia berada. Perempuan kecil itu menangkupkan kepala ke tanah dan memejamkan mata. Nafasnya lemah dengan tulang-tulangnya yang menonjol. Tidak jauh darinya, tampak seekor burung pemakan bangkai sedang berdiri memperhatikan dan menunggu kematian anak tersebut. Namun, Kevin tidak segera mengambil kameranya, tetapi menunggu sang burung meninggalkan anak itu. Akan tetapi setelah dua puluh menit menanti, burung itu tak juga pergi, Kevin segera mengambil gambar anak tersebut dan bergegas menuju ke tempat lain.

Kemudian, gambar itu dijualnya kepada majalah New York Times dan pada 26 Maret 1993, gambar tersebut diedarkan. Banyak orang yang menanyakan nasib anak itu dan kemudian redaksi majalah itu menyatakan bahwa, anak perempuan itu tidak diketahui lagi nasibnya. Apakah anak perempuan itu hidup atau mati dimakan burung pemakan bangkai.

Setahun kemudian, tanggal 2 April 1994, Kevin mendapat kabar dari redaksi New York Times, bahwa fotonya telah dipilih sebagai pemenang utama fotografi Pulitzer Prize. Kevin menerima penghargaan itu tanggal 23 Mei 1994 di Colombia University, Amerika Serikat.

Akhir Masa Carter

Semenjak  mendapatkan penghargaan itu, namanya melonjak, Kevin merasa bersalah yang luar biasa karena tekanan pihak luar yang mempertanyakan sisi manusiawi dalam dirinya. Setelah mengambil gambar tersebut Carter merasa bahwa ia di hantui oleh suasana tersebut,ia di kecam dari banyak pihak bahwa ia mementingkan profesi daripada sisi kemanusiaan.

Pada 27 Juli 1994, dunia jurnalistik dihebohkan oleh berita kematiannya yang fenomenal. Carter mati bunuh diri di dalam truk di tebing sungai Braamfonteinspuit, Afrika selatan. Dia bunuh diri dengan cara menyalurkan asap dari ekzoske (Knalpot) dalam kendaraanya. Di sisi mayatnya ditemukan selembar catatan yang bertuliskan: ”I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners…I have gone to join Ken if I am that lucky…

Disamping rasa bersalahnya terhadap peristiwa di Sudan, ia mendapat tekanan terhadap prestasi yang dimilikinya dan merasa bersalah telah membiarkan anak balita tersebut dekat dengan burung pemakan bangkai, masalah lainnya datang dari masalah keuangan yang menghampirinya .

 

Sumber:

http://www.pulitzer.org/awards/1994

http://the-marketeers.com/archives/huffington-post-raih-pulitzer-pertama-kalinya.html

http://sueswit.net/2011/07/15/kevin-carter-cermin-jiwa-fotografer-yang-menjadi-korban-dari-hasil-karya-fotografinya/

http://www.tnol.co.id/psikologi-kesehatan/5351-kevin-carter-fotografer-depresi-pemenang-pulitzer.html

Editor: Rati Prasasti

5,956 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *