Papuan Voices, sebuah kumpulan film dokumenter pendek mengenai keadaan masyarakat di Papua.
Papuan Voices, sebuah kumpulan film dokumenter pendek mengenai keadaan masyarakat di Papua.
Foto: Media Publica

Media Publica – Papuan Voices, sebuah film yang berisi video-advokasi mengenai Papua dan kehidupan sosial masyarakatnya. Papuan Voices terdiri dari sembilan film pendek, dalam setiap film berdurasi sekitar 7 hingga 10 menit. Ke-9 video-advokasi ini terdiri dari Love Letter to Soldier, Moeslem Peace, Mama Kasmira Pu Mau, Ironic Survival, Kelapa Berbuah Jerigen, Harapan Anak Cendrawasih, Keerom Papua, Pemburu Terakhir, dan Awin Meke. Masing-masing film tersebut memiliki makna yang berbeda. Seperti Love Letter to Soldier, film ini menceritakan seorang wanita Papua, Maria Goeti Mekiw yang mengirimkan surat kepada seorang tentara yang telah memberikannya seorang anak. Pada akhirnya, tentara yang pernah bertugas di tanah Papua tersebut meninggalkannya tanpa tanggungjawab kepada Maria dan buah hatinya.

Lain halnya dengan film Ironic Survival yang menceritakan habisnya lahan tanaman Sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat Papua akibat dari penebangan yang dilakukan oleh perusahaan asing milik Amerika yaitu Merauke Integrated Food and Energy State (MIFEE) dimana perusahaan ini membabat habis semua lahan yang telah ditanami pohon sagu oleh masyarakat setempat kemudian akan ditanami dengan tanaman industri, hal ini berdampak terhadap berkurangnya makanan pokok masyarakatnya dan juga merusak ekosistem yang ada ditempat tersebut. Sehingga dengan hal ini rentan dengan adanya masyarakat akan kekurangan gizi terutama bagi masyarakat yang kurang mampu yang telah bergantung dengan tanaman sagunya.

Kemudian dipemutaran video-advokasi ini juga memutarkan salah satu film yang menunjukkan bahwa ketidakadilan orang pendatang kepada masyarakat asli Papua, dimana para pendatang itu hanya ingin mengambil keuntungan yang besar. Seperti yang terurai dalam film Kelapa Berbuah Jerigen produksi JPIC MSC. Para pendatang ini mengubah kesakralan buah kelapa bagi masyarakat Papua, yang dulunya buah kelapa ini dijadikan sebagai makanan yang sehat tetapi karena pengolahan yang modern oleh pendatang mengakibatkan buah kelapa dijadikan sebagai minuman Sagero dan Sopi, minuman ini adalah minuman keras melalui proses penyulingan yang berasal dari buah nira. Inilah yang menjadi titik permasalahannya, masyarakat asli papua ingin agar pemerintah dapat mengatasi hal ini agar kesakralan dari buah kelapa ini tidak digantikan oleh pengaruh gaya modern yang dibawah oleh para pendatang.

Dari segi pendidikan di tanah Papua sangatlah rendah, banyak hal yang melatarbelakangi hal ini. Di film Harapan Anak Cendrawasih menceritakan para pengajar di Papua terutama di daerah pelosoknya masih memiliki kesadaran yang rendah untuk membagikan ilmunya. Mereka hanya memakan gaji buta tanpa memberikan ilmu mereka yang kelak akan berguna bagi generasi muda pulau Cendrawasih ini. Tentunya ini faktor utama mengapa anak-anak Papua kurang fasih menggunakan Bahasa Indonesia dan juga dalam hal hitung menghitung.

Persoalan yang terjadi di Papua ini pun mengakibatkan media tidak bisa memberitakannya secara terbuka. Media seolah-olah memberitakan sesuatu yang netral tanpa kenyataan yang ada. “Contoh kasus yaitu seorang jurnalis tabloid merauke memotret pembalakan liar sehingga terjadi permasalahan dengan militer (kopasus), setelah 2 bulan kemudian jurnalis tersebut diberitakan tewas,” ujar Eli selaku narasumber pada acara Rabu diskusi.

“Penyebabnya pemberitaan yang tidak berimbang tersebut ialah Bekerja dibawah tekanan, pemberitaan hanya 1 sumber,” tambah Eli lagi.

Dari beberapa film diatas dapat mewakili bukti persoalan yang terjadi di tanah Papua, mulai dari ketidakadilan, konflik bersenjata, hingga harapan-harapan masyarakatnya agar menciptakan Papua yang merdeka atas kesejahteraan masyarakatnya tanpa ada pihak yang lebih dominan atau mayoritas karena tahta dan jabatan yang mereka miliki.

Reporter: Ananda Ratu Ayu Kemuning
Editor: Rizky Damayanti

970 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.