Museum yang didirikan untuk mengenang peristiwa tsunami Aceh 2006 yang menelan banyak korban. Foto: Acehtraveling.blogspot.com
Museum yang didirikan untuk mengenang peristiwa tsunami Aceh 2004 yang menelan banyak korban.
Foto: Acehtraveling.blogspot.com

Banda Aceh, Media Publica – Jika mendengar nama kota Banda Aceh, pastilah kita tidak bisa melupakan tragedi Tsunami yang menimpa kota ini pada 26 Desember 2004 lalu. Bencana dahsyat yang menelan ratusan ribu jiwa manusia, bangunan porak poranda. Hampir seluruh daerah di pesisir pantai rata dengan tanah. Untuk mengenang peristiwa itu pemerintah dan beberapa lembaga bantuan donor membangun sebuah museum yang diberi nama ‘Museum Tsunami Aceh’.

Museum ini bukan hanya mengenang tragedi tapi berfungsi juga sebagai pendidikan bagi generasi muda tentang antisipasi bencana dan tempat evakuasi yang memadai jika terjadi peristiwa serupa.

Museum yang terletak di jantung Kota Banda Aceh tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda ini diresmikan pada tanggal 23 Februari 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berfungsi sebagai objek sejarah dan pusat penelitian tentang tsunami, simbol kekuatan masyarakat Aceh menghadapi bencana tsunami dan sebagai warisan kepada generasi mendatang bahwa disini pernah terjadi bencana tsunami.

Desain museum mengusung konsep Rumoh Aceh as Escape Hill hasil rancangan arsitek M. Ridwan Kamil yang memenangkan lomba desain museum ini pada tahun 2006. Desain sarat dengan konten lokal namun rancangannya sangat modern dan futuristik. Digambarkan sebuah rumah panggung tradisional Aceh dan berfungsi juga sebagai escape hill atau bukit evakuasi jika terjadi bencana banjir atau tsunami di masa datang.

Sebelum  memasuki pintu masuk akan menemukan sebuah helikopter Polisi yang hancur diterjang tsunami. Lalu mulai memasuki Lorong Tsunami (Tsunami Alley) yang sempit, menjulang dan temaram. Disisi kiri dan kanan mengalir air dan suara gemuruh air seakan mengingatkan peristiwa tsunami.

Setelah melewati Lorong Tsunami, terdapat tempat yang terdiri dari bangunan monumen yang diatasnya ada sebuah LCD yang memperlihatkan foto-foto saat peristiwa tsunami, seperti bangunan yang hancur, kapal di atas rumah, hingga mayat-mayat bergelimpangan.

Ruang berikutnya adalah Ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing). Di ruangan yang berbentuk lingkaran seperti cerobong ini terdapat ribuan nama-nama korban tsunami. Menjulang ke atas dan diujung atas ada sebuah cahaya dan tulisan arab berlafaz ALLAH. Pesan dari ruangan ini adalah setiap jiwa manusia pasti akan kembali kepada yang maha kuasa. Dengan sayup-sayup suara orang mengaji, suasana hati akan terenyuh ketika memasuki ruangan ini

Lalu setelah itu akan memasuki ruangan audio visual. Di ruangan yang seperti mini theather dengan kapasitas 30 orang ini akan disuguhi film saat terjadi tsunami 26 Desember 2004 itu. Film tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya bencana tersebut dan betapa lemahnya manusia menghadapi cobaan yang maha kuasa. Terlihat saat gelombang tsunami memasuki kota Banda Aceh dan berhasil direkam oleh beberapa warga dengan video amatir. Meratakan dan menyeret semua yang dilewatinya. Rumah, pohon, hingga Kendaraan ikut terseret terbawa arus air bah yang sangat besar tersebut.

Selanjutnya naik ke lantai 3. Disini akan disajikan beberapa ruangan untuk memorabilia setelah tsunami seperti sebuah jam besar yang menunjukkan waktu saat terjadinya tsunami, sepeda motor dan sepeda yang hancur. Semua itu sumbangan dari warga yang rela barangnya ditempatkan di museum ini. Selain itu ada juga diorama saat tsunami melanda beberapa daerah. Seperti diorama sebuah Mesjid Raya Baiturrahman yang berdiri kokoh diterjang tsunami sementara bangunan lain semuanya rata dengan tanah.

Ruangan lain memberikan informasi pengetahuan tentang tsunami dan bencana lainnya. Juga ada ruang simulasi gempa. Disini pengunjung bisa merasakan saat terjadi gempa yang sesungguhnya. Ada juga ruangan perpustakaan yang berisi buku-buku tentang bencana sumbangan dari berbagai pihak. Dan terakhirnya ada ruangan khusus cindera mata.

Setelah melewati ruangan-ruangan tersebut, pengunjung akan kembali turun ke lantai 1 dan bisa beristirahat di dalam cafe yang nyaman. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mengelilingi ruangan-ruangan tersebut. Namun banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari museum ini. Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, namun kita bisa mengantisipasinya untuk meminimalisir jumlah korban. Mengunjungi kota Banda Aceh kurang tepat rasanya jika tidak mampir ke Museum ini.

 

Sumber : Kompas dan Detik Travel

Editor: Kris Aji Irawan

 

1,373 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.