*Oleh Mega Pratiwi

child-trafficking

Perempuan derajatnya dianggap tidak setara dan lebih rendah bila dibandingkan dengan pria. Banyak penelitian membuktikan bahwa anggapan mengenai ketidaksetaraan gender ini menimbulkan berbagai masalah  yang menjerumuskan perempuan dalam pengeksploitasian. Misalnya terjadi pernikahan dini yang sering terjadi dikalangan menengah kebawah. Hal ini dilakukan untuk keluar dari kemiskinan. Kemudian kurangnya pendidikan yang diberikan bagi para perempuan sehingga kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

Berkembangnya jaman dan pendidikan tidak mengurangi jumlah perdagangan perempuan di Indonesia. Justru belakangan ini kian marak kasus perdagangan dan pengeksploitasian perempuan. Di Indonesia sekalipun banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil perempuan berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun.

Pada tahun 2011 Kementerian Pemberdayaan Perempuan melaporkan bahwa ada 358 korban perdagangan dan sebagian besar korban berasal dari Jawa Barat. Sedangkan baru-baru ini perempuan marak diberitakan sebagai alat suap politik. Betapa naasnya nasib perempuan di masa sekarang ini. Pendidikan dan pengetahuan yang cukup tidaklah menjamin berkurangnya perdagangan perempuan. Hal ini terbukti karena beberapa korban yang dijadikan alat suap politik itu adalah perempuan yang berpendidikan cukup. Lalu apakah yang memicu hal ini terus berlanjut?

*Penulis adalah anggota LPM Media Publica periode 2013-2014

1,207 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.