*Oleh Yuda Handi Sumateja

Love-is...02-500x500Sore ini mendung, kampus sedang sepi-sepinya karena esok hari sabtu dan kemarin libur natal. Dari pagi hujan tak henti turun, entah ada apa dengan awan sampai-sampai tak ada jeda untuk kutangku mampu kering. Aku duduk merokok diatas sebuah tabung freon bekas ac yang tak lagi berisi, enteng, berkarat tapi bersih. Sudah 3bulan aku tahu tempat ini, sebuah lorong dengan jalan masuk yang sempit, saking sempitnya aku harus berjalan miring untuk bisa masuk. Sebuah lorong dengan dinding yang tidak menutup ruang seutuhnya, sehingga aku dapat melihat busuknya jakarta dari atas sini. Aku bisa melihat sebuah komplek mewah dengan rumah dan kolam renang dibelakangnya diapit rumah kumuh yang penduduknya harus rela kredit hanya untuk satu daster seharga 10.000 rupiah. Dari atas sini akupun bisa melihat sebuah mall megah disamping lapangan tanah, tempat bocah bermain bola yang sudah tergusur setengah dijadikan parkir motor padahal tanahnya masih merah, sementara mercy naik turun sisi kiri mall mencari tempat parkir. Aku bisa melihat jakarta dari atas sini. Tak ada yang sama, tak ada yang rata. Cih, aku sebal.

 

Tap tap tap.. suara langkah kaki mendekat. Dari suaranya aku bisa tebak, itu suara high heels yang digunakan sambil berlari. Tap tap tap.. dan highheels itu pun masuk kedalam lorong, membuyarkan kesebalanku dengan ibu kota yang diguyur hujan dari pagi. Pelahan kaki kirinya masuk, tubuhnya pengguna highheels itupun menyamping supaya muat melewati celah lorong ini. Itu seorang gadis, cantik parasnya, sintal tubuhnya. Aku menelan ludah saat ia berusaha melewati celah sempit lorong ini. Agak sulit untuknya masuk, tubuh sintalnya dibalut terusan berwarna putih pucat menempel dengan tembok. Wajahnya agak kesusahan, namun ia berhasil lewat dan muncul senyum tipis dari bibirnya sambil mencuri pandang ke arahku, ia tersipu malu.

 

“Kita harus berhenti bertemu seperti ini” kataku. “yah mungkin. Tapi aku tak mungkin juga mencumbumu di tempat lain” goda gadis itu sambil tangannya menggenggam tanganku. Namanya Dyah Pitaloka, mahasiswi semester 5 dikampusku. Teman sekelas sekaligus teman pertamaku dikampus ini. Dyah gadis yang cerdas, dan sama seperti namanya Dyah mungkin jelmaan putri sunda yang menjadi penyebab perang bubad pada jaman kerajaan dulu karena parasnya yang hampir sempurna. Aku sudah lama memadu kasih dengannya, tapi banyak yang memandang kami sebelah mata. Aku fikir karena banyak perbedaan diantara kami, Dyah kaya dan aku tidak, Dyah cantik dan aku tidak, Dyah pintar dan aku biasa saja, itu sebabnya kami memutuskan untuk hanya bertemu dilorong ini. Karena hanya disini kami bisa memadu cinta tanpa ada yang mengganggu sambil menatap hina. Dilorong ini kami bahagia.

 

Aku meneruskan hisapan rokokku, menghembuskan asap ke lantai lalu menarik tangan Dyah yang masih menggenggam tanganku yang kanan. “duduklah disampingku, aku rindu” ucapku. Dyah duduk, wajahnya berubah, senyumnya hilang menjadi kecut, tanganku dilepas berubah menjadi kipas, Dyah sebal. “kamu sudah berjanji untuk tak merokok lagi didepanku” protes Dyah, “Lama tak jumpa, makin buruk sikapmu” lalu duduknya memutar membelakangiku. “Maaf, aku mual terlalu lama di lorong ini, melihat kota yang timpang keadaannya, melihat borjuis petantang-petenteng masuk dari depan mall, sementara dibelakang mall itu pak kumis bingung banting tulang hanya untuk mengganti satu buah genteng pecah yang membuat rumahnya basah kuyup waktu hujan” jawabku memberi alasan. “kalau begitu jangan kesini lagi, kalau lorong ini cuma bisa membuatmu mual” Dyah kesal. Aku hisap dalam-dalam rokokku lagi, lalu membuang puntungnya jauh-jauh dan beranjak dari tabung freon berkarat untuk pergi. Tak ada tangan yang menarikku agar tidak pergi, aku mulai melangkah. Tak ada suara yang memanggilku untuk kembali, aku lanjutkan langkah berikutnya, cahaya putih muncul sekelebat, dan blarrr!!! Suara petir dibarengi teriakan takut Dyah sontak membuatku berlari menuju tabung freon lusuh dan memeluk erat Dyah. “Jangan takut lagi, aku disini” ucapku menenangkan. Matanya basah, tubuhnya kaku, Dyah takut dengan petir sejak kecil, dan aku tahu sejak lama saat ia menginap ditempatku.

 

“Sudah, sudah tak ada petir lagi. Kamu tak apa?” tanyaku. Perlahan ia melepas pelukanku, “ia, tapi aku masih takut” ucapnya. “kenapa kamu kembali lagi?” Dyah lanjut bertanya. “Tak mungkin hanya karena sepuntung rokok aku rela membiarkanmu ketakutan, sementara ayahmu berani aku tantang waktu ia melarangku bertemu denganmu dulu”. “Aku mencintaimu, seperti adam mencintai hawa, seperti romeo yang rela mati demi julietnya, seperti kamu yang juga mencintaiku” lalu aku tersenyum sambil menempelkan keningku tepat dikeningnya. “Dari mana kau yakin aku mencintaimu?” tegas Dyah, “sementara semua orang mencoba meyakinkanku bahwa kau dan aku berbeda”. Kemudian lorong hening, hanya suara rintik air yang menjadi latar dialog singkat kami berdua. Aku menjawab Dyah tanpa kata, ku tarik perlahan kepalanya dan ku kecup lembut bibirnya. Ini kali pertama aku mencumbunya, bibir kami berpagutan, tidak lama tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa Dyah ingin aku tetap disampingnya. Lalu kami kembali diam, menarik nafas panjang sambil menerjemahkan apa yang terjadi barusan. Dan langit berhenti mengguyurkan bumi.

 

Aku masih diam menerka apa yang barusan kami lakukan, belum setengah jam kami melepas rindu dan suara hujan berganti dengan isak tangis dari gadis muda yang bingung harus berbuat apa. “Maaf aku mengagetkanmu, tapi itu jawabanku dari pertanyaanmu. Kalau kau tak mencintaiku maka tak mungkin kau mau menerima kecupanku” tukasku. ”Maaf, tapi benar kata orang! Kita berbeda!” Dyah bicara sambil menutup wajahnya. “Tidak sayang, kita sama. Lihat aku! Mereka salah menilai kita!” balasku. “Kita beda yang, kita tak mungkin dapat bersatu. Kapan kau mau mengakui itu?!”, tangis dyah semakin menjadi. Aku mulai geram, “Apa maksudmu? Karena kau kaya dan aku miskin? Karena kau pintar dan aku tidak? Atau karena kau cantik sementara aku tak cukup baik untuk bisa disandingkan denganmu?! Kenapa kau bisa serendah ini menilai kita?!”. Aku berdiri, lalu berjalan beberapa langkah menjauh. Dinding ini tak cukup bersih untuk aku sandari, namun aku tak berfikir lagi. Tanganku mengambil sebatang rokok dari kotak di saku celana, meletakkannya dimulut dan mulai membakarnya. Asap putih melayang membawa pikiranku untuk kembali memaknai pernyataan Dyah, namun suara batuk disela tangis Dyah menyadarkanku kembali. “Apa karena kita berbeda maka kita tak mungkin bersama?”, “Apa karena mereka tak ingin kita satu maka kita tak mungkin menyatu?”, “Apa yang membuat kita beda sehingga kita tak mungkin menyatu?” tanyaku bertuni. Dyah menyeka air matanya, menarik nafas untuk menenangkan dirinya lalu menjawab perlahan “karena perbedaan kita, kita tak mungkin bisa menyatu. Karena persamaan kita, yang membuat kita berbeda”. Aku mulai mengerti maksudnya. Lalu Dyah melanjutkan lirih “karena aku perempuan dan kau juga perempuan, yang membuat kita menjadi berbeda annisa” ucapnya kepadaku. Dan hujan kembali turun, membasahi kota Jakarta. Itu sebabnya aku benci Jakarta, perbedaan disebut keharmonisan. Aku kembali menghisap rokokku dalam-dalam.

*Penulis adalah mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2006dan terdaftar sebagai  anggota LPM Media Publica. 

1,772 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.