Jakarta, Media Publica – Sebagai mahasiswa, Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau biasa disebut magang sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban yang harus dilakukan. Terlepas dari jurusan yang diambil, magang bisa menjadi penghubung antara dunia akademik dengan dunia profesional.

Dengan adanya program magang, mahasiswa dapat langsung merasakan pengalaman bekerja di dunia profesional dan belajar hal lain yang tidak dipelajari ketika masa kuliah. 

Umumnya, mahasiswa mulai menjalani magang dari semester 5 hingga semester 8. Tidak hanya dilakukan pada saat liburan, bisa pula saat pertengahan masa perkuliahan.

Namun, sebenarnya seberapa pentingkah magang bagi mahasiswa? Lalu apa saja tantangan yang dihadapi ketika magang dilakukan sembari berkuliah?

Manfaat Magang bagi Mahasiswa

Media Publica berhasil menghubungi dua orang mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (UPDM (B)) dari dua konsentrasi berbeda, yakni Dinda Anisya Damayanti (Periklanan 2018) dan Sarah Noor Putri Zamzami (Hubungan Masyarakat 2018). Mereka membagikan pengalaman dan kesan serta manfaat yang mereka dapatkan dari program magang.

Dalam sesi wawancara, mereka sepakat mengungkapkan bahwa magang sangat penting bagi mahasiswa. Selain menambah pengalaman, magang juga dapat mengembangkan wawasan dan kemampuan baru khususnya yang berkaitan dengan dunia kerja.

“Menurut aku, magang itu penting karena kan kita perlu buat pengalaman, gimana sih dunia kerja yang sebenarnya makanya ada yang namanya magang. Kalau kita benar-benar nol pengalaman nanti bakal kaget ketika sudah lulus terus kerja beneran.Terus juga buat nambah skill karena ada hal yang tidak kita dapat ketika di kampus tapi dapatnya di luar,” ungkap Sarah saat dihubungi Media Publica, Sabtu (14/8).

Sarah sendiri merasa ada perbedaan yang signifikan saat berkuliah dengan saat dalam kegiatan magang. Menurutnya, ada beberapa hal yang benar-benar diuji saat berada di dunia kerja, yakni kemampuan manajemen waktu, kedisiplinan, dan cara berkomunikasi dengan orang-orang lintas usia secara profesional.

Senada dengan Sarah, Dinda juga berujar bahwa sikap, perilaku, dan kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas sangat memengaruhi penilaian dirinya ketika magang. Ia mengatakan ketika mahasiswa magang diberi tugas namun tidak dapat mengerjakan dengan baik dan tepat waktu, maka akan sulit mendapat kepercayaan dari atasan dan dianggap kurang kredibel.

“Kerjanya harus profesional dan tepat waktu. Karena kalau anak magang sudah dilihat malas-malasan dan kerjanya lama, atasan pasti akan menilai buruk. Jadi susah juga kalau mau dipercaya sama orang lain,” jelas Dinda.

Sementara itu, mantan Human Resources (HR) Manager Satu Persen, Firdani Apriana, turut memberikan pandangannya akan pentingnya program magang bagi mahasiswa. Menurutnya, magang bisa menjadi nilai tambah mahasiswa di mata perusahaan ketika akan melamar pekerjaan.

“Magang itu penting karena bisa membedakan satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain. Ketersediaan pekerjaan pada saat ini bisa dibilang antara supply dan demand-nya tidak pas. Magang bisa jadi nilai tambah untuk para mahasiswa yang nantinya akan bersaing untuk mendaftar pekerjaan, baik itu pekerjaan intern-kah ataupun pekerjaan penuh waktu (full-time),” terang Firda saat diwawancarai secara daring pada Senin (16/8).

Pada dasarnya, magang dapat melatih mahasiswa agar siap mengimplementasikan ilmu yang ia pelajari selama berkuliah. Meski begitu, Firda tidak membenarkan mahasiswa harus mengikuti banyak program magang. Baginya, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. 

“Misal seseorang pernah magang satu atau dua kali, tetapi jika dalam magang tersebut sudah bisa meningkatkan hardskill dan softskill-nya, maka itu akan menjadi competitive skill yang orang tersebut miliki. Berbeda ketika memiliki pengalaman magang yang banyak, namun hal itu tidak berdampak pada peningkatan skill seseorang tersebut,” ungkapnya. 

Tantangan yang Dihadapi Mahasiswa Ketika Magang

Sebagai seorang mahasiswa yang masih aktif, tentu saja ada waktu di mana mahasiswa menghadapi tantangan ketika magang yang dilaksanakan bersamaan dengan kuliah. Hal ini pernah dirasakan oleh Sarah ketika magang di TopKarir, salah satu perusahaan rintisan (startup) yang fokus pada pengembangan karir anak muda Indonesia. Ia membagikan pengalamannya yang pernah merasakan lingkungan kerja startup yang cenderung asik namun memiliki beban kerja yang berat. 

“Di startup, kultur perusahaan dan lingkungannya lebih asik. Tetapi jangan salah, meskipun lingkungan perusahaannya lebih asik, namun pekerjaannya lebih berat hingga bisa overtime,” kenang Sarah. 

Selain beban kerja, tantangan lain yang dihadapi adalah membagi waktu antara kuliah dan magang. Menurutnya, meskipun sedang menjalani magang, kewajiban untuk melanjutkan perkuliahan harus tetap berjalan. Maka dari itu, kemampuan membagi waktu sangat penting agar kuliah dan magang dapat berjalan maksimal.

“Harus pintar-pintar mengatur waktunya. Bagaimana caranya kuliah dan magang bisa seimbang. Gimana caranya harus tanggung jawab dua-duanya. Tidak bisa salah satu ditinggalin,” tuturnya. 

Hampir mirip dengan Sarah, Dinda yang saat ini tengah magang di Zeals Asia mengaku tantangan yang dihadapinya adalah harus beradaptasi dengan lingkungan kerja dan mampu membagi waktu antara magang dengan kuliah. Namun, seiring berjalannya waktu, ia malah terbiasa melakukan banyak kesibukan dan merasa kurang produktif jika hanya mengisi waktunya dengan kuliah saja. 

Baginya, magang merupakan wadah untuk belajar dan mencari pengalaman. Maka dari itu, berbagai tantangan dan kesalahan itu wajar dihadapi namun hal itulah yang membuat seseorang berkembang.

“Yang penting memang dari diri sendiri mau belajar dan mencari pengalaman. Jangan hanya melihat perusahaan ini bagus atau besar, itu harus dihindari sih menurut aku. Soalnya kalau mau cari yang bagus-bagus terus nanti enggak dapat dan enggak maju-maju. Coba dari yang kecil, pelan-pelan ada langkah-langkahnya,” tuturnya.

Tips agar Diterima Magang

Sebagai seseorang yang pernah menjadi rekruter, Firda membagikan beberapa tips yang perlu diperhatikan mahasiswa dalam mendapatkan tempat magang. Menurutnya, penting sekali bagi mahasiswa zaman sekarang untuk memiliki portofolio.

Portofolio sendiri tidak harus berupa karya, namun bisa juga berbentuk aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan ketika berkuliah seperti menjadi relawan, mengikuti kompetisi, menjadi asisten dosen, kepanitiaan, dan prestasi-prestasi lainnya. 

“Kepanitiaan, organisasi, nilai, hingga prestasi bisa mendukung. Volunteer itu juga termasuk, karena ketika seseorang menjadi relawan, mereka turut menuangkan kemampuan-kemampuan tertentu dan itu melatih kemampuan berorganisasi dan bekerja sama dengan orang lain,” ucap Firda.

Firdani Apriana ketika diwawancarai Media Publica secara daring melalui aplikasi Google Meeting, Senin (16/8). (Foto: Media Publica/Siska)

Tak kalah penting, Firda juga menyarankan untuk mahasiswa dapat mengenal latar belakang perusahaan, nilai yang dianut, visi dan misi perusahaan, hingga kultur budaya kerja di perusahaan yang dituju. Selain itu, kemampuan untuk berpikir kritis dan tidak malu bertanya kepada atasan juga penting guna menghindari kesalahan saat sedang magang. 

“Jangan takut untuk bertanya karena kadang anak magang masih bingung. Kalau diam-diam saja, pekerjaan juga tidak tuntas. Atasan juga jadi bertanya-tanya. Jadi harus banyak komunikasi,” tuturnya. “Kalau tidak tahu, tanya. Karena belum tentu apa yang kita tahu itu apakah sudah seratus persen benar sesuai dengan implementasinya di tempat kita magang.”

Firda juga menilai penting untuk membangun hubungan dan relasi dengan orang-orang di sekitar khususnya rekan kerja di lingkungan magang.  Dengan membangun hubungan baik dengan rekan kerja saat magang, mahasiswa sangat berpotensi untuk direkrut kembali menjadi karyawan ketika masa magangnya berakhir. 

Di akhir sesi wawancara, dirinya berpesan kepada mahasiswa akan pentingnya mengenal diri sendiri dan memanfaatkan waktu masa kuliah sebaik mungkin. Dengan mengenal diri sendiri, tentu akan memudahkan mahasiswa dalam menghadapi sesi interviu magang. Selain itu, dengan mengenal diri sendiri mahasiswa akan mudah mengembangkan sisi unggul dalam dirinya. 

Lebih lanjut, memanfaatkan waktu sebaik mungkin saat berkuliah dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti mengikuti kursus, webinar, organisasi, atau kepanitiaan. Menurut Firda, selagi masih berkuliah mahasiswa harus banyak melakukan eksplorasi diri.

Hal ini dinilai dapat meningkatkan potensi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi berbagai kesempatan dan tantangan di masa depan termasuk bidang pekerjaan baik yang sejalan maupun tidak sejalan dengan latar belakang pendidikan. 

“Manfaatkan waktu kuliah itu dengan sebaik-baiknya. Karena ketika sudah lulus kuliah, kita belum tentu punya opportunity seluas saat kuliah. Kenali diri sendiri supaya tahu kedepannya mau gimana. Dan juga jangan lupa tetap balance antara akademik dengan kegiatan di luar kelas,” tutupnya.  

Reporter: Fransiska Angelina Widiyanti dan Salsabila Rahma Saputra

Editor: Kevino Dwi Velrahga

 402 total views,  4 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.