Jakarta, Media Publica – Dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir, Prancis mengalami serangkaian teror yang mengerikan. Terjadi dua insiden pembunuhan dan satu insiden penusukkan yang menyebabkan masyarakat luka-luka dan hilangnya beberapa nyawa.

Salah satunya serangan di Gereja Notre Dame Basilica yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 21 tahun. Ia menusuk dan membunuh tiga orang yang berada di gereja tersebut tanpa motif yang jelas.

Seperti dilansir BBC, remaja bernama Brahim Aioussaoi itu tidak mengatakan sepatah kata pun ketika ditangkap kepolisian setempat. Ia hanya mengancam pihak aparat dan terus mengumandangkan takbir.

“Ketika polisi tiba, tersangka mendekati aparat dan mengancam keberadaan mereka. Setelah itu, dia berulang kali mengatakan ‘Allahu Akbar’ di hadapan para polisi,” ujar Jean-Francois Ricard, Jaksa Anti-Terorisme Prancis, Sabtu (30/10). 

Diduga Serangan yang dilakukan remaja asal Tunisia itu merupakan buntut dari pernyataan keras Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mengutuk terorisme kaum fundamentalis Islam.

Sebelumnya, Macron sempat menyampaikan beberapa hal mengenai terorisme saat berpidato di Les Mureaux, Prancis, awal Oktober lalu. Ia menilai beberapa serangan terorisme yang terjadi di Prancis didalangi oleh umat Islam.

Warga Prancis bela penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kebebasan berekspresi. (Foto: Vox.com)

Selain itu, Macron mengatakan Islam merupakan agama yang sedang mengalami krisis. Sehingga diperlukan rancangan undang-undang yang lebih tegas untuk menangkal “separatisme Islam” di Prancis.

Ia tidak ingin paham agama yang diajarkan Islam terus menguat dan mempengaruhi sekularisme Prancis. Sebab, Prancis sangat menjunjung tinggi paham tersebut.

Macron berdalih semua ini demi keamanan dan kenyamanan warga Prancis untuk melakukan berbagai hal. Ia tidak ingin masa kelam di masa lalu terbuka kembali karena adanya hal ini.

Seperti diketahui, negara-negara di Eropa pada abad pertengahan mengalami kemunduran akibat adanya dominasi gereja. Waktu itu, Katolik memegang penuh kendali dan segala aktivitas negara.

Akibatnya, banyak negara di Eropa termasuk Perancis mengalami keruntuhan secara perlahan karena pikiran dan kreativitas mereka dibelenggu oleh gereja. Mereka tidak ingin “trauma” masa lalu terulang karena menaruh agama di atas segalanya.

Laicite dan Revolusi Prancis

Pasca kemerdekaan berpikir bisa diraih dari belenggu gereja, tokoh-tokoh besar Prancis mulai memikirkan paham baru yang bisa dianut masyarakat. Kemudian, lahirlah paham sekularisme atau lebih dikenal dengan nama laicite di Prancis.

Laicite merupakan kebebasan untuk percaya atau tidak percaya kepada suatu agama, tetapi paham agama itu tidak dimasukkan ke dalam urusan politik ataupun negara. Sehingga negara bebas dari pengaruh tokoh agama tertentu dan bisa memutuskan secara mandiri apa yang ingin diperbuat.

Selain itu, laicite adalah perwujudan dari revolusi perancis yang terdiri atas tiga dasar. Pertama liberte (kebebasan), kedua egalite (keadilan) dan yang terakhir fraternity (persaudaraan).

Meskipun paham ini tidak memasukkan urusan agama dalam menjalankan roda pemerintahan, tetapi laicite menjamin penuh masyarakatnya bila menganut salah satu agama di Perancis.

Hanya saja agama tersebut tidak boleh mengganggu kegiatan perusahaan maupun pekerjaan yang dijalani. Sehingga bagi penganut agama khususnya Islam harus pintar mencari waktu untuk menjalankan ibadah lima waktu.

Anti Islam

Meski negara yang menganut paham sekularisme memegang teguh keberagaman, tetapi sebagian pihak menilai sekularisme hanya paham yang digunakan sebagai tameng anti Islam.

Umat Islam di berbagai penjuru dunia berbondong-bondong memboikot produk asal Prancis akibat pernyatan keras Presiden Emmanuel Macron. (Foto: Independent.co.uk)

Seperti diungkap Danubhrata Baihaqi, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Prancis, ia mengatakan sekularisme cenderung melindungi oknum yang menyuarakan Islamofobia.

“Mereka berlindung dibalik sekularisme untuk membungkam suara Islam di Prancis. Terkadang kebebasan berekspresi disalahgunakan oleh masyarakat Prancis itu sendiri,” ucapnya kepada Media Publica, Minggu (1/11).

Lebih lanjut, mahasiswa yang menempuh ilmu di Aix-Marseille University itu mengungkap adanya stigma negatif kepada agama Islam, khususnya bagi mereka yang memiliki perawakan timur tengah.

Ia mengaku pernah melihat dua wanita berparas Arab dipukul karena meminta orang di dekatnya untuk menjauhi peliharaan anjingnya dari tempat ia duduk. Tapi, bukan keramahan yang didapat, ia malah mendapat pukulan dari orang tersebut.

“Dia cuma minta anjingnya untuk tidak dekat-dekat dengan dirinya, tapi dia salah kaprah dan memukul. Ada juga kejadian lain, waktu itu dua orang pria ngomong pakai bahasa Arab, tiba-tiba dia juga dipukul tanpa sebab,” paparnya. 

Ia juga menilai pidato yang disampaikan Macron tidak melihat dari dua sisi. Ia hanya melihat sisi radikalisme yang diciptakan oleh oknum yang menganut agama Islam. 

Padahal, di sisi lain ada warga Prancis yang bersembunyi di balik paham sekularisme dan melakukan tindakan Islamofobia. Oleh karena itu, ia berharap Macron bisa membedakan mana kebebasan berekspresi dan tindakan berbahaya.

Sumber: BBC

Reporter: Dzaky Nurcahyo

Editor: Media Publica

 336 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.