Media Publica – Seksisme atau diskriminasi berbasis seks dan gender kerap kali dialami perempuan. Hal ini berawal ketika adanya stereotip gender dalam masyarakat yang menganggap perempuan tidak bisa mengerjakan sejumlah hal yang dilakukan laki-laki.

Namun, hal itu justru menjadi titik balik bagi kaum perempuan di beberapa wilayah untuk bangkit memperjuangkan haknya. Salah satunya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus berada di garda depan menegakkan keadilan.

Dalam film dokumenter berjudul ‘Tanah Ibu Kami’, jurnalis investigasi independen Febriana Firdaus berkeliling Indonesia untuk mencari tahu tentang perempuan pemimpin pergerakan di beberapa wilayah dan apa yang terjadi pada mereka setelah tidak lagi menjadi sorotan.

Terdapat lima tokoh perempuan pejuang yang ditampilkan, antara lain Sukinah (petani Kendeng), Lodia Oematan (warga Desa Fatumnasi), Aleta Baun (aktivis lingkungan di Nusa Tenggara Timur), Eva Bande (pembela hak asasi manusia petani Toili) dan Farwiza Farhan (aktivis lingkungan sekaligus pendiri organisasi HakA). Menurut Febriana, ia terinspirasi membuat film ini karena narasumbernya merupakan sosok perempuan yang memiliki semangat luar biasa untuk melindungi lingkungan.

Adegan Aleta Baun sosok perempuan pejuang lingkungan di Timur Indonesia. Ia sedang membagikan kisahnya pada Febriana terkait pentingnya melestarikan lingkungan dan belajar dari alam untuk memperkaya pengetahuan. (Foto: Ubud Writers and Readers Festival)

“Saya pikir anak muda juga terinspirasi dengan mereka. Saya mencoba memahami karena selama ini kita bicara soal perempuan di kota yang smart dan sebagainya, tetapi ini adalah ibu-ibu yang sederhana. Ibu rumah tangga, tetapi mereka punya semangat melindungi tanah dan lingkungan yang luar biasa,” ujar Febriana dalam sesi diskusi daring pasca pemutaran Film Tanah Ibu Kami, Kamis (29/10).

Febriana menuturkan, cerita tentang perjuangan komunitas melawan perusahaan cukup jamak terjadi di Indonesia. Kehidupan orang di daerah menjadi terdampak oleh perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi alam di wilayah mereka. Bahkan tak jarang perusahaan yang mengeksploitasi alam ini mendapat dukungan pemerintah.

Kendati mengalami tindak represif masif dari negara, baik luka fisik maupun psikologis, perempuan-perempuan pejuang ini tetap melawan dan memimpin pergerakan di garda depan. Salah satunya seperti diceritakan oleh Lodia Oematan saat aksi perlawanan rakyat Mollo di Nusa Tenggara Timur yang menentang pertambangan marmer.

Adegan Lodia Oematan saat menceritakan perjuangannya di Pegunungan Mollo, Nusa Tenggara Timur, dengan cara menenun di atas batu bersama para perempuan Mollo lainnya untuk menghadang aparat. (Foto: Ubud Writers and Readers Festival)

Pada akhir 1990 dan 2000, ratusan perempuan menduduki pegunungan Mollo untuk melindungi mereka dari perusahaan pertambangan. Bagi penduduk asli Mollo, gunung tersebut sakral. Para perempuan kemudian membawa alat tenun mereka ke pegunungan selama berminggu-minggu sebagai bentuk upaya menahan investor. Lodia Oematan termasuk di antaranya yang melakukan aksi menenun di atas batu untuk menghadang aparat.

Ancaman kekerasan, pemenjaraan dan kematian menjadi hal yang mau tak mau harus siap dihadapi saat melakukan aksi penolakan. Hal ini bisa saja menjadi peristiwa traumatis bagi sejumlah orang.

Sebagai jurnalis, Febriana menjelaskan perlu adanya kesetaraan gender, baik pada saat menulis berita maupun di ruang redaksi. Hal ini terkait proses pendekatannya dengan narasumber pada saat melakukan wawancara. Terutama untuk membuka hal traumatis dalam perjuangan para perempuan yang diceritakan pada film ini.

“Karena untuk mewawancarai perempuan dengan isu sensitif seperti ini akan lebih baik diwawancara oleh perempuan juga. Barusan saya kembali dari Gecko meliput tentang malnutrisi di Papua. Editor sengaja mengirim reporter perempuan supaya bisa mendekati ibu-ibu. Saya rasa ini bukan masalah skill wawancara tapi naluriah sebagai perempuan saya terhubung dengan dia,” ungkapnya.

Selain itu, etika jurnalistik dalam meliput berita duka diperlukan untuk menunjukkan sikap empati dan memiliki kepekaan terhadap korban.

Media Publica berkesempatan menyaksikan pemutaran perdana film ini pada acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) beberapa waktu lalu. Adapun film produksi The Gecko Project dan Mongabay ini baru bisa disaksikan untuk umum pada Senin, 2 November 2020 pukul 19.00 WIB di kanal YouTube The Gecko Project.

Peresensi: Ranita Sari

Editor: Media Publica

 834 total views,  6 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.